1

31 17 10
                                    

"Gue harus ngirit duit nih," kata Petra sedikit sedih karena pasokan uangnya makin menipis dan sedikit jengkel karena tiba-tiba perut ratanya terasa sangat lapar.

"Cacing nggak ada akhlak, padahal udah tadi pagi sarapan satu centong masih kurang Lo, cacing?!" sungutnya kesal kepada diri sendiri.

"Masa gue harus beli makanan? Yah, kasian banget nih uang." Sambil menatap uang bewarna ungu itu dengan memelas. "Tapi kalo nggak makan nanti mau ngerjain matematikanya gimana? Dah lah, dari pada laper dapet nilai jelek mending makan dapet nilai seratus." Monolognya.

Lalu ia pergi menuju ke-stan penjual nasi kuning. Satu bungkus nasi kuning berhasil ia amankan dari seseorang yang hendak membelinya juga, ketahuilah ini nasi kuning terakhir. Beruntung sekali ia yang mendapatkan. Rezeki anak Sholehah emang nggak kemana. Tak lupa es teh manis seribuan— yang pakai bungkus plastik itu lho, mengingatkan ku pada jaman sekolah. Sekarang udah lulus. Sedih.

Ia langsung memilih tempat duduk yang masih kosong. Saat sampai malah berpapasan dengan salah satu cowok. Entah siapa, Petra juga tidak kenal. Jika diamati lebih detail nampaknya dia adalah murid baru.

Petra menatap dengan bombastis side eyes.

"Heh! Ini tempat gue, Lo minggir!" ngegas Petra, mengibas tangannya seperti mengusir lalat. Anjir disamain sama lalat.

"Dih, suka-suka gue lah. Emang ini sekolah punya bapak Lo?" jawabnya dengan songong. Karena Petra malas berdebat akhirnya membiarkan dia duduk di depannya.

Oke jadi gini konsepnya tuh satu meja dua kursi. Nah, jadinya mereka makan hadap-hadapan. Awwww belom kenal aja udah romantis gimana kalo udah kenal? Begitulah pandangan orang-orang yang mendukung kedekatan mereka.

Saat sedang asik melahap tiba-tiba sosok pria itu menilai  dengan kata-kata  yang membuat mood makan Petra turun. "Lo makan nasi kuning sama es teh gitu emang kenyang? Dan keliatan nya Lo orang miskin deh."

Gilak nih kalimat damagenya bukan maen...

Lantas Petra tersedak dengan kalimat tersebut. Terbatuk-batuk nyaris meninggoy.

"Lah-lah keselek, nih buruan minum nanti kalo mati gue yang repot." Niat nolongin tp keknya kagak ikhlas. Ini bocah siapa sih namanya? Heran banget sampai pengin sentil ginjalnya.

Lalu Petra menerima uluran dari pria tersebut. Diminumnya dengan tergesa-gesa hingga tandas tak tersisa. Setelah terasa tak batuk lagi, Petra angkat bicara. "Lo tadi bilang apa? Gue orang miskin?"

Ya karna Petra orangnya juga pandai bicara dia lantas membalas seperti ini. "Nih 2 ginjal harganya 2.7 miliar, paru-paru harganya 4.2 miliar, hati 1.2 miliar jantung 1.6 miliar dan nih dua mata... 372 juta. Gue aslinya orang kaya, bro." Menepuk pundak pria tersebut agak kasar.

"Dan satu lagi, organ nya juga belum gue jual. Buat tabungan aja dulu, besok kalo kepepet pengin makan enak tinggal jual," jelasnya dengan rumus luas persegi panjang.

Lantas ia menyanggah, "Lah emang ada hubunganya? Nggak waras, nih, cewek."

"Lo nyebelin banget ya, dasar orang kaya sukanya nindas orang miskin."

"Sejak kapan gue nindas Lo?" Merasa tak terima difitnah yang tidak-tidak.

"Dah lah, males gue ngomong sama Lo."

"Lah, siapa juga yang ngajak ngomong?"

"Lo, lah!" balas Petra.

"Lo duluan tuh." Ia tak mau disalahkan lagi.
Karena Petra tak mau perdebatan ini terus berlanjut ia lebih baik diam. Ia mengeluarkan catatan kecilnya tentu saja isinya catatan pelajaran. Sembari makan dia menghapalkan rumus-rumus yang ada di catatan tersebut.

Karena si pria itu penasaran. Lalu ia merebut catatan kecil tersebut. Judes tapi kepoan, dah lah. Petra kaget. "E-eh kembaliin nggak!"

"Wihh, Lo jago matematika, ya?" pujinya membuat Petra pipinya merona malu. Petra payah! Cuma dipuji kayak gitu aja langsung terbang ke planet sebelah.

"Paan sih, Lo!" sangkalnya agar tidak makin terbang ke dunia sebelah.

"Ajarin gue dong," pintanya. Petra langsung menunjukkan wajah angkuhnya.

"Kenal aja kagak, sok minta, huh!" Wajah pria itu yang semulanya tampak riang gembira sekarang berubah kemode semula. Karena apa? Ya tentunya karena kalimat sombong Petra.

"Dasar sombong! Nyesel gue muji Lo. Dah lah, mood makan gue jadi hilang." Lantas pria itu pergi dengan menyisakan mie ayam yang tinggal setengah itu. Petra yang melihat pun langsung meneriakinya.

"Woy makanan Lo nggak kebawa, nanti mubazir lho!" teriaknya, tapi teriakan Petra sepertinya diabaikan saja. "Dasar orang kaya, suka buang-buang makanan," sungutnya kesal.

"Kasian banget kamu. Andai belum bekasnya dia, kamu udah aku makan." Petra berbicara seperti orang sinting kepada mie ayam dihadapannya.

Saat ingin menyeruput es tehnya ia baru sadar jika catatan kecilnya terbawa oleh pria tersebut. "Ya Allah, catatan kesayangan gue. Ah, parah nih orang. Mau belajar aja kagak tenang banget Ya Allah," keluhnya.

"Untung dah hafal," leganya.

Pada saat itu juga bel masuk pun berbunyi tanda pelajaran selanjutnya akan dimulai. Di perjalanan menuju kelas Petra baru teringat sesuatu. "Eh gue keknya belum pernah liat tuh bocah deh, apa dia murid baru ya?"

"Bodo amat, kenapa gue harus mikirin juga? Ah, ngelag nih otak gara-gara kebanyakan nasi kuning."

TBC

Weiii, baru aja mulai, udah ketemu sama cowok ngeselin. Huhu, siapa sih dia?

Temukan jawabannya di part selanjutnya!!🤩

Awokawok udah kayak kuis aja😂

Terimakasih banget buat kalian yang udah sempetin baca cerita gaje aku. Semoga makin betah, Yee ngap😁✌️

QUINTUPLETS (Slow Update)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang