Part 2: Libra Rajatta

2.7K 176 1
                                        

Aku menghela nafas, pagi ini aku mengikat tali sepatu tanpa perasaan akan di jemur kembali. Jam ku di SMA dimulai, belajar di kursi barisan depan, dan bersikeras menjadi yang terbaik.

Aku merasa aku dimasukkan ke dalam kelas pilihan, dengan anak-anak pintar di dalamnya, hingga kursi paling belakang pun meski diduduki oleh mereka yang badung, tapi bisa dibilang otak mereka cermat.

Aku bukan seperti apa yang di impikan Shanin, ingin jadi populer, disukai para laki-laki, terkenal hingga mancasekolah. Aku lebih suka duduk dengan handphone ku dan mendengarkan petikan gitar dalam lagu, dan saat telinga ku tersumpal dengan petikan itu, dunia berubah jadi milikku, tidak ada yang bisa mengganggu.
Seperti anak pada umumnya, saat istirahat aku pergi ke kantin, dan saat jam pulang aku langsung pulang. Hm tidak seperti yang lain, mereka pulang bersama pacar atau supir mereka yang setia, aku harus menunggu angkutan yang lewat dan berpanas-panas ria didalamnya selama kurang lebih 30 menit, kemudian aku harus berjalan ke dalam komplek sekitar 7-10 menit dan barulah aku bisa menikmati terpaan angin dari pendingin di dalam kamarku. Ya, penuh perjuangan memang, tetapi aku senang, sampai suatu ketika aku harus bertemu dengan Senior 32 saat aku berjalan menuju rumah.

"Lo Junior 65 kan?" Senior 32 membuka kaca helmnya sembari memberhentikan motor besarnya.

"Eh? Iya." Jawab ku tergagap-gagap.

"Haha ketemu juga kan." Katanya memaksa.

"Ha iya kak, mungkin dulu karna nggak kenal kali yah?" Aku mencoba merilekskan diri dan bersikap senormal mungkin.

"Yoi,"

"Um hm." Meskipun berusaha untuk bersikap normal, air wajahku sama sekali tidak bisa berkompromi, ia menetes dan aku pun terlihat sangat gugup.

"Junior 65,.." Ia menggantung perkataannya.

"Alika." Aku memotong.

"Oh ya? Alika.." Ia menggantung lagi.

"Apa kak?" Jujur dalam hati aku gugup dengan kondisi seperti ini.
"Kalo jalan meski di trotoar jangan pake earphone terus, ntar kalo ada yang klakson nggak kedengeran." Katanya sambil siap untuk menggas motornya kembali.

"Ah? Iya kak, makasih." Aku menghela nafas.

"Gue duluan yak." Katanya sambil menggas motornya kembali, sekilas aku bisa melihat sebersit senyum kecil di balik kaca helm nya.

"Yaelah ngajak bareng kek, nggak peka amat." Aku menggerutu dalam hati, memang tidak selelah seperti waktu di jemur di masa orientasi, tetapi akan sangat membantu jika ada yang mengantarkan meski hanya sampai ke depan blok.

***

Hari-hari selanjutnya aku tidak pernah berpapasan dengan Senior 32 itu lagi, dijalan menuju pulang ataupun disekolah. Bisa dibilang aku mulai penasaran dengan Senior 32 itu. Saat istirahat aku memutuskan untuk tidak pergi kekantin, aku memutar stir ke arah lapangan basket, tempat dimana para senior suka berkumpul, dari batasan koridor aku bisa melihat kak Dio dan teman-temannya sedang duduk disalah satu kursi di pinggir lapangan sambil sesekali menggoda gadis-gadis yang lewat. Tetapi aku tidak melihat batang hidung si Senior 32 disana, disekumpulan anak-anak yang menggoda gadis itu. Mataku berkeliling lapangan untuk mencari laki-laki dingin tersebut, tapi sialnya mataku tertangkap oleh kak Dio dan dia memanggilku sambil berisyarat memintaku bergabung dengan mereka.

"Hai Junior 65." Kata kak Dio yang setengah berlari menghampiriku.

"Alika." Bukannya aku ingin terkenal dengan namaku, tetapi sangat tidak enak dipanggil dengan panggilan sepeti itu diluar masa orientasi.

"Oke, Hai Alika." Kak Dio merangkulku dan menarik tubuhku menuju perkumpulannya.

"Kita nggak nerima junior Yo." Kata salah satu teman kak Dio.

It Was Always YouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang