2

16 16 7
                                    

"Assalamualaikum," salamnya menggelegar ke seluruh penjuru rumah begitu ia pulang dari sekolah tercintanya.

"Wa'alaikumsalam," jawab Sasya yang kepalanya tiba-tiba nongol dari balik pintu. Membuat Petra sedikit terkejut.

"Kamu lagi ngapain?" tanya Petra lembut kepada adik perempuannya itu.

"Lagi belajar Matematika, nih, kak." Ekspresi wajahnya seketika berubah menjadi lesu. Firasat, beliau ini nggak bisa ngerjain.

"Bisa nggak? Nggak pasti," tebak Petra tepat sasaran.

"Kakak tau aja," sungutnya kerena mudah ditebak. "Makanya ajarin dong kak. Tadi aku kan ulangan matematika di sekolah masa aku dapat nilai pas KKM. Malu banget, ih, rasanya... "Keluh Sasya dengan ekspresi sedih.

Kita sama kok Sasya kalo nggak bisa ngerjain emtekah, mulutnya nggak pernah absen yang namanya ngeluh. Padahal ngeluh sebelum usaha maksimal itu kurang baik lho man-teman. Oke, skip.

"Dih, jelek bener. Kayak kakak ini lho setiap ulangan dapet nilai seratus," ucapnya begitu angkuh sekaligus mengejek. Oke watak Petra itu selain rada songong juga sombong.

"Idih kakak sekarang sombong bet. Liat aja kalo Sasya sampe dapet nilai seratus. Pokoknya kakak harus kasih aku buku tulis satu paket!" taruhannya ingin menunjukkan kepada Petra.

"Sasya nggak asik, mainnya taruhan," canda Petra sambil memalingkan muka.

"Bodo amat." Yeeee malah si Sasya merajuk.

Dan Petra tertawa dalam hati kerena berhasil menggoda adik satu-satunya sampai marah.

"Utuutuutuu adek siap si kalo marah imut banget?" godanya agar tak marah lagi.

Yang tadinya terdapat tanduk banteng di kepala sasya, kini beralih muncul rona merah di pipi bakpaonya. "Ih, kakak apaan si." Petra pun tertawa karena tingkah adik lucunya itu.

"Udah kak jangan ketawa! Aku mau bilang sesuatu nih, nanti malah lupa lagi," katanya memperingati.

"Mau bilang apa?"

Sasya lantas mengambil lembaran kertas yang terselip disalah satu lembaran buku tulis. Mirip seperti brosur.

"Nih, kak, baca sendiri. Tadi aku Nemu di jalan." Sasya menyodorkan kertas itu kehadapan Petra. Isi dari brosur tersebut seperti memberikan tawaran lowongan pekerjaan.

"Lumayan loh kak cuma jadi gurus les. kakak kan juga pinter. Sabi lah kalo suruh ngajar. Palingan juga ngajar bocah SD," ucap Sasya enteng. Namun tak ada respon dari Petra, lalu ia meng-imbuhi. "Satu jam les aja bisa berapa, tuh? coba kalo lebih?" lanjutnya sambil membayangkan uang yang akan di terima agar si kakak pintarnya ini mau mengikuti saran yang ia berikan.

"Bener juga ya," ucapnya setelah melirik bayaran yang akan ia dapatkan selama satu jam les. "Oke, kakak bakal nelpon nih nomer. Semoga kakak jadi yang pertama."

"Aamiin, semoga rezekinya kakak."

Lalu Petra mengetik nomer tersebut di setan gepengnya. Dengan segera ia menghubungi nomor tersebut.

"Assalamualaikum?"

"Wa'alaikumsalam, mohon maaf ini dengan siapa?" tanya orang di seberang sana.

"Sebelumnya perkenalkan nama saya Petra Issabella. Kebetulan tadi saya menemukan selembar brosur dimana isinya berupa penawaran jasa sebagai guru les. Jika anda mengizinkan bolehkah saya menjadi guru les anak anda? Dan apakah peluang ini masih berlaku?" tanyanya cemas, sambil menggigit bibir bawahnya.

Sempat tidak ada jawaban dari pihak seberang. Petra yang keringat dingin, Sasya yang panik bukan kepalang langsung berzikir sambil memejamkan mata. Menyebut kata 'Ya Allah Ya Allah' sebagai bentuk permohonannya.

"Ya, Petra, saya memang sedang mencarikan guru les untuk anak saya dan itu masih berlaku. Terlebih belum ada yang mengajukan diri ingin menjadi guru les untuk anak saya, dalam arti kamu adalah orang pertama yang mengajukan diri.

Jika kamu betul-betul berminat, datangi saja di apartemen saya. Alamat dan waktu pertemuannya akan saya kirim lewat pesan. Sudah dulu sampai bertemu kembali. Wassalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam."

Lalu sambungan pun terputus.

Keduanya saling bertatapan seolah mengerti apa yang sedang masing-masing katakan. Lalu malah joget pargoy untuk merayakan kesuksesan Petra. Nge-pargoy dulu nggak sieh😋

"Sasya, Kakak yang pertama kalo kamu tau," ucapnya sangat senang bukan main.

"Alhamdulillah. Seenggaknya kita bisa meringankan ayah," kata Sasya.

"Iya. Eh ini kakak dapet pesan ketemuan nya jam tiga."

"Lah ini udah jam setengah tiga kak," balas Sasya mlongo menatap jarum pada benda bundar yang bertengger di tembok.

"Astagfirullah! Kakak harus siap-siap sekarang," ucapnya lalu bergegas masuk kamar dan berganti pakaian denga tergesa-gesa. Sasya yang melihat keantusiasan kakaknya hanya geleng-geleng kepala.

Dengan kecepatan kilat, cukup lima menit Petra sudah rapi— nggak sih, nggak rapi asli. Baju saja kontras dengan celananya lalu rambut juga awut-awutan seperti genderuwo, tapi bodo amat lah!

"Sasya, Kakak berangkat dulu. Nanti kalo ayah nyariin kakak, bilang aja ya," teriaknya dari luar rumah.

"Iya kak," balas Sasya dengan teriakan juga.

Keduanya melambaikan tangan. "HATI-HATI KAK!"

Sasya memandang jauh ke depan ketika Petra sudah tak terlihat lagi batang hidungnya. "Kakak ku ini... energik betul."

TBC

Oke ngap  sekian dulu. Terimakasih udah baca:D✌️

QUINTUPLETS (Slow Update)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang