"Kenapa kuliah, kan saya sudah bilang. Kamu dirumah saja" protes Bara sambil mengemudikan mobilnya menuju rumah.
Angkasa melirik Bara sejenak alu memalingkan wajahnya kearah luar kaca mobil.
"Masih sakitkan?" Imbuh Bara.
"Jelas masih sakitlah pak, orang bapak mainnya kasar gitu!" Sahut Angkasa kemudian bersedekap dada.
"Tapi kamu mendesah Sa"
"Lidah saya cuma kepleset pak, bapak tidak usah menuduh saya"
Bara hampir saja mengelakkan tawanya karena jawaban nyleneh Angkasa, jika ia tak ingat harus menjaga wibawanya sebagai seorang dosen, suara tawa Bara pasti sudah memenuhi mobilnya saat ini.
Tak terasa mereka sudah sampai, Bara cukup iba melihat cara berjalan Angkasa.
"Kekamar sana, saya obati luka kamu"
"Maksud bapak apa?"
Bara tak menghiraukan Angkasa lalu mengmbil kotak obat yang ada di dapur.
Belum selesai melepas kaos kakinya, Bara dengan mudah mengangkat tubuh Angkasa dengan satu tangannya kedalam kamar.
Angkasa pasrah namun ia melayangkan protesnya saat Bara tiba tiba membuka ziper celana jeansnya.
"Bapak mau apain saya?"
"Tidak usah GR, saya cuma mau obatin luka kamu Sa"
"O o ooh bilang dong pak"
Bara sedikit menggelengkan kepalanya binggung, perasaan dia sudah memberitahu Angkasa, apa jangan jangan Angkasa punya masalah pendengaran?.
Ia akan memeriksakannya nanti.
Begitu pikir Bara.
Angkasa membuka lebar kakinya namun sepertinya masih cukup sulit untuk Bara mengoleskan salep pereda nyeri itu.
"Menungging Sa"
"Udah gini aja kenapa se pak, bapak bawel banget se" keluhnya namun Angkasa tetap berbalik dan memperlihatkan lubangnya pada Bara.
Bara meneguk ludahnya kasar melihat pemandangan didepannya. Sesekali ia menggusap lehernya karena ia harus menahan godaan duniawi itu.
Lubang Angkasa memang masih sedikit bengkak, namun tak separah yang ia kira, besok pasti sudah sembuh.
"Enghh" desah Angkasa yang tak bermaksud menggoda Bara sama sekali, ia hanya reflek mendesah karena gel dingin yang sedikit masuk kedalam analnya.
Namun lain ditelingga dan otak Bara. Miliknya langsung menggembung dibalik celana kain yang ia kenakan.
Nafas Bara mulai berat, keringat membasahi pelipisnya. Ia segera menyelesaikannya agar tidak semakin tergoda oleh istrinya sendiri itu.
"Udah Sa"
Mendengar itu, Angkasa berbalik kemudian duduk sambil memperhatikan Bara yang menata kotak P3Knya kembali.
"Bapak sakit?" Tanya Angkasa karena melihat keringat yang membasahin wajah Bara.
"Hah?" Binggung Bara.
"Bapak sakit?" Tanya Angkasa sekali lagi yang sebenarnya biasa saja, namun dimata Bara, Angkasa bertanya dengan nada menggodanya.
"Angkasa?"
"Bapak----Hmphh"
Bara meraup bibir Angkasa mengulumnya secara bergantian.
Bara sudah diselimuti nafsu karena Angkasa begitu menggoda dan susah untuk ia lewatkan begitu saja.
"Enghh" satu desahan lolos dari mulut Angkasa karena ia butuh benafas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Angkasa (End)
Fiksi RemajaAngkasa tak sengaja menyeret dosennya ke altar dan mengucapkan ikrar pernikahan saat dirinya sedang mabuk karena patah hati. kehidupannya yang berjalan normal, kini berubah sangat drastis karena dosen itu tidak ingin membatalkan pernikahan tak senga...
