"LO TAU BERISIK? BERISIK BET ANJING!"
"Dikira apa Lo kek gitu?! Keren?! BUSUK BANGET LO BAJINGAN!"
"Oh, Lo suka juga sama Petra, Hmm?" Marco bangkit dari tempat ia terlelap sesaat.
Eh plis nih bang Erwin ada ribut-ribut kek gini tetep santuy makan batagornya ya guis. Tetap anggunly and sleyy sambil nunggu keduanya adu bacok sampai bonyok, baru ia akan angkat tangan.
"Ronde satu," ucap Erwin sambil memasukkan batagor ke dalam mulutnya.
"Beraninya cuma sama cewek!" Karma tersenyum miring menanggapi ucapan Marco.
Karma bersiul seksi. Kedua netra tajam itu saling berhadapan. Siap kapan saja akan menerkam.
"Awalnya gue emang sependapat sama Lo, Kar. Gue benci dengan hadirnya cewek itu, hari-hari gue jadi keganggu. Tapi— NGGAK GITU JUGA TOLOL!" Marco menumpahkan cairan itu tepat ke wajah Karma.
"Njing! Jus jambu gue." Erwin menghela nafas kasar. Ingin minum saja tak tenang. Is is is...
Namun karena masih ada jus nganggur milik adik-adiknya ya sudahlah ia minum saja."SIALAN!" Karma langsung mencengkram kerah Marco. Nafasnya kembang-kempis. Menahan amarah.
Lagi-lagi mereka berhasil menyita seluruh intensitas. Mereka juga tak ada niatan untuk melerai perkelahian antar saudara ini.
"Lo kalo mau ngehina tapi nggak gitu juga tolol. Lo ngehina cewek kayak gitu sama aja Lo udah ngrendahin harga diri bunda sebagai cewek. Kalo ngomong tuh mikir! OTAK ITU DI PAKAI!"
Setelah itu terjadilah perkelahian antar Karma vs Marco. Ayo kita taruhan kira-kira yang menang bakal siap ya?
Berbagai umpatan tak senonoh terucap dari mulut mereka. Mulai dari anjing, babi, monyet, pocong, Kunti, Mr. P, Mrs. V, galon, panci, centong, wajan— Ke-absen semua dah sama mereka.
Istirahat kali ini benar-benar dibuat heboh. Tidak ada guru yang melerai juga.
GURUNYA PADA LENYAP KEMANA WEH?!😭
Suara pukulannya memang tidak begitu terdengar. Namun para penonton berhasil dibuat ngeri karena lumuran darah mulai menetes. Bisa dibayangkan bagaimana aksi mereka yang brutal abis. Karma yang keras kepala dengan Marco si pangeran tidur. Keduanya tidak bisa diganggu gugat.
Suara pekikan histeris dari penonton juga menjadi pengiring dalam perkelahian itu.
Bahkan alur cerita dari perkelahian itu sudah mulai mengarah ke hal yang lain.Akhirnya.... Jeng jeng jeng. Bang Marco menang.
"Dasar aib keluarga, bisanya cuma cari gara-gara doang!" Marco mengakhirinya dengan pukulan telak. Karma jatuh terkapar tak berdaya.
"BUBAR, BUBAR!" Sesuai arahan Marco, semuanya membubarkan diri, tinggalah mereka dan sedikit orang yang memang masih belum niat beranjak dari sana.
Bertepatan dengan itu suara bel berbunyi. "Sekali lagi kayak gini. Siap-siap aja Lo lumpuh seumur hidup." Lalu ia meludah ke arah Karma. Menyugar rambutnya kebelakang, serta mengelap ujung bibirnya yang berdarah. Membenarkan persendian yang rada geser tadi waktu berantem sama karma.
Kemudian memungut bantal berkepala Dora yang terletak di atas meja dan melenggang pergi begitu saja. "Ganggu orang tidur aja, heran gue."
"Hidangan yang mantap." Lagaknya kek bangsawan selesai makan. Ia membayar ke ibu-ibu kantin yang sudah gemetar dari tadi karena melihat keributan di tempatnya mencari nafkah.
"Er, tolongin gue..." Dengan wajah yang penuh akan lebam Karma masih sempat bicara saat Erwin melewati dirinya begitu saja tanpa ada niat menolong. Gini amat punya saudara!
"Oh, masih hidup?" Karma mengabaikan
perkataan Erwin."Kebo sialan!" Ia susah payah mengangkat tubuhnya, namun tak bisa.
"Tampangnya aja preman tapi aslinya cuma tempe," tukas Erwin sinis.
"Pantas Lo dapat semua ini, Kar." Erwin mulai memapah tubuh Karma.
"Gara-gara cewek itu—"
"Childish!" Kang Erwin jadi geram sendiri mendengar Karma yang terlalu melebih-lebihkan suasana. "Bener, Lo itu emang bikin malu satu keluarga aja bisanya, Kar."
"Lo nggak suka sama dia? Kita sama, goblok!" Erwin memberi jeda.
"Lo pikir dengan Lo kayak gini dia bakal nyerah gitu, hah? Cukup bikin dia gagal jadi guru les kita, Kar. Kayak yang udah kita lakuin sebelum-sebelumnya. Minimal otak tuh di pakek!" Sambil menoyor kepala adiknya. Kesel sendiri ia yang ngrasaiin. Capek— capek banget setiap hari kayak gini. Selalu aja buat keributan. Kalo gini kan dia juga yang repot, ah.
"Justru Lo itu yang caper." Mempertegas di akhir kata.
Siapa yang suruh ceramah? Ia tak butuh itu. Karma mendorong Erwin, melepas dari papahan Erwin. "Gue nggak butuh ceramah, sialan!"
Susah payah ia memapah tubuhnya sendiri dengan bantuan tembok. Ia mencoba berjalan sendiri. Erwin mematung ditempat. "Oke. Fine."
"Mati aja kalo perlu. Gue nggak butuh orang kayak Lo."
Kemudian melenggang pergi meninggalkan Karma tanpa sepatah kata pun. Punggungnya perlahan hilang termakan panjangya lorong. Karma masih dengan susah payahnya, memapah tubuhnya. Syukurlah kali ini benar-benar sepi. Mungkin perkelahian ini belum menyebar sampai ke mulut guru dan murid lainnya.
Saat ini ia tidak ingin berada di kelas maupun di UKS untuk cari bantuan. Yap, ia akan pergi ke halaman belakang sekolah dimana perkumpulan tempat anak-anak mbolos.
"Njing, sakit banget. Kebo anj— argh!" Ia merasakan perih disekitar gusinya.
Sudah berkali-kali juga sebenernya ia dibuat bonyok dengan Marco. Walaupun Marco ini suka tidur namun ia ini sebenernya pernah memenangkan silat tingkat provinsi lhoooo. Pantas lah saja jika Karma kalah dalam perkelahian ini.
Sebenernya tak masalah muka dan perut di gebuk. Tapi ini kaki kayaknya agak di buat mengsle sama si bang Marco-kun, deh, makanya ia jadi susah jalan. Itu lah yang dikeluhkan oleh Karma.
Setelah menempuh beberapa meter menuju halaman belakang sekolah sampai juga akhirnya, ia bisa bernafas lega. Segera ia merebahkan tubuhnya di pendopo. Syukurlah kali ini tidak ada orang yang mbolos jadi ia bisa leluasa.
Setelah itu ia merebahkan tubuhnya. Mengatur nafas yang mulai sesak. Cukup lama ia termenung memikirkan segala hal yang telah terjadi.
Apa ia salah karena telah berbuat seperti itu? Kenapa ia harus melakukan itu? Apa gunanya? Apa tujuannya? Apa maksudnya?
Makin mikir ke sana ternyata malah makin ke sini. Argajsj#@$."Bunda, Karma hari ini lagi-lagi berhasil di buat bonyok sama si Kebo dan berantem lagi sama mereka semua."
Lalu terlelap bersama angin.
TBC
Mengsedih, wajah tamvan Karma jadi bonyok😣😣
Nih, juga si kang Erwin malah diem-diem bae, dasar. Semuanya emang nggak pernah beres')
Terimakasih udah baca💙💙

KAMU SEDANG MEMBACA
QUINTUPLETS (Slow Update)
Teen FictionKenal dengan anaknya itu adalah sebuah anugrah- anugrah terburuk yang pernah gue alami SE UMUR-UMUR! BUSET DAH! Tapi mengenal bapaknya adalah definisi nikmat Tuhan mana lagi yang ingin kau dusta kan abangkuhhh!!! :D Tapi ini bukan tentang gue yang...