Bab 20 : Awal kehancuran

20 2 0
                                        

Zefan akhirnya tiba di rumahnya. Ia mengeluarkan kunci dari saku jaket, lalu membuka pintu dengan sangat hati-hati, seolah takut suara engsel yang berdecit bisa membangunkan seluruh isi rumah. Begitu pintu tertutup kembali di belakangnya, ia menghembuskan napas lega. Rumah itu sunyi, hanya lampu ruang tengah yang masih menyala redup, memberi kesan hangat sekaligus menenangkan setelah hari yang panjang.

Ia melangkah perlahan, melepas sepatu dan meletakkannya rapi di rak. Baru beberapa langkah menuju kamarnya, sebuah suara membuat tubuhnya seketika menegang.

"Zefan?!"

Zefan terpaku. Ia menoleh pelan dan mendapati sang ibunda, Eris, berdiri di ambang pintu ruang tengah. Rambutnya tergerai sederhana, mengenakan cardigan tipis, dengan sorot mata yang langsung menilai, campuran antara khawatir dan kesal.

Zefan refleks tersenyum, senyum khas yang biasanya ampuh meluluhkan amarah. Ia melangkah mendekat. "Dari mana kamu? Jam segini baru pulang," suara Eris terdengar tegas.

"Hehe... maaf, Bun," ucap Zefan sambil menggaruk tengkuknya. "Tadi ada urusan sebentar."

Eris menarik napas panjang, jelas berusaha menahan omelan yang sudah mengendap sejak tadi. "Kamu tuh kebiasaan banget ya. Kalau mau ke mana-mana, kabarin Bunda. Jangan bikin Bunda kepikiran."

"Iya, Bun. Maaf," jawab Zefan dengan wajah memelas yang dibuat-buat. Ia lalu terdiam sejenak, rautnya berubah lebih serius. "Bun... ada yang mau Zefan ceritain."

Eris menatap putranya lekat-lekat, menangkap perubahan nada itu. "Apa?" tanyanya, kini lebih waspada.

"Bunda jangan marah dulu ya. Dengerin cerita Zefan sampai selesai," ucap Zefan. Eris mengangguk kecil.

Zefan menarik napas dalam. "Zefan udah nemuin kebenaran soal masalah Zefan di sekolah lama. Zefan ketemu orang yang bikin semua berita itu. Dia jelasin semuanya, Bun. Bukan cuma cerita, tapi juga bukti." Ia berhenti sejenak, memastikan ibunya masih mendengarkan. "Besok, Zefan punya rencana buat ngebongkar semua itu. Bareng teman-teman Zefan."

Eris terdiam. Wajahnya tampak terkejut, kenangan lama jelas kembali menghantam pikirannya, hari-hari ketika nama anaknya tercoreng, ketika Zefan pulang dengan tatapan kosong dan akhirnya harus pindah sekolah demi menyelamatkan dirinya sendiri.
"Kamu yakin itu bukan tipuan?" tanya Eris, suaranya melembut namun penuh kekhawatiran. "Bunda nggak mau kamu kenapa-kenapa lagi."

Zefan mengangguk mantap. "Zefan yakin, Bun. Orang itu juga korban. Dia berani maju sekarang karena udah nggak tahan lagi. Dan dia bawa bukti lengkap." Ia lalu menunduk sedikit. "Zefan juga mau minta tolong. Besok Zefan nggak masuk sekolah dulu. Izin udah beres. Tapi Zefan butuh bantuan Bunda buat ngomong ke Ayah."

Eris menghela napas panjang, lalu menatap putranya dengan mata yang sarat emosi. "Sebenernya Bunda nggak mau kamu terlibat ribut-ribut lagi," ucapnya jujur. "Tapi Bunda juga ngerti. Ini soal harga diri kamu." Eris mengangguk pelan. "Bunda dukung kamu. Soal Ayah, biar Bunda yang jelasin."

Wajah Zefan langsung melunak. Ia tersenyum lebar dan memeluk Eris erat, seperti anak kecil yang akhirnya mendapat restu. "Makasih, Bun. Makasih udah percaya sama Zefan."

Eris membalas pelukan itu, menepuk punggung putranya pelan. "Kamu istirahat sekarang. Udah malam. Jangan sampai Ayah kamu kebangun."

Zefan mengangguk patuh. Ia mencium pipi Eris singkat. "Selamat malam, Bunda," ucapnya dengan senyum manis, sebelum berlari kecil menuju kamarnya, menahan langkah agar tetap sunyi.

Eris menatap punggung anaknya yang menghilang di ujung lorong. Senyum hangat terukir di wajahnya, senyum seorang ibu yang bangga, sekaligus cemas. Ia tahu, besok bukan hari yang mudah. Tapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa Zefan akhirnya siap menutup luka lama dengan kebenaran.

A&ZTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang