Bab 18

526 36 4
                                    

Dimansion kini terasa hawa mencengkam. Ardi yang mendapatkan kabar bahwa keponakannya di incar kembali segera kembali ke mansionnya. Ia kini memandang ke tiga remaja (-Stevan) yang duduk didepannya dan Stevan yang kini duduk dipangkuan Ardi.

"Sekarang jelaskan, bagaimana kejadiannya" ucap Ardi datar kepada mereka.

"Kami juga tidak tahu ayah, tiba-tiba saja ketika kami bersantai di atas jembatan terjadi tembakan untung ada yang mengingatkan kalau tidak Stevan pasti terluka sekarang " ucap Bastian yang kini sedikit gugup.

"Apa benar itu...Nio...Tony" tanya Ardi dan diangguki oleh keduanya.

"Hu'uh, baiklah kalau begitu, sebaiknya sekarang kalian istirahat saja, ayah yang akan mengurus semua ini" dan diangguki oleh mereka.

Kini suasana mansion kembali normal setelah Ardi pergi keruang kerjanya.

Kalian bingung kenapa mereka disuruh istirahat sama Ardi karena Nio sama Tony udah biasa nginap dimansion Oliver jadi yang pasti mereka punya kamar dimansion itu.

Setelah di interogasi oleh Ardi, mereka semua tidak masuk ke kamar masing-masing, melainkan ke kamar Stevan.

"Stev, liat ayah yang serius kayanya masalahnya pasti lebih serius, jadi mending kamu nggak usah sekolah aja kali ya" ucap Bastian sedikit khawatir.

"Eh enggaklah bang, Stevan masih mau masuk sekolah, nanti kalau Stevan nggak naik kelas kan berabe urusannya" ucap Stevan tak terima.

"Kamu kan bisa homeschooling" sahut Nio yang menyarankan.

"Nggak mau, pokoknya Stevan tetep pengen sekolah" Stevan kini sudah merasa kesal dengan keputusan kedua abangnya.

"Tapi Stev, kita nggak mau kamu kenapa-kenapa" ucap Bastian.

"Oh shit, kenapa mereka melarang bocah itu ke sekolah, bisa gagal rencanaku jika begini, tadi sudah gagal tapi jangan biarkan mereka menutup akses untuk rencanaku yang selanjutnya" Batin seseorang.

"Iya dek, kamu mending homeschooling saja, walaupun sendiri dirumah tapi tetep ada para bodyguard dan maid" ujar Tony.

"NGGAK MAU, POKOKNYA STEVAN PENGEN SEKOLAH TITIK......"

mereka bertiga hanya bisa menghela nafas, jika Stevan sudah begini maka tidak bisa dibantah lagi.

Stevan kini membelakangi ketiganya, ia merasa marah dengan mereka bertiga yang ingin mengurungnya dimansion. Tak sadar jika ia meneteskan air mata karena kesal. Dan lama kelamaan menjadi deras.

"Hisk......."

Pecah sudah tangisan Stevan yang tak dapat dibendung, ia tahu bahwa jiwanya sudah berumur 17 tahun, tapi entah mengapa ia masih bisa saja menangis karena hal seperti ini.

Nio yang mendengar isakan pelan dari Stevan kemudian segera membalikkan badan anak itu untuk menghadap ketiganya. Mereka terkejut mendapati airmata sang adik yang kian menderas menahan kesal.

Nio kemudian beranjak dari tempat tidur dan menggendong koala Stevan, serta menimang-nimang agar bocah itu berhenti menangis.

"Hiks..hiks...Abang, Stevan pengin sekolah" ucap Stevan lirih sambil terisak, ia menyembunyikan wajahnya di cerukan leher Nio.

"Shhhhtt...adik tenang ya, iya adek tetep sekolah, tenang dulu ya..." Ucap Nio dengan nada yang halus.

Bastian dan Tony juga ikut menenangkan Stevan yang kini menangis, mulai dari Bastian yang membalut sampai Tony yang menawarkan berbagai macam makanan agar adik mereka bisa berhenti menangis.

Dan wala....ketika Tony akan memberikan Stevan susu pisang mujige kepada stevan, tangisan itu langsung berhenti.

"Beneran bang mau dibeliin susu pisang" tanya Stevan dengan mata sebabnya yang membuat keimutan Stevan bertambah lebih banyak.

Stevan B. [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang