Angkasa berlari kecil menuruni tangga dengan punggung berwarna merah.
"Pelan pelan dek" ucap Adnan yang juga sudah bersiap kerja.
"Gua udah telat bang" jawabnya setelah menyambar roti dimeja makan. Angkasa menggiggitnya lalu nengambil helm fullfacenya.
"Pelan pelan Sa" ucap Abian yang sudah menunggunya didepan.
"Buruan gas, gua ujian semester ini"
Abian menutup kaca helmnya lalu melajukan motornya sekencang mungkin.
Sudah terhitung 5 hari ini Abian rajin mengunjungi Angkasa bahkan mengantar jemput Angkasa.
"Makasih ya Bi" ucapnya lalu Angkasa berlari menuju kelasnya.
"NANTI GUA YANG JEMPUT SA!" teriak Abian yang mana Angkasa membuat gestur OKE pada jarinya. Dan syukurlah Angkasa tidak telat hari itu.
Dikelas ia melihat sekeliling berharap sahabatnya itu muncul. Namun sampai dosen pengawas masuk, Faas belum tampak kelihatan batang hidungnya, namun semenit kemudian Faas dengan terengah langsung duduk di kursinya dengan perut yang sudah rata.
Angkasa tersenyum bahagia melihat Angkasa terlihat baik baik saja. Bahkan matanya selalu melirik Faas dan berharap semua ini bukanlah mimpi.
Angkasa menyelesaikan ujuannya lebih dulu dan menunggu Faas disamping pintu kelas.
"Fa!" Panggil Angkasa saat melihat siluet Faas.
Faas menoleh sinis pada Angkasa lalu berjalan lurus kedepan mengabaikan Angkasa.
"Fa. Gue minta maaf, gara gara gue calon anak lu....."
"Ikut gua" Faas dengan kasar menyeret Angkasa ketempat sepi, menghempas lengan Angkasa kasar lalu melayangkan tinjunya yang tak sampai mendarat pada pipi Angkasa melihat sahabatnya itu melindungi perutnya sambil memejamkan mata.
Merasa tak ada pukulan sama sekali, Angkasa perlahan membuka matanya dan melihat Faas dan Aldi yang juga sudah disamping Faas.
"Lu hamil Sa?" Tanya Faas.
Angkasa menunduk lalu mengangguk kecil.
Faas kemudian memeluk Sahabatnya itu. Ia tak berniat membenci Angkasa sama sekali, tapi Faas marah karna ia yakin Angkasa berpisah dengan pak Bara setelah mendengar kabar ia kehilangan bayinya.
"Kenapa lu nyerah Sat?" Kesal Faas.
Angkasa membalas pelukan Faas erat dan mulai mengeluarkan air matanya dipundak Faas. "Maafin gue Fa, gue udah bunuh bayi lu"
Faas menghembuskan kasar nafasnya sambil mengusap punggung yang kini tampak kurus itu. "Harusnya gue yang minta maaf udah ninggalin lu sendirian. Gue bener bener gak nyangka mertua gue bawa gue ke Rumania pas gue gak sadar"
Ya. Faas bukan berniat melarikan diri. Jika boleh memilih, ia akan membuat perhitungan dengan pelaku teror sahabatnya itu.
Faas berulang kali memberontak ingin pulang, namun Bima melarangnya sampai keadaan kembali kondusif karna Nata putra mereka juga terancam nyawanya.
Faas memilih mengalah karna ia tak ingin Nata terluka lagi, sungguh pilihan berat memang. Namun setiap hari ia selalu memikirkan nasib Angkasa sampai ia mendengar perceraian mereka dan keadaan sudah kembali tenang.
Faas memutuskan pulang namun masih dalam pengawasan ketat mertuanya.
Namun yang menjadi masalah adalah, ternyata si Lucas adalah cucu sahabat mertuanya sehingga Dharma tidak boleh gegabah dalam membalas dendam perbuatan keji Lucas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Angkasa (End)
Teen FictionAngkasa tak sengaja menyeret dosennya ke altar dan mengucapkan ikrar pernikahan saat dirinya sedang mabuk karena patah hati. kehidupannya yang berjalan normal, kini berubah sangat drastis karena dosen itu tidak ingin membatalkan pernikahan tak senga...
