4

12 11 0
                                    

Untuk pertama kali, Petra menunggangi mobil semewah ini. Tempat duduk yang empuk seperti busa, tambah AC dengan pengharum rasa kopi membuat Petra jadi ingin bocan alias bobok cantik. Jujur agak memalukan memang, ia bahkan sempat kesusahan saat membuka pintu mobil itu. Ya maklum lah biasanya kan dia naiknya mobil angkot yang nggak perlu repot-repot buka pintu.

Dan seperti yang dikatakan tadi bahwa si om akan membawa Petra kesuatu tempat tapi entah akan kemana, mari kita bertanya kepada om-om tersebut.

"Oh iya, Pak, kita mau kemana, ya?" Petra menoleh lantas bertanya penasaran.

"Ke rumah anak saya," balasnya tetap fokus pada kemudi mobil.

lah, anaknya punya rumah sendiri? Petra untuk kesekian kali membatin dalam hati kecilnya yang sedari tadi masih dangdutan.

Hening, di dalam mobil tersebut tak ada pembicaraan lagi hingga beberapa menit sebelum pria paruh baya itu angkat bicara. "Oh iya, Kamu belum tau nama saya, ya?" Petra mengangguk polos.

"Aduh maaf, saya lupa perkenalan diri." Si Om itu menunjukkan wajah cengengesannya.

"Nggak pa-pa kok, pak," jawab Petra se-sley mungkin.

Ia pun mulai memperkenalkan diri. "Perkenalkan nama saya Grisha Wijaya umur saya 45 tahun—"

"Yang bener aja pak umurnya udah 45 tahun?" tanya Petra tak yakin sambil melotot. Sampai matanya hampir keluar.

"Loh, kenapa kaget?" Bingung Grisha.

"Jujur aja nih, bapak itu masih kaliatan muda pakek banget. Pas pertama saya liat bapak, saya kira umurnya masih 25 tahun." Hebohnya menggebu-gebu.

"Haha, jadi malu. Saya sudah berkepala empat, Petra. Kalau saya masih semuda itu, begitu kenal kamu, saya pasti langsung nikahin kamu waktu itu juga."

Sendal jempit-mana sendal jepit?! Ingin sekali Petra menggaplok mulut tua bangka ini!

Diluar Nurul dan nggak habis Fikri banget, Cok!

"SAYA TAMPOL, YA, PAK MULUTNYA?!" Petra mojok-mojok ke pintu mobil sudah seperti cicak kejepit. Takut, Weh kalo si om ternyata punya niat picik dibalik semua drama ini...

"E-eh jangan dong, saya cuma bercanda, Petra." Grisha tertawa.

Ah, manis sekali wajahnya, walaupun sudah termakan usia.

Heh! Awas ya Petra!

Keadaan kembali hening. Petra yang masih mencoba menetralkan detak jantungnya dan susah payah mengelap peluh di dahinya yang tak henti-hentinya mengalir seperti pipa rucika. Sesekali melirik pada si om yang tampak santai setelah mengucapkan kata yang tak wajar itu.

Curiga banget, kalo dia om pedo.

"Pasti bapak banyak disukai sama cewek-cewek di tempat kerjanya, ya?" Anjeaung! Ingin sekali Petra menjahit mulutnya sendiri. Pertanyaan macam apa ini, jamet?!

"Oh?" nadanya di buat mendayu. Membuat siapapun yang mendengarnya langsung deg-deg serrr asolole.

"Jangan-jangan kamu yang suka sama saya, ya?" Mampus kan, lu!

Sekakmat, Petra tak sanggup bicara lagi. Ia kemakan omongannya sendiri. Jika kalian ingin tahu ekspresi Petra saat ini. Ia tampak gusar dan serba salah. Kasian.

Alfatihah buat Petra semoga nggak ketahuan kalau dia mulai suka sama Om Grisha. Si Duren alias duda keren.

"Haha, kamu terlalu serius menanggapi ucapan saya. Saya cuma bercanda, Petra. Kamu kalo pasang ekspresi seperti itu... keliatan lebih lucu," pujinya lagi dengan senyum andalannya.

Semprul-semprul, bangsul bener si om ini! Kau jatuhkan dengan kalimat bercanda lalu kau lambungkan lagi dengan kalimat pujian. Nih, om-om maunya apa, sih?!

"Emm, ini sampai rumah anaknya Bapak, apa masih jauh?" Petra mengalihkan pembicaraan. Ia tak ingin lagi membicarakan topik singkat yang membagongkan itu.

"Dah nggak sabar mau ketemu anak-anak saya yang tampan itu, hm?" godanya lagi-lagi.

Bangsul beneran, nih, pedo. Sekali lagi nggoda Gue gampar mulut, Lo! Tutur batin Petra yang tak tersampaikan.

"E-eh, enggak pak, cuma penasaran aja," dalihnya sambil memutar bola malas.

"Yakin cuma penasaran aja? Nanti kalo ketemu langsung suka gimana?"

Udah, Gass aja terus jan kasih kendor pak Grisha.

"Cukup, pak!" Petra menunduk malu. Tak tahan ingin mengatakan sebenarnya. Dan Grisha malah tertawa terbahak-bahak.

"Kamu itu emang lucu, ya."

Nyesel gue bicara, batinya.

"Bentar lagi sampai," katanya. Petra hanya diam tak menanggapi.

Pengalaman tak terlupakan yang berhasil membuat Petra trauma setengah modar. Petra bakal taubat dan nggak akan lagi boncengan sama si Om Grishaz, dah.

Setelah 5 menit tak ada pembicaraan mereka pun tiba di kediaman rumah di kembar Lima. Apakah Petra bakal jadi guru lesnya beneran atau justru jadi calon mama mereka? Eh emang si om, duda beneran?

Njir!

TBC
_
_
_
_

Weiiiii, udah sampai chap 4 aja. Bismillah banget, dah, semoga nggak mogok tengah jalan kek motor yang tiba-tiba kehabisan bensin dan nyerah begitu aja karena nggak mau dorong sampai pom bensin.

Skip!

Yang udah baca cerita aku sampai sejauh ini. Lop yu sekebon🤩✌️

Hayoo kira-kira, nih, om Grisha bakal jadiin Petra istrinya nggak, ya?

Kalo iya, ayo kita undang FBI bareng-bareng.

Sebelum aku akhiri, yuk, absen dulu kehadirannya:D

Buat yang mau kasih krisar, selalu aku bolehin pakek banget. Mau yang nylekit sampai ke ubun-ubun pun nggak masalah.

Aku tau kalian yang kasih krisar sebenarnya orang yang peduli sama penulis minim KBBI dan tanda baca seperti, ku.

Eeaaa so sweet bet, kiw kiw😂😂

Okei Minna, arigatou, mata nee!!🥰

QUINTUPLETS (Slow Update)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang