Part 3: Hujan dan Senyuman

2.1K 151 4
                                        

'Surat ini ditujukan kepada Junior 65 dan seisi rumahnya, termasuk furniture dan kucing peliharaannya. Saya, Libra Rajatta dan anggota keluarga lainnya ingin mengundang Junior 65 untuk datang di malam yang entah berbintang atau tidak untuk memeriahkan acara bbq dikediaman Rajatta pada malam minggu ini. Diminta kehadiran seluruh anggota keluarga, beserta peliharaan jika ada. Salam, Rajatta.

PS: Jangan pikirkan kata-katanya, terima kasih.'

Aku tersenyum membacanya, bukan, bukan karena isi suratnya, melainkan karena ia, Senior 32 yang kini memiliki nama Libra Rajatta mengirimkan surat padaku, pada keluargaku.

"Buu, diundang pak Rajatta bbq dirumahnya minggu ini." Aku berteriak sambil berlari menuju dapur.

"Iya boleh." Jawab ibu.

"Nggak bu, diundang satu keluarga." Aku memberikan kertas kuning itu.

"Oh ya? Oke oke, nanti bilang ayah." Kata ibu sambil memotong bawang merah.

"Aah ibu, kalo ngomong liat muka Al dong." Kataku jengkel dan langsung berjalan kembali menuju kamar.

Jumat pagi cuaca sedikit mendung, aku memutuskan untuk berangkat lebih pagi dari biasanya agar tidak bertemu dengan hujan. Aku menyisir rambut ikalku dan menyematkan hair pin di kedua belah sisinya, setelah merapikan seragam dan menarik kaus kaki, aku berjalan dengan terburu-buru menuju ruang makan.

"Bu aku mau langsung berangkat aja ya? Mau ujan." Ucapku sambil menarik tangan kanan ibu.

"Yaudah bawa sarapannya, jangan lupa dimakan, nanti belajarnya nggak konsen." Kata ibu sambil mencarikan tempat makan kecil untuk menempatkan 2 potong roti isi.

"Iya bu." Setelah memasukkan tempat makan, aku langsung berlari menuju pintu, sembari kak Jihan turun dari lantai 2.

"Tumben pagi lo." Kata kak Jihan.

"Iya mau ujan, males banget ntar becek." Jawabku sambil menutup pintu.

***

Suasana kelas kini lebih ramai dari hari biasanya, tak lain tak bukan karena hujan yang sudah seharian turun sangat deras sehingga hanya sedikit yang memutuskan untuk istirahat ke kantin yang bangunanya terpisah dengan gedung sekolah.

Tak sedikit dari mereka yang menggeser meja dan menciptakan ruangan untuk tidur, dengan beralaskan tas, mereka tertidur pulas, malah salah satu diantaranya sampai mendengkur.
Aku menaikkan kakiku ke atas meja dan mencari dimana letak ipodku, kupasangkan earphone putih yang ku cat menjadi gradasi pelangi ditelingaku, kemudian petikan gitar berpadu dengan suara air hujan menyatu di gendang telingaku.

Kurasa di jam terakhir ini tidak ada guru yang mengajar, karena sudah 10 menit lewat dari jam masuk pelajaran, mataku mulai mengantuk, perlahan kedua kelopaknya menutup, dan menutup. Masih dalam posisi kaki diatas meja, aku tertidur.

"Al," Aku merasakan sesuatu menyenggolku sehingga membuatku terbangun.

"Wen?" Kataku sambil mengusap-usap wajahku.

"Hih ketiduran." Kata Wenda.

"Udah pada pulang ya?" Tanyaku.

"Iya, itu lo ditungguin kak Libra, katanya mau ketemu." Kata Wenda sambil tersenyum.

"Oh ya?" Aku tidak percaya.

"Biasa aja dong Al, hihi cepetan tuh udah jenggotan dia nungguin lo."

Sebelum bertemu dengannya aku berbelok ke arah kamar mandi, sekedar memastikan wajahku segar dan tidak ada bekas-bekas akan perempuan yang baru terbangun dari tidurnya.

It Was Always YouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang