[Cerita ini diikutsertakan dalam event pensi volume 2]
Amerta itu artinya abadi.. Sama seperti nama Arshena yang menjadi abadi karena dicintai oleh gadis bernama Kasih Bunga Rinjani sang penulis.
Cerita ini di tulis untuk seorang pemuda yang memilik...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
—Halo! Selamat datang dan selamat berkelana menikmati perjalanan Kasih & Arshena>>>🌷
Happy Reading!!✨
• • •
"Bukankah hebat ketika dua insan terus dipertemukan jika bukan karena takdir Tuhan?"
-Kasih Bunga Rinjani
***
Derap langkah kaki kedua gadis yang berjalan di lorong kelas membuat suasananya sedikit berwarna, sore itu seperti yang sudah dijanjikan oleh kedua gadis remaja itu, Kasih dan Thalita pergi menuju ruangan Pak Sanja untuk menebus kesalahan mereka saat jam pelajaran matematika.
Sekarang mereka sudah berdiri tepat di depan pintu kaca "Kau masuk duluan Kasih, aku tak berani," ucap Thalita menyenggol bahu milik Kasih dan menyuruhnya membuka pintu ruangan, Kasih menggelengkan kepalanya kuat.
"Gak ah, aku takut." ucapnya, gadis dengan rambutnya yang terurai itu menghela napas pasrah, dirinya menghela napas pasrah, gadis itu mencoba mengumpulkan keberanian untuk mengetuk pintu ruangan Pak Sanja sedikit keras dan menimbulkan bunyi yang berisik di telinga.
"Silahkan masuk." sahut seorang laki-laki dari dalam ruangan, salah satu dari kedua gadis itu mulai membuka sedikit demi sedikit pintunya, baru Thalita membuka pintu ruangan ia kembali menutupnya cepat.
"Kenapa Ta?" tanya Kasih heran setelah melihat wajah Thalita yang sedikit pucat, Thalita membuka kembali pintu kaca itu dan membiarkan Kasih untuk melihatnya.
Gadis berjilbab putih itu tersentak sesaat, ia tak percaya dengan apa yang dirinya dan teman barunya itu lihat. "HEI! CEPAT MASUK!" seru Pak Sanja yang sudah menunggu di ruangannya, Kasih mencoba mengatur dirinya perlahan, ia kembali membuka pintu kaca dengan suara berisik itu dan berhasil membuat perhatian semua orang yang berada di dalam terpana padanya, "Permisi," sapanya seraya menundukkan pandangan karena malu.
"Nah ini dia yang ditunggu-tunggu." ujar Pak Sanja sinis ketika melihat kedua gadis remaja masuk kedalam ruangannya, "Silahkan duduk, atau mau berdiri saja?" lanjutnya menaikkan salah satu alisnya.
"Eh kamu, yang suka nabrak aku itu ya?" suara laki-laki terdengar lembut namun tegas mengajak mereka bicara, Kasih mengangkat wajahnya dan mengangguk perlahan menanggapi pertanyaan dari sang empunya. "Oh kalian yang ngomongin aku sama Satria," lanjutnya membuat kedua gadis itu panik tak karuan.
Suasana ruangan hening sesaat, Pak Sanja bangun dari kursinya untuk mengambil secarik kertas putih dan menyuruh mereka menanda tangani kertas kosong untuk menjadi bukti nyata mereka akan pulang terlambat, suara notifikasi dari ponsel milik Kasih membuat semua mata tertuju kearahnya, "Maaf." ucap gadis itu seraya mematikan panggilan dari ponselnya.