PART 25 | GRADUATION [END]

384 18 3
                                        

•HOME SICKNESS•

•GRADUATION [END]•

"Kamu habis sakit ya Hao?"

"Iya pak. Tapi skripsi saya sudah di koreksi kan pak? Sudah dikasih tanda tangan lulus kan?" tanya Zhang Hao antusias.

"Selamat ya Zhang Hao. Selamat menyandang gelar sarjanamu."

Sang dosen menyerahkan sebuah undangan wisuda yang diwadahi dalam amplop warna putih dengan aksen warna kuning. Setiap fakultas memiliki warna aksen mereka masing-masing dan fakultas yang menaungi Zhang Hao kebetulan memiliki warna aksen kuning.

Zhang Hao menerima undangan tersebut dengan wajah menahan tangis. Ia menatap amplop undangan yang terdapat namanya ditulis dengan tinta emas. Ia langsung memeluk sang dosen ketika sang dosen menawarkan sebuah pelukan.

Dan situasi tersebut kurang lebih sama seperti yang dialami Hanbin. Keduanya berhasil lulus dengan waktu yang sama.

"Besok aku jemput kalian ya?!" tanya Zhang Hao melalui panggilan telepon dengan orangtuanya.

"Jangan! Kita naik kereta saja menuju tempatmu. Kamu harus tampil mempesona Hao sayang. Ibu sama ayah gak masalah sama sekali kalau gak dijemput di bandara."

"Huh... Ya sudahlah," kata Zhang Hao mengalah. Kalau sudah seperti ini maka dirinya hanya bisa mengiyakan atau debat ini akan terus berlangsung.

"Ok. Selamat malam Zhang Hao."

"Malam."

Zhang Hao menatap ponselnya yang mati. Panggilan sudah berakhir tandanya. Ia pun beranjak menuju ke arah Hanbin yang sedang tiduran di kamar.

"Lusa acara kelulusan kita. Kamu seneng kan?" tanya Hanbin dengan wajah cemberut.

"Iya dong. Kamu kayanya gak senang," ujar Zhang Hao sembari mengenggam pipi Hanbin.

"Kamu berarti sebentar lagi bakal pulang ke China?" tanya Hanbin dan Zhang Hao yang awalnya tersenyum tiba-tiba merubah ekspresinya menjadi datar.

Hanbin tampak menunggu sang kekasih berucap. Namun Zhang Hao tampak berpikir keras. Ia sebenarnya pernah mengatakan sesuatu pada orangtuanya. Bahwa dia akan kembali dengan membanggakan mereka berdua.

Kalimat itu ia ucapkan ketika meminta restu pada orangtuanya. Ia mengucapkan itu bermaksud sebagai jaminan bahwa orangtuanya tidak salah langkah melepaskan dirinya di negeri orang untuk kuliah.

Dan entah kenapa hari ini, Hanbin kembali mengingatkannya pada hari itu. Ia menatap Hanbin yang tampak melas menatapnya. Hanbin tampak berharap kalau mereka tidak akan berpisah.

"I'll be with you no matter what."

"Really?"

"Pinky promise." Hanbin seketika mengembangkan senyumnya ketika Zhang Hao mengajaknya janji kelingking. Mereka pun langsung menautkan kelingking mereka dan tersenyum lebar menatap satu sama lain.

Keduanya bertatapan cukup intens sebelum Hanbin melepaskan kelingkingnya dan memilih memeluk Zhang Hao. Ia memeluk Zhang Hao cukup erat namun Zhang Hao tak nampak adanya protes. Justru Zhang Hao berusaha menyamankan dirinya yang mungil di badan Hanbin.

HOME SICKNESS | BINHAO/HAOBIN [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang