Bab 2

4.4K 315 9
                                    

Maaf banyak typo, leptopnya lagi mode correct otomatis












Ke esokan harinya setelah kejadian abangnya memberi makan dirinya sendiri, ia dan abangnya tidak membahas apapun hingga sore hari, sepertinya abangnya menerima panggilan telepon sehingga ia tak menemani dirinya lagi sampai sekarang.

Stevan kembali termenung dengan apa yang akan dilakukan selanjutnya, apakah ia akan memerankan stevan yang asli atau menjadi dirinya sendiri saat menjadi devan. Ia benci jika harus menjadi orang lain tapi ia juga tak mau keluarganya curiga dengan sifat stevan yang berubah tiba-tiba.

Apalagi dirinya dulu walaupun terkenal penyayang tapi dia juga melalukan kenakalan-kenakalan remaja pada umumnya. Masa ia harus berekting kembali menjadi bocil umur 8 tahun, kan nggak elit ya.....
Sedangkan dirinya sudah menginjak bangku SMA huh....

"arhk.....apa yang harus gue lakukan" lirihnya sambil mengacak-ngacak rambut hitam yang tipis itu.

"shit.....gue nggak mungkin tiba-tiba jadi anak penurut dan selalu gunain kata aku-kamu, kan capek..."

Stevan benar-benar frustasi saat ini, ia ingin menjadi dirinya sendiri tapi tidak pantas karena usianya yang masih delapan tahun, jadi dia akan memutuskan untuk perlahan-lahan berubah. Lagian kemungkinan keluarga menyadarinya itu kecil. Mereka terlalu sibuk dengan urusan masing-masing hingga anaknya sendiri disiksa selama bertahun-tahunpun nggak sadar.

Saat sore harinya, stevan memanggil perawat untuk membantunya ke kamar mandi, namun setelah sekian lama, tak ada perawat yang datang. Stevan akhirnya tidak tahan lagi, ia mencoba untuk berdiri sendiri walau kakinya masih seperti jeli.

"ugh.....sial, kenapa nggak ada yang datang sih...lagian kemana para perawat, gue harus kuat..gue nggak butuh orang la...." Sebelum berhasil mengucapkan kata terakhir tiba-tiba kaki stevan tidak bisa diajak kerjasama dan akhirnya ia terjatuh tertunduk dilantai.

"bruk....sialan, kenapa kaya gini sih, dasar kaki bego" stevan ngedumel dengan mencoba untuk berdiri.

Tanpa ia sadari, sedari tadi aksinya diliat oleh lelaki tinggi dengan perawakan tanpan, ia menggunakan celana jeasn biru serta kemeja hitam, kancing kemejanya dibuka dari dua diatas, ia juga menggunakan kalung berwarna perak. Rambutnya yang sedikit panjang terikat kebelakan serta hidung mancung dan bibir tebal menambah ke estetikan sang pemilik wajah, ia menggunakan kacamata hitam yang kemungkinan dari merk terkenal.

Tanpa aba-aba pria tersebut menghampiri steven yang tengah terjatuh dan ngankatnya seperti menggendong kucing dengan tangan di perutnya. Pria itu meletakkan steven di atas ranjang rumah sakitnya.

"akh.....siapa kamu?" tanya steven karena dirinya kaget tiba-tiba diangkat

"oh....ternyata benar kata selden kau lupa ingatan" pria itu mngangkat sebelah alisnya karena merasa heran, ia kemudia melepaskan kacamata hitamnya dan menampilkan pupil mata hijau kebiru-biruan.

"perkenalkan, aku kakak keduamu Sandra Cakra wijaya, panggil aja bang andra, aku bekerja sebagai artis, jadi kamu bisa saja mencari namaku di internet" perkenalan yang begitu sombong (ini menurut stevan ya.. : >) membuat stevan sedikit tersinggung, ya gimana nggak nih orang gayanya pengen minta ditampol, sok keren juga.

"huh...iya, nanti kalau aku lagi gabut, aku cari di internet, ......kalau dia ingat" kata lanjutnya yang diucapkan dalam hati.

"kamu mau kemana tadi, sampai jatuh segala?"

"emm...eh..aku mau kekamar mandi bang andra" sahutnya canggung karena ia malu melihat dirinya terjatuh saat berusaha untuk kekamar mandi.

Tanpa ba bi bu be (hehehe biar seru aja sampai be) Sandra menggendong tubuh stevan ala bride style menuju kamar mandi.

" kenapa nggak manggil perawat" Andra menurunkan tubuh stevan di depan closet.

"udah tadi, tapi nggak ada yang datang, jadi aku mencoba berdiri sendiri"

Sandra diam mendengar perkataan adiknya, sepertinya ia akan melaporkan kejadian ini kepada ayahnya agar stevan dipindahkan kerumah sakit tempat ibunya bekerja.

Setelah dari kamar mandi abangnya yang satu ini bukannya menurukan stevan, ia malah membawa stevan keluar bangsal. Katanya sih mau jalan-jalan di taman rumah sakit agar stevan tidak bosan, tapi jiwa mager stevan yang ingin segera menyentuh Kasur kembali membuat ia tampak sedikit keberatan dengan kakak yang semena-mena ini.

"bang andra, akau pengen tiduran aja deh, lagi nggak mau keluar" ucap Stevan saat dilorong rumah sakit.

"ngak bisa dek, kita harus jalan-jalan menikmati sinar mentari diluar agar kamu sehat" jawab andra sedikit menerapkan acting dramatisnya.

"tapi bang bukannya ini dah sore ya" tanya Stevan dengan canggung melihat tingkah abangnya yang mulai drama.

"eh iyakah...ya pokoknya kamu temenin abang jalan-jalan aja sekalian liat dunia luar, betapa indah dan berharga ciptaan tuhan ini" emang ya makin kesana makin kesini kayaknya abang kedua stevan rada sengklek deh.

Dengan pasrah stevan menyerah untuk berdebat dengan abangnya. Unfaedah pula kalau ditanggapi. Syukur-syukur kalau nurut kalau makin menjadi kan susah dianya. Mereka menuju bangku taman rumah sakit. Abangnya itu menurunkan stevan tepat disamping tempat duduknya. Stevan menikmati angin semilir sore yang berhembus menerpa bulu matanya. Ia memejamkan mata dan menikmati udara yang tertiup. Kakaknya yang melihat Stevan merasa gemas melihat pipi yang sedikit kurus karena lama koma kemudian sedikit memerah, bibir yang sedikit terbuka menampilkan gigi putih kecilnya. Saking gemasnya ia sangat ingin menggigit pipi adeknya sendiri. Namun ia tahan untuk jaga imeg lah, masa artis papan atas makan pipi bocil, nggak elit dong :>

"bang andra....."tanya Stevan ditengah kesunyian

"apa...."

"apakah papah dan mamah sayang padaku?" pertanyaan Stevan yang ia rasa harus ditanyakan kepada abangnya yang lumayan friendly ini. Kenapa ngga ke selden kakak ketiganya kemarin? Ya karena si selden kek irit bicara males bercerita, ya akhirnya stevan malas untuk bertanya pada manusia laknat satu itu.

(sabar stevan...gitu...gitu abang lo)

"kenapa kok ngomong gitu?"

"mereka jarang pulang, nggak peduli sama stevan, sampai stevan setiap hari kesakitan disiksa oleh bi sarah (pengasuh stevan yang laknat itu) mama sama papa nggak pulang" ucap stevan menahan kelu, ia merasa stevan dan dirinya devan yang dulu sama-sama merasakan yang namanya kurang kasih sayang.

Sandra yang mendengar hal itu diam sejenak. Ia bingung harus menjawab bagaimana, orangtuanya memang sesibuk itu sehingga kadang teledor dengan anak-anaknya. Tapi walau begitu mereka sangat menyayangi anak-anaknya. Bahkan mungkin dirinya sendiri tidak tau.

"adek jangan mikir aneh-aneh ya, mama papa sayang kok sama adek. Tapi karena mama sama papa harus cari uang buat kebutuhan adek jadi mama sama papa jarang pulang, kan mama papa selalu mengirim hadiah saat ade ulang tahun, berarti mama sama papa masih sayang dan ingat sama adek"

Mendengar penuturan dari kakaknya seketika stevan merasa terkejut.

"adek nggak pernah nerima kado dari papah sama mama loh" pasalnya dalam ingata steven, setiap ulang tahun bi sarah selalu memberi kata-kata bahwa mama dan papahnya membencinya sehingga ia takut akan di benci kedua orang tuanya,

Sandra yang mendengar hal itu sedikit terkejut dan memasang muka marah, ia tak habis pikir dengan pengasuh adiknya, dibaikin malah ngelunjak dan nggak tau diri. Ingin rasanya ia segera pulang dan menyiksa kembali pengasuh itu.( kalau ada yang tanya pengasuhnya dimana, ya jawabannya jelas di gudang penyiksaan keluarga wijaya. Selama 4 tahun ini keluarga wijaya selalu menyiksa pengasuh tersebut, tak dibiarkan mati)

"ya udah dek kita masuk aja ya, udah mau malem nih" tuturnya dan diangguki oleh stevan.

Mereka kembali kedalam bangsal stevan dengan gendongan koalanya.















hai, untuk hari ini sampai sini ya...

masih kepo kan dengan sikap keluarga lainya, jadi silahkan dukung author dan tunggu update selanjutnya ya

Terimakasih.......

Stevan B. [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang