Aku dan Libra duduk bersimpuh saling berhadapan di ruang tamu rumahku. Sekarang ia sedang mengerjakan latihan soal Bahasa Inggris yang aku kumpulkan dari prediksi-prediksi soal ujian nasional dari internet. Sedangkan aku menunggu sambil beberapa kali melirik wajah seriusnya yang kelewat lucu itu. Tangan kanannya menggerakkan pensil untuk mencoret jawaban, dan tangan kirinya menggenggam penghapus hitam yang sudah kehilangan senti demi senti bagian tubuhnya. Libra memakai penghapus itu terlalu sering sehingga menyisakan bercak hitam di berbagai sisi kertas soalnya.
Sudah 30 menit lebih Libra berkutat dengan soal pilihan ganda. Sampai detik ini, ia baru menyelesaikan 3 wacana yang mana masing-masing dari wacana tersebut memiliki 3 soal. Dan aku berani bertaruh bahwa ia sendiri tidak begitu yakin dengan jawaban yang ia pilih. Ia menggaruk kepalanya dengan gemas kemudian memelototi kertas soal tersebut.
"Be nice, paper. Please." Ucapnya pada kertas itu. Dia sendiri yang membuat aturan selama privat ini berlangsung, dia maupun aku harus menggunakan Bahasa Inggris penuh.
"Just do it." Ucapku sambil mengetuk permukaan kertas.
"Let the paper cross itself."
"Don't be stupid."
"I'm tired."
"Do 10 more problems, so you can get a rest."
"Alright miss."
"Don't call me like that, or I'm gonna give you 10 more."
"10 more of love, I accept it."
"You wish." Aku memutar kedua bola mataku seolah menandakan kalau aku sedang kesal, tetapi bersamaan dengan itu pipiku berubah merona. Aku langsung menutupnya dengan rambutku. Kutangkap sepercik senyum sebelum Libra kembali pada kertasnya, rupanya dia senang belajar mata pelajaran yang ia tidak sukai sama sekali.
10 soal selesai dikerjakan juga dibahas. Libra menyenderkan punggungnya sambil memegang gelas sirup yang beberapa menit lalu dibawakan oleh Ibu. Ia menghela napas berat, matanya menatap ujung jempolnya tanpa arti, dalam keadaan begitu, level ketampanannya meningkat drastis apalagi dengan rambut keriting yang sudah mulai panjang.
Sedikit cerita, Libra memaksaku untuk memberikannya privat Bahasa Inggris setiap hari Sabtu. Meski dalam kenyataannya ia hanya akan mengerjakan soal dan aku akan menunggunya kemudian membahas satu persatu soal itu. Aku tidak memungut biaya apapun darinya, sumpah. Walaupun ia menawarkan untuk membalas privat ini dengan privat lainnya, seperti skateboarding atau olahraga berbahaya lainnya, namun aku menolak karena aku sama sekali tidak tertarik dengan olahraga semacam itu. Maka aku memberikannya privat gratis.
"Kenapa?" Tanyaku saat Libra mengangkat kepalanya.
Ia tidak menjawab, ia merogoh kantung jaketnya dan menyodorkan sebuah amplop yang segelnya sudah terbuka.
"Ini apa?"
Libra mengedikkan bahu sambil tersenyum kecil. Aku pun membuka amplop tersebut dan membaca isi surat di dalamnya.
"Seleksi pebasket nasional. Besok."
"Serius?"
"Iya, kamu nonton ya? Aku jemput jam 7."
"Ya, with a pleasure."
***
Suasana di dalam Hall A Senayan sudah ramai ketika aku dan Libra sampai. Setelah memperlihatkan amplop putih pada petugas, Libra digiring menuju ruang ganti, sebelumnya aku mengecup pipinya, menyematkan kata semangat disebelah telinganya. Kemudian aku dipersilahkan untuk mencari tempat duduk. Syukurnya aku masih bisa mendapat kursi di barisan depan sehingga mudah bagiku untuk melihat aksi kakak kelasku itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
It Was Always You
Teen FictionKau datang Membuat kebahagiaan juga datang Membuatku terbang menembus angkasa Menoreh senyum menuai tawa Kau yang pertama datang, kau pula yang pertama pergi Maukah kau sekali lagi menoleh kepadaku? Memberi senyum termanismu? Hei Libra Rajatta, liha...
