"Ayo dong lanjutin, tinggal dikit lagi sun-sunan."
"BACOT!" Petra dan Merco bersamaan.
"Huess, sampai barengan gitu!"
Yang mengatakan seperti itu tentulah anak Grisha yang paling badung siapa lagi kalau bukan Karma. Masih dengan balutan kain kasa menempel indah di bagian luka wajahnya.
"Mau gue bikin lumpuh?" gertak Marco.
"Seenggaknya sebagai saudara yang baik tunggu gue pulih dulu lah," jawab Karma santai.
"Nggak usah cari masalah di depan makam bunda!" titah Erwin dingin.
"Lo juga disini, El? Kok tau kalau sekarang hari meninggalnya bunda."
"Iya, kemarin di ajak sama Om Grisha kesini, jadinya tau," ucap Petra dengan nada canggung.
Armin dan Kenny hanya ber-oh ria. Setelah itu ke-empat bocah kembar berdoa, mendoakan sang bunda agar tenang di alam sana. Begitu selesai ke-empat anak itu menaburkan bunga dan meletakkan sebuket bunga di atas makam Hannah.
Disana berjajar enam rangkaian bunga dengan warna yang berbeda-beda. Petra yang melihat melihat mengembangkan senyumnya penuh haru. "Tante beruntung ya punya anak dan suami yang sayang banget sama tante," guman Petra masih didengar oleh kelima anak itu. "Andai tante masih hidup... "
"Petra, udah nggak pa-pa." Kenny menenangkan dengan mengelus puncak kepalanya.
Kemudian mereka berenam beranjak dari makam.
"Gue mau kasih tau kalian." Semua intensitas menghadap ke arah Petra. Petra yang merasa diperhatikan malah gagap sendiri kek orang tolol.
"Anu... Gue jadi guru les kalian lagi, jadi—"
"SERIUS?"
"AAA>\\\<"
Armin dan Kenny malah jingkrak-jingkrak sendiri, udah kek bocil yang mau dikasih es krim setokonya. Mana pelukan segala jadi kayak Teletubbies. Tapi Petra merasa senang karena masih diterima oleh mereka walaupun belum semuanya dan sekarang ketambahan Marco.
"Jadi mohon kerjasamanya ya? Ini kan juga buat kalian biar jadi anak pintar," ucap Petra sambil diiringi senyuman agar mereka luluh.
"SHAP!!!" Armin dan Kenny menjawab dengan semangat 45.
"NGAPAIN LO BALIK KAGI?!" Karma tak terima. "Udah baik keluar kenapa ha—"
"Gue disuruh om Grisha!" Petra memotong pembicaraan Karma.
"Di sogok bera—"
"Gue nggak minta lo buat ikut belajar. Sekarang gue nggak mau maksa, terserah kalian mau ikut apa enggak. Toh, om Grisha juga gaji gue perorangan bukan lima orang sekaligus. Jadi ya terserah lo mau ikut belajar apa enggak. Itu juga nggak bikin gue rugi," jelas Petra membuat Karma tidak bisa berkata-kata lagi.
"Oh? Oke, gue nggak akan pernah ikut les macam tai gini. Apa lagi tau kalau yang ngeles itu elo. Najis banget sok pinter."
"Oke."
Sebelum benar-benar pergi. "Gue benci sama lo, Tra!"
"Begitupun gue!"
Kemudian Karma meleset pergi meninggalkan saudara yang lain.
"Gue juga nggak akan ikut," ucap Erwin dingin lalu pergi menyusul Karma.
Tinggal lah mereka berempat. "Jadi kalian yang bakal jadi murid gue?" retorikanya dengan nada terharu.
"Gue bakal bimbing kalian sampai jadi anak yang pintar." Petra mengelus puncak kepala Armin, Marco, dan Kenny secara bergantian membuat semuanya salting. Apa lagi Kenny yang saltingnya di tampakan secara ugal-ugalan.

KAMU SEDANG MEMBACA
QUINTUPLETS (Slow Update)
Teen FictionKenal dengan anaknya itu adalah sebuah anugrah- anugrah terburuk yang pernah gue alami SE UMUR-UMUR! BUSET DAH! Tapi mengenal bapaknya adalah definisi nikmat Tuhan mana lagi yang ingin kau dusta kan abangkuhhh!!! :D Tapi ini bukan tentang gue yang...