Bara menghela nafas lega saat menginjakkan kaki diapartemennya ketika bersama Angkasa dulu.
Tempat itu terdapat kenangan indah sekaligus pahit yang pernah dilaluinya bersama orang yang paling dia cintai.
"Kita akan bersama lagi Sa, kali ini tidak akan akan satu orangpun dapat menganggu kita" ucapnya dengan menatap foto yang tak pernah pindah dari tempat sebelumnya itu.
Sebelum menemui Angkasa, Bara ingin merubah tempat itu untuk calon bayinya juga.
Bara ingin menyiapkan segalanya tanpa terkecuali.
Beberapa hari Bara ikut membantu house cleaning yang telah ia sewa. Namun saat membersihkan kamarnya, ia menemukan name tag Kai.
"Waah. Ini akan menjadi masalah besar" gumamnya lalu ia memasukannya kedalan saku. Ia akan mengembalikannya suatu saat nanti.
Waktu semakin cepat berlalu, Bara tak punya waktu lama. Ia segera kerumah Angkasa, namun apa yang dilihatnya sungguh membuat hatinya bedenyut sakit.
Bara baru saja sampai didepan gerbang rumah Angkasa dan belum sempat keluar dari mobil, namun sebuah mobil mendahuluinya dan yang keluar adalah Abian juga Angkasa.
Keduanya terlihat dari suatu tempat. Dan betapa kagetnya Bara melihat Angkasa dibantu Abian keluar dari mobil dengan prutnya sudah membesar.
Bara tak bisa menahan air matanya melihat anak yang sedang tumbuh didalam perut Angkasa.
Keduanya terlihat membicarakan sesuatu sampai tertawa bersama dan tak lupa Abian menggandeng telapak tangan Angkasa yang disambutnya dengan ikut menggenggam tangan Abian.
Bara kemudian teringat sesuatu, ia telah meminta Abian menggantikan posisinya. Dan Abian kini menepati janjinya dan melakukannya dengan sangat baik.
.
Dua laki laki berbeda usia itu kini tengah berada disebuah tempat ngopi yang dikelola Faas dimana tempat itu cukup tertutup.
"Bapak bersujud dikaki sayapun, saya tidak akan melepaskan Angkasa" ucapnya dengan menatap manik hitam Bara.
"Bagaimana kalau saya memohon demi anak anak saya?"
"Anak bapak yang mana hm? Itu anak anak saya dan bapak sendiri yang menyuruh saya untuk menjaga Angkasa"
"Kamu tidak mengerti-?"
"Mengerti apa lagi?, saya sangat mencintai Angkasa bahkan jauh sebelum bapak bertemu dengan anak itu, saya tau segalanya tentang Angkasa lebih dari bapak. Saya juga tulus mencintainya dan ingin melakukan apa saja demi kebahagiaannya. Sekarang kita sudah bahagia pak. Sebentar lagi saya akan menikahi Angkasa dan itu bukan sebuah paksaan karna Angkasa telah menerima saya. Lalu bagian mana yang tidak saya mengerti?. Saya rasa ini pertemuan kita yang terakhir"
Abian kemudian berdiri dan dengan sopan, ia pamit meninggalkan tempat itu.
Bara tertawa miris, sepertinya ia tidak mempunyai celah untuk mengambil miliknya dalam genggamannya lagi.
Sampai ada seseorang duduk didepannya.
"Apa kabar Bar" sapa Bima yang mana ia merasa iba dengan apa yang dialami temannya itu. Bima tertawa kecil lalu menyilangkan kakinya. "Maaf soal kemarin, gue ninggalin lo disaat seperti itu"
"Harusnya gue yang minta maaf, gara gara masalah gue. Lu juga Faas kehilangan anak yang seharusnya ada disini sekarang, kalo gue jadi lo, gua bakal hajar orang yang udah sebabin anak lo pergi. Dan itu gue"
Bima terkekeh "anak gue pergi bukan karna lo, tapi karna kecerobohan istri gue sendiri. Gue ingin minta maaf sama lo karna gak bilang ini dari awal" Bima menghela nafas beratnya "Gua egois. Gue gak mau liat Faas nyalahin dirinya sendiri kalau tau kebenarannya dan gak hubungi lo dari awal"
KAMU SEDANG MEMBACA
Angkasa (End)
Roman pour AdolescentsAngkasa tak sengaja menyeret dosennya ke altar dan mengucapkan ikrar pernikahan saat dirinya sedang mabuk karena patah hati. kehidupannya yang berjalan normal, kini berubah sangat drastis karena dosen itu tidak ingin membatalkan pernikahan tak senga...
