Zura tiba di depan rumah saat langit mulai berwarna jingga keabu-abuan. Sore itu terasa lebih sunyi dari biasanya, seolah ikut membawa pulang semua pikiran yang sejak siang tadi berputar di kepalanya. Ia membuka pagar pelan, lalu melangkah masuk dengan langkah lesu.
Begitu pintu dibuka, suara televisi langsung menyambutnya. "Kak Zura!" Zira berlari kecil dari ruang tengah untuk memeluknya, rambutnya masih sedikit berantakan, seragam sekolahnya sudah berganti kaus rumah. Senyum bocah itu selalu punya cara sendiri untuk meruntuhkan lelah Zura.
"Udah pulang?" tanya Zira ceria sambil memeluk Zura.
"Udah," jawab Zura sambil tersenyum tipis. Ia menurunkan tasnya dan mengacak pelan rambut Zira. "Kamu dijemput Kak Revaldi, ya?"
Zira mengangguk antusias. "Iya! Kak Revaldi beliin aku roti cokelat. Terus dia nanya kakak pulangnya jam berapa."
Zura terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Oh... gitu."
Mereka duduk di sofa. Zira kembali menatap layar televisi, sementara Zura menyandarkan punggungnya, menatap kosong ke depan. Kepalanya masih dipenuhi bayangan mobil yang melaju pergi sore tadi, senyum perempuan asing, dan tatapan Zefan yang terakhir ia lihat.
"Kakak capek?" tanya Zira tiba-tiba, menoleh ke arahnya.
Zura tersenyum kecil. "Dikit."
"Di sekolah kenapa, Kak?" Pertanyaan itu sederhana, tapi cukup membuat Zura menarik napas lebih dalam.
"Nggak kenapa-kenapa," jawab Zura. "Cuma banyak mikir aja."
Zira mengangguk seolah mengerti, lalu mendekat dan menyandarkan kepala di lengan Zura. "Kakak jangan kebanyakan mikir. Nanti pusing."
Zura tertawa pelan. "Iya, dokter kecil."
Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang hangat. Setelah itu, Zura berdiri dan meraih tasnya. "Kakak mau ke kamar dulu ya. Kalau laper, bilang."
"Iya, Kak," jawab Zira tanpa menoleh, sudah kembali fokus ke acara televisinya.
Zura melangkah menuju kamarnya. Begitu pintu tertutup, senyum tipis di wajahnya perlahan menghilang. Ia menjatuhkan diri ke atas kasur, menatap langit-langit kamar yang familiar namun terasa asing sore ini.
Pikirannya kembali berkelana, tentang Zefan, tentang jarak yang tercipta, dan tentang perasaan yang belum juga menemukan nama. Zura memejamkan mata, membiarkan sunyi kamar memeluknya, berharap malam nanti pikirannya bisa sedikit lebih tenang.
•••••
Warung kopi itu tidak pernah benar-benar sepi, tapi sore itu terasa lebih berisik dari biasanya. Meja panjang di pojok warung sudah dikuasai penuh oleh geng Zelos. Zefan, Edgar, Leo, Oki, dan Sam, dengan gelas minuman beraneka rupa yang isinya sudah berkurang setengah. Asap rokok tipis mengepul, bercampur aroma kopi hitam dan gorengan yang baru diangkat dari wajan.
Sena duduk di samping Zefan. Tangannya memeluk tas kecil, wajahnya terlihat sedikit tegang, tapi berusaha santai. Tadi dialah yang menjemput Zefan, dan sejak sampai di warung ini, rasanya seperti sedang duduk di tengah ruang sidang.
"Jadi," Edgar membuka pembicaraan sambil mengetuk-ngetuk meja pakai sendok, "kita sepakat ya. Misi kita satu, bersihin nama Zefan. Target utama, Saga si malaikat palsu."
"Setuju," sahut Sam cepat. "Malaikat tapi sayapnya dari kardus bekas."
Leo mengeluarkan senyuman khas nya. "Kardus Indomie."
Zefan mendengus pelan. "Fokus, anjing."
Sena menahan senyum, lalu mengangkat tangan sedikit, ragu-ragu. "Gue... sebenarnya udah nyiapin semua buktinya." Semua kepala langsung menoleh ke arah Sena, gerakannya hampir bersamaan. "Video, chat, voice note, sama rekaman percakapan gue sama kak Saga. Semuanya masih lengkap," lanjut Sena pelan.
KAMU SEDANG MEMBACA
A&Z
Ficção Adolescente"Lo cantik, lo harus jadi cewek gue." "Cowok gila!" Ini kisah tentang si A dan si Z, yang penuh dengan tantangan dan rintangan, penuh air mata dan kebahagiaan
