Happy Reading guyss!!
🍁🍁🍁
Setelah menjelaskan kejadian tadi inti Sevtara dan Disya keluar menuju kelas masing-masing. Melanjutkan pelajaran setelah bel berbunyi. Atlas sempat meminta Disya untuk beristirahat saja dirumah tetapi Disya menolak.
Disya masih melamun memikirkan kejadian tadi. Otaknya berpikir keras siapa yang mencoba mencelakainya. Apa orang itu musuh papanya?
"Sya?," bisik Meysa pelan.
"Jangan ngelamun. Pak Berta ini yang ngajar," senggol Meysa mengingatkan.
"Iya Mey," ucap Disya menghela nafas kembali memperhatikan Pak Berta yang sedang menjelaskan.
"Anjir! Kenapa gue masuk IPA sih," keluh Mela kesal yang tak paham dengan penjelasan guru didepan.
"Ikut-ikutan sih lo," sindir Safira.
"Ya gimana ya? Kalian bertiga pada masuk IPA, masa iya gue IPS sendiri. Gue nggak mau pisah sama kalian tauu," jelas Mela.
"Seenggaknya lo masuk sesuai minat lo Mel. Biar nggak mubazir waktu lo kalo lo nggak tanggungjawab sama pilihan lo sendiri," ucap Meysa menasehati.
"Iya-iya. Gue usahain ya teman-teman," ucap Mela tersenyum manis.
Ia sangat beruntung memiliki sahabat seperti mereka. Mereka sama sekali tidak pernah sombong atas apa yang mereka miliki. Bahkan mereka selalu membantunya jika ia belum memahami pelajaran disekolah.
"Thanks guys. Gue sayang kalian," ucap Mela terharu.
"Kek siapa aja lo. Kita sahabatan udah lama Mel. Jadi, nggak perlu sungkan gitu," ucap Safira.
"Iya bener. Nggak perlu minder juga. Kita bakal selalu bantu lo kok kalo lo kesulitan," sahut Disya.
"Ekhm. Itu yang dibelakang tidak memperhatikan saya kah?," tegur Pak Berta.
"Maaf Pak," ucap Meysa tak enak.
"Oke. Saya lanjut kalo begitu," ucap Pak Berta melanjutkan penjelasannya.
Berbeda dengan Alvaro yang tidak bisa fokus belajar. Pikirannya masih berpikir dalang dari kejadian tadi. Ia yakin orang tersebut suruhan seseorang. Dan pastinya bukan sembarangan orang karena berani mengambil konsekuensi disekolah yang mana itu merupakan tempat umum.
"Gue udah hubungin bokap. Supaya cepet diselidiki," ucap Atlas mengerti isi pikiran Alvaro.
"Hm. Kita bahas nanti lagi," ucap Alvaro mengalihkan pandangannya kedepan.
Gibran melamun sesaat. Ia sedikit memiliki petunjuk tentang pelaku itu. Tapi ia belum terlalu yakin. Jadi, ia ingin memastikan terlebih dahulu sebelum memberitahu yang lain.
"Mikir apa lo?," senggol Vino.
"Nggak," balas Gibran.
"Gue tau lo ngelamun," desak Vino.
"Ck. Nggak papa Vino," kesal Gibran.
"Boong banget. Cepet kasih tau, lo mikir apaan," ucap Vino memajukan wajahnya yang spontan Gibran mendorong wajah Vino.
"Anjir!," umpat Vino kesal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ladisya (Love Story)
Ficção Adolescentecover by pinterest Alvaro Kendrick Yudanta. Kisah cintanya yang lama ia pendam akhirnya kini ia berani ungkapan pada gadisnya. Rasa ingin melindungi semakin besar ketika melihatnya sering dalam bahaya. Persahabatan dengan anggota gengnya membuat ia...
