Chapter 1

114K 6.3K 373
                                        

Angkasa jalan sempoyongan dipinggir trotoar, ia baru saja ditolak oleh mantan musuh yang beralih jadi sahabat kemudian menjadi orang yang sangat Angkasa cintai. Orang itu bernama Faas Anggara.

Ia tak tau selama ini Faas sudah mempunyai pasangan seorang pengusaha ternama yaitu Bima Dirgantara, anak satu satunya dari pengusaha yang namanya sudah dikenal diseluruh negri yaitu Dharma Dirgantara.

Setahun lamanya ia memendam perasaannya dengan Faas. Angkasa berharap ia dapat memiliki Faas namun ia salah.

Bima bukanlah saingannya, ia adalah pria tampan, kaya dan mapan. Sedangkan dirinya hanyalah seonggok mahasiswa salah jurusan. Ditambah Faas kini tengah mengandung anak kedua dari Bima.

Hati Angkasa bagitu hancur saat mendengar penjelasan itu.

Ia kemudian memilih ke Bar dipinggir jalan dan meminum banyak jenis minuman beralkohol.

.

Bara yang ikut mendampingi mahasiswanya jalan jalan ke Bali malam itu dia bernostalgia dan jalan santai sambil menikmati angin malam kemudian mampir di Bar dimana Angkasa juga disana.

Bara yang sangat mengenali siluet itu, ia memperhatikannya dari ujung meja counter pembatas antara pengunjung dengan bartender.

Kedua alisnya menyatu kala mendengar Angkasa memesan Bir berkali kali.

"Ck, anak itu" keluh Bara melihat Angkasa yang terus merenggek meminta Bir pada bartender disana.

Angkasa sepertinya sudah mabuk cukup berat.

Bara menghampiri Angkasa dan memperlihatkan kartunya sebagai dosen dan kartu mahasiswa Angkasa itu sendiri.

Sebelum Angkasa diusir, Bara menariknya keluar walaupun sedikit ada pemberontakan.

Angkasa masih kuat jalan meski sedikit sempoyongan. Ia hampir saja ditabrak oleh pengendara mobil juga motor malam itu, namun karena Bara dibelakangnya, Angkasa bisa selamat sejauh ini.

Bayangan wajah Faas melekat pada otaknya.

Bara terus mengikuti Angkasa sampai angkasa berhenti disebuah gereja pinggir jalan.

Bara ikut berhenti disamping Angkasa dan berniat ingin mengajaknya kembali kehotel.

"Sa, kita haris balik kehotel, jam malammu sudah hampir selesai" ujar Bara.

Angkasa yang masih dikuasai Alkohol malah tersenyum karena wajah Bara berubah menjadi wajah Faas, orang yang telah menolaknya beberapa jam yang lalu.

Namun tak disangka sangka, Bara malah ditarik kedalam gereja dan mereka berdiri dialtar.

Bara cukup binggung dengan sikap mahasiswanya itu.

Dan hal yang tak diingikanpun terjadi.
Angkasa memegang kedua tangan Bara kemudian ia memejamkan matanya lalu mengucapkan sumpah dan ikrar pernikahan.

Mata Bara melebar mendengar itu dan sekarang gilirannya yang mengucap sumpah dan ikrar pernikahan.

Bara ingin menarik tangannya namun saat melihat mata Angkasa menatapnya, Bara dengan lantang ikut mengikrarkan pernikahannya.

Kini keduanya telah sah menjadi sepasang keluarga.

Pastur yang sedang bertugaspun tidak dapat mencegah hal itu. Karena salah satu diatara mereka dalam keadaan sadar 100%.

Dia memberinya selembar kertas perjanjian pernikahan dengan menggunakan tanda tangan juga cap jari.

Melihat itu, Bara menyunggingkan senyumnya, kehidupannya akan berubah mulai malam ini, ia sudah sah terikat pernikahan dengan mahasiswanya itu sendiri.

"Anda bisa membatalkan pernikahan ini sebelum disahkan tuan" ucap sipastor sebelum Bara mengandeng tangan Angkasa keluar dari sana. Berkas pernikahan mereka dipegang oleh Bara yang nantinya akan ia jadikan senjata untuk melakukan sesuatu terhadap Angkasa.

.

Angkasa terbangun dengan kepala yang cukup berat. Saat melebarkan pandangannya, ia melihat sosok Bara berada didepannya yang masih memejamkan matanya.

Angkasa mengusap matanya berulangkali dan itu tidaklah salah.

Angkasa langsung bangun namun ia kembali kaget karena ia tak mengenakan satu helai benangpun ditubuhnya.

Melihat pakaianya berserakan dilantai, ia segera memunggutinya.

Belum selesai, Bara lebih dulu terbangun.
"Kenapa buru buru baby" ucapnya yang membuat Angkasa merinding.

Angkasa langsung menutupi tubuhnya dengan pakaiannya dan melotot kearah Bara.

"Kenapa saya ada dikamar bapak, bapak mesumin sayakan?"

Bara menaikkan satu alisnya. Dan itu cukup membuat Angkasa binggung.

"Coba kamu inget, kamu semalam apain saya" jawab Bara dengan smirk mencurigakan.

Bara kemudian mengambil berkas dinaskasnya dan melemparkannya kepada Angkasa.

Angkasa langsung memungut kertas itu dan matanya melebar bahkan baju yang tadinya menutupi tubuhnya kini terlepas dari tangannya.

"Kita udah sah menjadi pasangan suami istri dan ini semua kamu yang maksa bukan saya"

Angkasa masih tak percaya dan sklebat ingatannya yang menyeret Bara tiba tiba muncul begitu saja.

"Pak, ini tanda tangan saya loh pak. Ini cap jari saya juga?" panik Angkasa.

"Kamu yang paksa saya, kamu bilang ingin bunuh diri jika tidak bersedia menikah semalam"

Angkasa menggeleng "kita batalin pernikahannya sekarang yok pak, saya gak mau jadi istri bapak, saya maunya dipihak suami pak" Angkasa benar benar panik, berkas pernikahan itu akan langsung disahkan negara dalam kurun waktu 1 minggu, sebelum hal itu terjadi, mereka bisa membatalkan pernihakan mereka sebelum hari itu.

"Tidak, saya lelah, kamu semalam juga memaksa saya melakukan itu sampai beberapa jam" ucap Bara dan wajah Angkasa seketika langsung pucat karena ia tak mengingat apapun.

"Jadi semalam?????"

Bara mengangguk "kita sudah melakukan itu, mau lihat bekas kond*m -"

"ENGGAK!" potong Angkasa, namun ia tak sadar tubuhnya yang telanjang membuat Bara harus menahan sesuatu yang ikut bangun didalam selimut.

Sepertinya, ia tak akan mengerjai Angkasa lagi tapi benar benar akan melakukannya.

Dengan gerakan cepat Bara menarik Angkasa dan langsung dibawah kungkungannya.
"Kamu yang membuat saya harus menikahi pria kecil sepertimu, sebaiknya layani suamimu ini"

"Bapak sudah gila, saya laki laki pak"

"Yang bilang kamu perempuan juga siapa hm"

Melihat tatapan tajam Bara membuat nyalinya menciut, ia harus batalin penikahannya sebelum orang tuanya tahu akan hal ini.

"Pak, jangan bercanda dong, ayo batalin pernihakannya dan saya akan menuruti permintaan bapak"

"Are you sure?" Jelas Bara dengan skenario licik yang tentu saja akan mengikat Angkasa selamanya.

Angkasa dengan polosnya mengangguk.

"Biarkan saya memasukimu sekali lagi"

"APA!" kaget Angkasa.

Bara sebenarnya hanya menipu Angkasa pada kenyataanya mereka belum melakukan itu namun karena Angkasa begitu polos, Bara akan mudah mengendalikan dan menarik ulur perasaan Angkasa sampai anak itu jatuh cinta dengannya.

Tbc

Akhirnya bisa nulis cerita ini juga.
Untuk yg kangen Faas, akan ada dibeberapa part.

Jangan lupa vote dan komen yaa.

Angkasa (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang