9

10 6 0
                                    

"El, ayo belajar. Masih ada gue yang mau belajar."

Sumpil. Saat ini juga rasanya Petra ingin menangis. Kepalanya ia angkat lalu menatap Armin penuh makna. "Seriusan..." Matanya langsung mendelik terbinar-binar.

Armin yang ditatap seperti itu agak salbrut. Walaupun maknanya bukan itu. Ia manggut-manggut meyakinkan Petra jika ia memang benar-benar ingin belajar. Namun pada kenyataannya sih sebenernya nggak mau. Yah, cuma gimana ya...

Tangis Petra berubah menjadi rasa sumringah. Walaupun tidak semuanya setidaknya masih ada Armin yang mau ia ajak kerja sama. Nggak pa-pa, bruh. Yang lain mah nanti aja nggak pa-pa.

"Ayo!"

"Tapi jangan disini lah, gue nggak bisa nulis," keluh Armin melihat tempat yang nggak ada layak-layaknya buat belajar. Bayangin, mereka suruh belajar di rerumputan. Mana rumput Jepung, bakal sakit pantat mereka karena ketusuk-tusuk daunnya.

Petra menoleh menunda mengeluarkan alat tulis dan materi yang akan ia ajarkan. Raut wajahnya seolah-olah mengatakan terus maunya kemana? "Tempat deket kolam aja. Disana lumayan sepi."

Tanpa tetek-bengek lagi keduanya langsung otw menuju lokasi. Lumayan jauh juga sebenarnya mengingat rumah yang segede ego manusia. Agaknya memakan waktu 5 menit untuk mereka tiba ditempat tujuan.

Karena tak sabar lagi ia duduk mendahului Armin yang udah lesu pengin balik ke lautan kapuk. "Oke, untuk mengawali kegiatan kita kali ini, alangkah baiknya kita berdoa terlebih dahulu. Biar dikasih kelancaran pas belajar nanti."

"Ya." Aksa mengangguk singkat. Terkutuk gue, terkutuk! Kenapa musti ngomong begitu, blok, goblok!! Boleh tidak jika ia menarik ucapannya? Ia tidak ingin belajar, Armin ingin bogan alias bobok ganteng.

"Ya Allah semoga belajarnya cepet selesai. Ya Allah kuatkan lah iman dan takwa hamba. Ya Allah tingkatkan ketabahan hamba dalam  menghadapi cobaan ini..." Rapal Aksa begitu tertekan. Kasian banget coy, kelihatan kalo nggak pernah belajar.  "Ya Allah, Ya Allah ... YA ALLAH, BUSET!!"

Lagi khusyuk-khusyuknya berdoa. Petra menepuk pundaknya. "Berdoa nya udah, Ar. Khusyuk bener. Gue kira Lo tidur." Ia memegang dadanya yang berdetak lebih kencang dari biasanya.

Ingin rasanya Armin menjotos Petra. "Ya maaf ngagetin," ucap Petra ketika Armin memandangnya dengan bombastis side eyes.

"Gue maunya belajar bahasa Jawa dulu," timpal Armin sebelum Petra berhasil mengeluarkan buku Matematika dari tote bag nya.

"Besok Senin nggak—"

"Ya udah gue balik aja, ya?" Petra tersenyum kecut.

"Ya udah ayo kita belajar bahasa Jawa sekarang. Tapi gue nggak bawa bukunya."

"Gue ambil dulu." Petra mengangguk. Segera Armin pergi mengambil buku bahasa jawanya. Sudah lah mau bagaimana lagi. Sudah terlanjur ia tidak ingin membuat gadis ini bersedih karena tak ada yang mau belajar dengannya.

"Jangan lama-lama." Armin mengacungkan jempolnya.

Sementara kesibukan mereka terganggu ketika bunyi engsel pintu berdengung dari dalam ruangan itu. Tanpa banyak ceng-cong Armin masuk begitu saja tanpa mempedulikan tatapan mereka. Mengobrak-abrik lemari.

"Anteng bisa nggak, sih?!" tegur Marco saat suara gubrak-gubrak mengganggu peri tidurnya. Ya elah Marco ini.

"Lo beneran belajar sama tuh cewek jahanam?" tanya Karma ketus tanpa mengalihkan mata tajamnya dari benda gepeng.

"Mataram is read, Mataram is blue. Hooh," jawab Armin agak dramastis. Karma mendengus mendengar jawaban Armin.

"Nah, ketemu." Seperti menemukan harta Karun yang telah terkubur jutaan tahun yang lalu sebelum bumi ini terbentuk. Ia mengangkat buku kumel itu setinggi-tingginya. Padahal nggak ada bagus-bagusnya sama sekali.

Sudah kumel mana digulung lalu dihimpit pada ketek pula. Dasar! Bisa bau ini. Ia bergegas keluar untuk menemui Petra.

"Mau-maunya Lo belajar sama tuh orang?" timpal Erwin yang nggak tau sejak kapan ada diruangan tersebut. Keberadaannya emang suka samar-samar. Gaib.

"Gue cuma kasian..." Alasan yang begitu klise.

"Emang dasarnya gampangan." Karma Berdecih geli.

Asli, nih orang emang suka cari perkara.

Sebelum benar-benar pergi. "Apa sih, Lo?! Suka-suka gue mau ngapain. Lo Mak gue?"

"Nyenyenye." Karma mulai mengejek. Kenny yang sendari tadi hanya menyaksikan perdebatan mereka tanpa ada niatan untuk ikut campur mulai menengahi.

"Udah bang, udah."

"Biasanya juga ogah-ogahan pas ayah nyewain guru les sebelum dia."

"Lah kenapa emangnya? Ada yang salah Kalo sekarang gue les? Gue cuma mau ngukur kemampuan dia aja. Seberapa pinternya dia yang kalo kata orang, dia adalah murid paling pinter di SMA," sanggah Armin tidak ingin membuat Karma salah paham.

"Lo suka kan sama dia?"

"Coba balik aja pertanyaan itu ke diri Lo. Kalo Lo emang mau belajar bareng dia, tinggal dateng, nggak usah pake acara, li siki simi dii?" Aksa mengulang ucapan karma sambil di menye-menye kan. Lalu meludah sembarangan. Membuat tensi Karma langsung naik sampai 100%

"Heh najis anjing! Bersihin nggak, lo?!" jerit Erwin mulai tak karuan ketika melihat ludah bau yang ada di ruangan tersebut.

Armin langsung saja melenggang pergi. "SIALAN!"

Aduh Abang karma ini emosian banget.

Sesampainya di sana ia langsung mendaratkan bokongnya. Petra menoleh ketika merasakan kehadiran seseorang. "Lama banget," sungut Petra kesal.

"Ya maaf, kayak Lo nggak tau aja nih rumah kayak apa."

"Ayo mulai."

Petra rasanya bingung ingin mulai dari mana. Ia hanya membolak-balik kan halaman demi halaman sambil sesekali melirik Armin yang hanya menopang kedua tangannya di dada. Karena jengah ia bertanya, "Ini Lo mau belajar yang bab mana?!"

"Terserah." Petra menghela napas panjang.

"Unggah-ungguh basa? Geguritan? Pawarta? Sesorah? Pilih mau yang mana, karena kita cuma belajar 4 bab itu." Petra memberi pilihan.

Armin berpikir cukup lama, lalu ia memutuskan untuk belajar. "Aksara Jawa." Anak setan, anak amjeg emang. Petra menatap Aksa datar. Pengin deh sentil ginjal Aksa.

"Tapi kita nggak ada materi itu."

"Gue maunya itu. Walaupun bukan materinya di assessment selalu keluar tuh aksara jawa."

Petra mengalah. Ia menuruti kemauan Aksa. "Oke-oke." Penting mau belajar, dah!

"Oke disini sebelum masuk latihan nulis aksara jawanya gue mau cerita dulu sejarah singkat terciptanya aksara Jawa," Armin mulai memasang telinga. " Jadi, pada zaman dahulu—"

"Njir!" Armin tertawa sedikit karena merasa geli.

"Dengerin sialan!" Petra menghela nafas lalu melanjutkannya lagi. "Dulu ada seorang pengembara namanya adalah Aji Saka, Beliau punya dua abdi. Nama abadinya yaitu dara dan....

Begitulah Petra mendongeng.

"Boleh juga nih cewek."

TBC

Mungkin benih-benih bayam eh maksudnya cinta mulai tumbuh di dalam hati Armin?😍

Nggak ada yang tau🙂

Ayo kita ikuti terus kisah mereka sampai ending🥳

Makasih banyak udah mau baca:)

QUINTUPLETS (Slow Update)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang