Let me tell you something, guys.
Ternyata liburan tanpa Libra tidak seburuk yang kubayangkan. Aku tidak tahu apa Libra setuju dengan pernyataanku itu, tapi sekarang aku rasa, menangisi dirinya saat ia hendak pergi adalah hal yang memalukan dan sia-sia. Kala itu aku berfikir aku tidak akan bisa menikmati satu bulan liburan, tapi nyatanya meski kami hanya bertemu di dalam surel dan juga sesekali di Skype, aku tetap bisa menikmati liburan sepenuhnya. Intinya, selama disana masih ada orang yang kita sayang pula menyayangi kita, semua aktifitas pasti akan terasa lebih menyenangkan.
***
Aku sedang menyantap es pisang hijau buatan Amma' Toa sambil duduk menikmati angin sore di ayunan teras belakang saat ia menghampiriku. Kakinya terbalut Tenun Sengkang dipadukan dengan kaos polos dengan warna senada. Bisa dibilang, meski ia sudah berumur lebih dari 60 tahun, Amma' Toa tetap terlihat cantik dan sehat, bahkan dengan pakaian sederhana sekalipun.
Di dalam sekian cerita yang kubaca, seorang nenek pasti memiliki cucu kesayangannya. Tapi tidak dengan Amma' Toa, cucu kesayangannya adalah ke 15 cucunya, alias semua cucunya. Amma' Toa juga seorang nenek yang senantiasa mendengarkan curhatan cucu-cucunya, bahkan soal cinta sekalipun, dan dia sangat ahli dalam menyimpan rahasia terutama dari orangtua-orangtua kami. Ditambah, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggrisnya tidak kalah hebat dengan anak jaman sekarang, mengingat ia adalah seorang tua dari masa lampau.
Amma' Toa ikut duduk di sampingku. Ia mengangkat kakinya dan mengayunkan ayunan perlahan. Sama sepertiku, ia juga memegang mangkuk putih berisi potongan pisang hijau dicampur santan buatannya.
"Alika senang melamun ya?" Tanya Amma' Toa kemudian ia menyendokkan sepotong pisang ke mulutnya.
"Ah? Nggak, Alika senang angin sore, Amma' Toa." Jawabku diikuti semilir angin berhembus tertiup ke arah wajah kami berdua.
"Amma' Toa juga suka, apalagi ditemani cucu sambil makan pisang hijau seperti ini."
"Amma' Toa, Alika mau tanya, boleh?"
"Iya, boleh."
"Amma' Toa suka kangen nggak sama Dato'?"
"Ya rindu."
"Biasanya kalau kangen ngapain?"
"Berdoa, liat foto Dato', sama nonton video liburan waktu Dato' masih ada. Memangnya ada apa? Alika lagi rindu dengan siapa?"
"Ah nggak." Jawabku sambil tersipu.
"Pacarnya? Yang waktu itu Alika cerita di telpon?"
"Ehehe, iya."
"Kalau rindu, Alika boleh pulang untuk temui dia."
"Ah, Alika kan kangen juga sama Amma' Toa." Akupun menaruh mangkukku ke meja kecil di samping ayunan lalu memeluk Amma' Toa gemas.
"Boleh Amma' Toa lihat pacarnya Alika?"
"Boleh." Aku pun mengeluarkan handphone ku dan membuka galeri. Aku memperlihatkan foto terakhir saat di bandara, ia merangkul bahuku sambil bibirnya mencium pelipisku.
"Pantas dirindukan, ga'ga kammane."
"Ya ganteng, makanya Alika sayang."
"Tidak boleh sayang karena wajah, sayangi atas dasar hati."
"Iya, maksud Alika kegantengannya itu yang mendukung Alika buat sayang dan kangen sama dia."
KAMU SEDANG MEMBACA
It Was Always You
Novela JuvenilKau datang Membuat kebahagiaan juga datang Membuatku terbang menembus angkasa Menoreh senyum menuai tawa Kau yang pertama datang, kau pula yang pertama pergi Maukah kau sekali lagi menoleh kepadaku? Memberi senyum termanismu? Hei Libra Rajatta, liha...
