Scene berlanjut menunjukkan 2 pemain yang maju bersamaan untuk menghadang Dion. Tapi seolah tak terganggu, Dion dengan mudah men-dribble bola berpindah ke tangan kiri dan kanannya secara bergantian dengan sangat cepat, bahkan terkadang memantulkan bola diantara kedua kakinya.
Tangannya sangat cepat hingga bola hampir tak terlihat. Hal ini membuat kedua pemain yang menghadang Dion dengan ketat mau tak mau berjuang keras mengikuti setiap tempat Dion memantulkan bola. Mereka mirip seperti kucing yang mencoba menangkap sinar laser.
"Itu teknik Crossover dan Between the leg yang mulus! Kecepatannya bagus. Kecepatan ini setidaknya perlu latihan minimal 10 tahun."
Ayah Diba yang tiba-tiba menjadi komentator membuat suasana menonton drama berubah menjadi menonton pertandingan basket.
"Tapi tetap saja dia menunjukkan celah disana."
Seolah bisa melihat celah yang sama, salah satu dari 2 pemain yang menghadang Dion akhirnya mencoba mencuri bola memanfaatkan celah itu. Sayangnya sejak awal itu bukan celah, melainkan tipuan yang sudah direncanakan.
Saat tangan pemain itu akan segera menggapai bola. Seolah sudah menunggu. Tangan kanan Dion yang sedari tadi sibuk melakukan dribbel, bergerak ke samping dengan tiba-tiba. Hal ini membuat bola memantul ke belakang tubuh Dion dan dengan secepat elang tangan kiri Dion menyambar bola itu. Gerakannya sangat mulus dan indah. Lawan yang mencoba mencuri bola darinya jatuh meluncur ke depan seolah menyelam di laut.
"Wow! Itu Wrap around yang tak terduga. Bukannya ini akting? Ankle break-nya terlihat seperti sungguhan dan tidak dibuat-buat. Sepertinya sutradara aksi bekerja keras membuat adegan ini. Tapi aktornya juga hebat karena bisa membuatnya terlihat sangat alami seolah adegannya tidak di setting."
Diba dan ibunya mengangguk kagum sedangkan ayahnya terlihat menggaruk dagu seolah berpikir mendalam.
Sementara itu, pemain penghadang yang tersisa tetap tak menyerah. Justru malah terlihat semakin bersemangat. Dia mencoba mengikuti setiap inchi pergerakan Dion. Sialnya, Dion memainkan tipuan lainnya. Lawan yang mencoba berganti arah mengikuti Dion mau tak mau dibuat split di lapangan basket.
"Hahaha. Split selalu menjadi ankle break yang menyakitkan sekaligus memalukan."
Scene ini sukses membuat ketiga orang itu tertawa terpingkal-pingkal. Tapi, suara tawa tak terdengar dari rumah mereka saja. Dari rumah tetangga mereka juga terdengar suara tawa yang meledak. Tapi mereka mengabaikannya karena sibuk menonton permainan hebat Dion yang setingkat atlet profesional.
Tentu saja, kejutannya belum berakhir sampai sini. Para pemain yang tersisa mencoba menghadang Dion. Dion yang saat ini terkepung oleh 6 orang sekaligus tak membuatnya menurunkan kecepatannya sedikit pun.
"Tapi kenapa dia bermain seolah melawan seluruh pemain? Basket itu permainan tim! Apa mereka sedang dalam pemilihan ketua Tim?"
Ayah Diba berpikir pertandingan ini untuk memilih ketua Tim. Dimana mereka semua bermain solo, dan siapapun yang berhasil mencetak poin terbanyak akan resmi menjadi ketua tim. Itu satu-satunya alasan yang masuk akal. Karena tidak mungkin ada permainan basket dimana 1 orang melawan 9 orang yang lain. Yah, tentu saja Ayah Diba tidak tahu, karena dia tak ada di lokasi syuting saat itu.
Tapi Ayah Diba tak ingin ambil pusing dan kembali fokus menonton drama.
Selanjutnya, Dion dengan mudah menipu pemain pertama dengan langkah tipuan. Dia mencondongkan tubuh ke kiri seolah akan melakukan Drive ke kiri. Tapi tiba-tiba malah melangkah lebar ke kanan membuat pemain defender tersentak dan segera merubah arah. Tapi belum sampai satu senti kaki pemain itu ke kanan, Dion secepat kilat bertolak ke arah kiri lagi. Hal ini membuat defender pertama terpeleset dan jatuh, dia baru saja tertipu dua kali. Dia bahkan mengalami ankle break tanpa Dion harus melakukan satupun dribbel.
"Bukankah artis ini harusnya menjadi atlet basket? Bahkan jika itu akting, ankle breaking bukan hal yang mudah dilakukan. Dia membuat ankle breaking terlihat sangat mudah seperti meludah!"
Ayah Diba hanya bisa takjub. Aktor ini memiliki potensi besar, yang jika diasah akan menjadi sangat luar biasa. Dia bahkan sedang berpikir apakah bisa mengajarkan artis ini secara langsung dan membuatnya menjadi atlet timnas.
Lalu seolah menambah keyakinan Ayah Diba. Dion menunjukkan aksi hebatnya lagi. Dengan memanfaatkan kecepatan kaki dan teknik dribbel-nya. Dion bergerak seperti seekor belut yang sangat licin. Membuat kedua pemain yang menghadangnya saling bertabrakan karena sama-sama mencoba memblok Dion yang memiliki segudang teknik tipuan.
Ini ankle break kesekian kalinya oleh Dion. Ayah Diba sekarang menjadi sangat yakin. Aksi aktor ini bukannya akting settingan, dia memang jago basket. Fix, dia harus menjadikan aktor ini muridnya dan memasukkannya ke dalam timnas. Sementara itu Diba dan Ibunya yang terlalu semangat tak sadar sudah berdiri dan menjadi pemandu sorak dadakan.
Sekarang akhirnya Dion sudah memasuki garis penalti. Kali ini ada tiga pemain defender yang menghadang Dion.
"Nah, bagaimana kau akan menghadapinya kali ini?"
Dan seolah menjawab pertanyaan itu. Dion segera men-dribble dengan kuat menggunakan tangan kanannya sambil memiringkan bahu kirinya dan kaki kirinya ke kanan. Membuat Dion seolah membelakangi para defender, lalu secepat kilat Dion berputar 360° searah jarum jam dan melesat meninggalkan para defender yang mematung karena sedang memproses apa yang sedang terjadi.
Diba dan ibunya bersorak-sorai bersamaan. Sedangkan Ayah Diba yang tiba-tiba melompat dari duduknya segera mengucek matanya. Dia yakin dia tak salah lihat. Yah, itu teknik spin move yang sangat keren dan cepat oleh Dion. Bahkan mampu meloloskannya dari kepungan 3 defender sekaligus.
"Apa yang barusan aku lihat? Spin move?"
Sekarang Ayah Diba bahkan tak bisa lebih syok lagi. Spin move adalah teknik yang sulit dilakukan bahkan oleh atlet hebat sekalipun. Tapi Dion di layar melakukannya dengan sangat mulus seolah tanpa beban. Tak salah lagi, Dion adalah seorang jenius basket. Bagaimana pun caranya dia harus memasukkannya ke Timnas.
Sekarang Dion yang melihat ring di depan mata tanpa ba bi bu segera melakukan lay up. Kaki kanan Dion melayang di udara seirama dengan tangan kanannya yang ikut melayangkan bola dengan mulus ke arah ring.
Diba, Ayah dan Ibunya saat ini sudah berdiri di depan TV seolah-olah akan melahap TV. Mulut mereka terbuka lebar hingga bahkan mampu menampung ratusan lalat. Mata mereka kompak mengikuti arah bola di udara. Mereka sudah siap berteriak jika bola masuk. Tapi saat itulah scene tiba-tiba berubah, memperlihatkan pria berambut panjang dan lebat sedang memakai shampo.
Keluarga Diba segera memproses apa yang sedang terjadi.
[Apa lu lihat-lihat?]
Pertanyaan dari pria di iklan itu sukses membuat keluarga Diba yang tadinya mematung menjadi tersadar dan emosi seketika.
"Lu yang apa! Dasar pekok!"
Segala macam jenis binatang keluar dari mulut Ibu Diba. Sedangkan Diba sedang berjuang sekuat tenaga menahan Ayahnya agar tidak meninju TV yang tidak bersalah.
Setelah iklan shampo itu berakhir. Akhirnya ketiga orang itu berteriak bersamaan. Teriakan mereka sangat keras hingga rasanya mengalahkan kerasnya toa mesjid. Tetapi mereka tak perlu khawatir akan mengganggu tetangga, karena tetangga mereka pun berteriak bersamaan dengan mereka. Sepertinya seluruh tempat sedang menonton drama yang sama saat ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Be A Superstar
FantasyApa jadinya jika kau yang baru bangun tidur mendapati dirimu menjadi karakter dalam game? Itu yang terjadi pada Daffano Rex El Kaizer. Dengan kode nama Rex. Dia seorang gamer profesional yang termasuk player top global. Bahkan Top 1 diantara para to...
