Kini mereka berdua berada di halaman belakang. Duduk di bangku yang tampaknya lusuh namun masih kuat untuk di duduki mereka berdua. Keadaan di antara mereka terdengar begitu sunyi hanya angin sepoi-sepoi dan suara jangkrik krik-krik mengisi kesunyian mereka berdua.
Hingga detik-detik terakhir...
Njir lah detik-detik terakhir kek mau meninggal aja.Hingga di detik-detik selanjutnya pun salah satu dari mereka belum ada yang mau membuka suara. Rasa canggung dan malu yang terus merauk pada diri mereka, serta bingung topik pembicaraan apa yang nantinya akan mereka bicarakan.
"Emm, mohon maaf, kalo boleh tau nama Lo siapa?" tanya Armin. Petra yang mendengar pertanyaan Armin pun sempat bingung. "Gu-gue lupa soalnya, hehehe maaf ya." Dasar Armin ini memang pikun
Lantas Petra kembali memperkenalkan diri nya. "Nama gue Petra."
"Nama panjangnya?"
"Petra Isabella." Armin pun hanya manggut-manggut. Kemudian situasi kembali seperti semula. Namun itu tak berlangsung lama lalu Armin membuka suara lagi.
"Gue boleh panggil Lo Ela?"
"Y-ya boleh-boleh aja," jawabnya sedikit merasa aneh.
Pasalnya selama ini tak ada seorang pun yang pernah memanggil nya dengan nama seperti itu.
"Soalnya menurut gue nama Petra tuh kaya nama anak laki-laki. Padahal orangnya cantik banget gini, lho." Waduh si Armin mulai ketularan Kenny.
Petra yang mendengar tersipu malu.
"Beneran boleh, kan?" Armin memastikan. Takut-takut jika nanti Petra tidak suka dan tidak nyaman, bisa berabe dia.
"Iya," jawabnya singkat.
"El gue-"
"Ya udah, kita mulai belajar aja yuk," ajak Petra memotong perkataan Armin. Ah, rasanya kaku sekali ketika berada di dekat Armin. Beda banget pas sama 2K itu, Alisa Karma dan Kenny, kalo nggak adu bacot ya bikin Petra risih.
360° raut wajah Armin berubah seketika, merasa tak senang dengan kalimat yang telah dilontarkan oleh Petra. "Kalo belajarnya besok aja gimana?" tawar Armin.
"Ya nggak bisa dong, harus sekarang!" tuturnya tanpa bantah.
Armin hanya bisa menghela nafas panjang. Pasrah dengan semua yang Petra katakan.
"Sekalian minta tolong ya, ajak semua saudara-saudara Lo biar kita nanti belajarnya bareng-bareng," ucapnya. Armin hanya mengiyakan sebagai jawabannya.
Dengan ogah-ogahan Armin balik lagi kedalam rumah untuk memanggil semua saudaranya. Memboyong kehalaman belakang bertemu dengan Petra lalu berkumpul memulai pembelajaran.
Sambil menunggu. Petra melamun ke depan. "Kenapa gue ngerasa aneh sama semua ini?" Waduh yabai! Ada apa dengan si Petra?
Ia menunduk menatap genggaman tangan di atas pangkuannya. "Gue... Malah jadi takut, njir!"
Ternyata tak butuh waktu lama Armin untuk membawa semua saudaranya. Mereka berlima-kecuali Karma tentunya. Jadinya cuma berempat, hehe. Ya karena dia masih dongkol makanya ogah diajak. Begitulah kata Armin kepadanya.
Mereka berdiri didepan Petra sembari memasang wajah yang sangat membagongkan lagi tak enak dilihat.
Marco dengan guling dan ilernya. Curiga banget kalo baru bangun. Lalu Kenny dengan es tehnya. Kemudian Erwin dengan sapunya. Nggak tau asli, nih, Erwin mau ngapain, dah? Emang suka agak lain bocah yang satu ini.
Petra memandangi mereka satu-persatu dari tempat ia duduk. Wuidih, kek bos besar bener gue disini, liat anak buah pada berdiri nunggu perintah gue. Icikiwir.

KAMU SEDANG MEMBACA
QUINTUPLETS (Slow Update)
Teen FictionKenal dengan anaknya itu adalah sebuah anugrah- anugrah terburuk yang pernah gue alami SE UMUR-UMUR! BUSET DAH! Tapi mengenal bapaknya adalah definisi nikmat Tuhan mana lagi yang ingin kau dusta kan abangkuhhh!!! :D Tapi ini bukan tentang gue yang...