Bab 16 : Pengakuan

25 1 0
                                        

Zefan keluar dari kamarnya dengan langkah nyaris tanpa suara. Jam dinding di lorong rumah menunjukkan pukul sebelas malam, waktu yang seharusnya dihabiskan untuk tidur, bukan untuk menyelinap keluar rumah. Ia berjalan perlahan menuju pintu utama, menahan napas setiap kali lantai kayu berderit pelan di bawah telapak kakinya.

Sekilas ia melirik ke arah kamar kedua orang tuanya. Pintu tertutup rapat, tak ada celah cahaya yang keluar. "Bagus," gumamnya. "Udah pada tidur."

Zefan terus melangkah hingga ke garasi. Motor yang akan ia pakai malam ini sudah menunggu, terparkir rapi seolah ikut bersiap. Ia tidak langsung menyalakannya. Dengan hati-hati, ia mendorong motor itu keluar dari pekarangan rumah, melewati pagar tanpa menimbulkan suara berlebihan. Baru setelah jarak rumah terasa cukup aman, ia mengenakan helm dan menyalakan mesin.

Deru motor memecah keheningan malam. Zefan melaju menuju rumah Leo, membiarkan angin malam menerpa wajahnya. Jalanan relatif sepi, hanya beberapa kendaraan lewat dengan kecepatan malas. Dua puluh menit kemudian, ia sampai di rumah Leo. Motor-motor lain sudah berjajar di garasi, deretan besi dan mesin yang familiar.

"Nyampe juga lo," sapa Leo begitu Zefan masuk ke dalam rumah.

"Biasa," balas Zefan sambil menjatuhkan tubuhnya di sebelah Edgar. "Keluar jam segini harus ekstra hati-hati."

Edgar menoleh, "kusut banget itu muka. Senyum dikit lah," ujar Edgar.

Zefan menghela napasnya, "ya.... lo tau sendiri lah." Edgar tersenyum lalu merangkul sahabatnya itu, mecoba memberikan semangat.

Zefan menoleh ke arah Oki dan Sam yang sibuk bercermin, memastikan jaket dan helm mereka terlihat keren. "Oki, Sam. Lo berdua semotor saja," ucap Zefan.

"Lah? Kenapa, Zef?" protes Oki.

"Dih, ogah banget gue semotor sama si Oki," sahut Sam cepat sambil manyun.

"Siapa juga yang mau sama lo, Samsudin," balas Oki sengit.

"Udah," potong Zefan tegas. "Berantemnya nanti aja. Sekarang nurut."

Oki dan Sam langsung berdiri tegak seperti tentara kena komando. "Siap, Pak!" ucap mereka kompak sambil memberi hormat berlebihan.

Leo dan Edgar langsung tertawa terbahak. Zefan pun ikut tertawa kecil, bahunya sedikit mengendur. Untuk sesaat, ketegangan di dadanya berkurang. Namun di balik tawa itu, ada sesuatu yang terus mengusik pikirannya. Entah kenapa, malam ini terasa berbeda.

Mereka berlima bersiap, lalu bergerak menuju garasi tempat motor-motor mereka terparkir rapi. Deretan mesin besi itu seolah sudah menunggu, dingin namun siap dilepaskan ke jalanan malam. Zefan mengenakan helmnya, menyalakan motor, lalu memberi isyarat singkat sebelum melaju lebih dulu menuju lokasi yang telah ditentukan.

Di sepanjang perjalanan, Oki dan Sam, yang terpaksa berada di motor yang sama tidak berhenti membuat keributan. Suara nyanyian fals bercampur tawa dan saling ejek menggema di antara deru mesin.

"WOI, SAM! SUARA LO KAYAK MESIN JAHIT!" teriak Oki.

"DIAM! INI SUARA EMAS!" balas Sam tanpa dosa.

Leo dan Edgar hanya menggeleng pasrah, sementara Zefan tetap fokus di depan, pikirannya sudah tertuju pada balapan malam itu.

Akhirnya mereka tiba di tempat balapan itu. Sebuah lintasan gelap di pinggir kota, hanya diterangi lampu motor, lampu sorot seadanya, dan cahaya rokok yang menyala di tangan para penonton. Puluhan orang sudah berkumpul, berdesakan di sisi lintasan, menunggu satu nama yang sejak tadi dibicarakan dengan nada penuh antusias ZELOS.

Zefan menghentikan motornya. Dari balik helm, matanya langsung menangkap sosok lawan yang berdiri di seberang, dikelilingi gengnya sendiri. Tatapan mereka bertemu, datar, dingin, dan tajam. Tak ada senyum, tak ada basa-basi. Hanya dua predator yang saling mengukur.

A&ZTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang