[Cerita ini diikutsertakan dalam event pensi volume 2]
Amerta itu artinya abadi.. Sama seperti nama Arshena yang menjadi abadi karena dicintai oleh gadis bernama Kasih Bunga Rinjani sang penulis.
Cerita ini di tulis untuk seorang pemuda yang memilik...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
—Halo semua! Selamat berkelana menikmati perjalanan Kasih & Arshena>>>🌷
Happy Reading!✨
• • •
"Terkadang aku ingin sekali melihat kemana Tuhan akan membawaku tapi, aku sadar bahwa hidup ini memang dipenuhi dengan kejutan yang tak terduga, kadang kejutan itu berupa kebahagiaan, bahkan bisa jadi berupa atas patah hati."
–Arshena Tamael Pramudya
***
Arshena memarkirkan motornya di pinggir jalan dengan pemandangan rumah kayu miliknya setelah pulang sekolah, pemuda yang masih mengenakan seragam itu turun dari motor dan langsung mengetuk gerbang kayu di hadapannya.
Suara derit pintu gerbang bernuansakan kayu jati yang dibuka membuat Arshena sedikit menarik napas dalam, ia menyunggingkan sedikit senyum manis dan mengangguk perlahan ketika melihat sosok Pak Yanto berdiri di belakang pintu seraya menyipitkan mata.
"Ayah sudah pulang Pak?" tanya Arshena seraya menyunggingkan senyuman manisnya.
"Sudah den," jawab Yanto seraya membukakan lebih lebar lagi gerbang kayu tersebut.
Arshena kembali menaiki motornya yang sempat ia parkir di pinggir jalan, ia melewati tubuh Pak Yanto yang masih berdiri di depan gerbang seraya menunggu pemuda itu masuk bersama motornya.
Pemuda itu membuka pintu kayu di hadapannya dan mengucapkan salam, ia berjalan kearah ruang keluarga dan mendapati Ayah dan Bundanya tengah duduk bersama di sebuah sofa berwarna coklat itu, "Ayah? Kok Ayah sudah pulang?" ucap Arshena berhasil membuat kedua orang tuanya menoleh kebelakang dan menatapnya.
"Kenapa sih? Kalian kenapa selalu bikin Arshena deg-degan gini sih? Ayah kenapa Bun?" Beribu pertanyaan yang dilontarkan Arshena tak satupun digubris oleh kedua orang tuanya, Guntur menarik napas dalam seraya menatap lekat wajah putra tunggalnya yang masih memancarkan wajah bingung.
"Ayah gak jadi pergi nak, teman Ayah menelpon Ayah kemarin, katanya anaknya masuk rumah sakit dan perlu dioperasi minggu depan-" Belum ucapannya selesai mulut Arshena sudah gatal ingin berbicara.
"Dia mau pinjam uang?" tanyanya dan membuat Arin beserta Guntur menatap heran putranya, "Arshena salah ya." Pemuda itu sontak dia seribu bahasa dan menunggu Ayahnya melanjutkan penjelasan yang sempat ia potong.
Guntur berdeham seraya membenarkan posisi duduknya, "Dia ingin Ayah menjadi dokternya Arshena." kalimat dari Guntur ini berhasil membuat Arshena mengernyitkan dahinya.