Bab 3 S2

99 7 2
                                        

Jam dinding menunjukkan pukul 18.50 ...........
Mansion itu begitu sepi, hanya ada Ardi, Clara dan juga Yoga yang sudah siap dimeja makan.

Untuk Clara sendiri, ia bisa menerima Yoga sebagai keluarga, mungkin karena Clara sendiri sudah dewasa dan merasakan bagaimana susahnya hidup jadi it's okey melakukan kebaikan kepada orang lain.

"Bi.....tolong panggilkan Bastian dan juga Stevan ya, sudah jam segini, waktunya makan" suruh Ardi kepada maid yang sedang menata piring.

"Baik tuan"

Bibi kemudian naik ke atas untuk memanggil Bastian terlebih dahulu.

Tok....tok...tok....

"Tuan muda Bastian, waktunya makan malam, tuan sudah menunggu dibawah" ucap bibi berdiri didepan pintu Bastian.

Setelah menunggu beberapa menit namun tidak ada respon dari kamar Bastian. Bibi mencoba untuk memanggil kembali namun nihil.

Akhirnya bibi pergi ke kamar Stevan, untuk memanggilnya.

Tok....tok....tok...

"Tuan muda Stevan, sudah waktunya makan malam, ditunggu tuan dibawah" ucap bibi.

"Ceklek....." Tak berselang lama pintu kamar dibuka.

Stevan keluar dengan sedikit wajah lesu namun ia mencoba menutupinya.

"Semua sudah diruang makan bi?" Tanya Stevan.

"Belum tuan muda, bibi tadi pergi ke kamarnya tuan muda Bastian tapi tidak ada respon sama sekali, sudah berungkali bibi ketuk juga tidak ada jawaban, bibi khawatir tuan" ucap bibi dengan menyesal dan khawatir.

"Baiklah bi, bibi turun dulu, jelaskan kepada ayah dan yang lainnya, aku akan coba bujuk bang Bastian dulu" ucap Stevan berinisiatif.

"Terimakasih tuan muda, kalau begitu bibi turun dulu" ucap bibi kemudian pergi setelah di izinkan.

Stevan kemudian menuju kamar Bastian. Sesampainya di depan kamar, ia tak langsung berbicara atau mengetuk pintu, namun ia mencoba membuat suara" aneh seperti meniru suara kucing, melompat-lompat di tempat dan aksi aneh lainnya.

Ditengah kegiatan Stevan menyeret sandal yang ia gunakan dilantai sampai menimbulkan bunyi cit...cit....cit....cit....yang keras. Pintu kamar Bastian akhirnya terbuka.

Ia melihat tingkah adiknya yang absud itu dan ingin sekali menendang bokong mungil itu.

"Kamu lagi ngapain sih?" Ucap Bastian jengah.
Ia berdiri di tengah pintu dan memandangi Stevan.

"Udah keluar bang? Sekarang udah bukan jamannya tinggal di Goa bang, bersosialisasi itu penting loh" ucap Stevan nyengir.

Oke....ini nyambung apa kagak Stevan tigak peduli yang penting dia sukses membuat abangnya ini membuka pintunya.

"Hais........mau apa kamu ribut-ribut didepan kamar Abang ha?" Ucap Bastian sambil mengacak-acak rambutnya kepalang kesal dengan jawaban Stevan.

"Tadi dipanggil bibi, suruh makan, Ayuk sekalian bang turun, biar stevan bonceng" bercanda Stevan namun tetap jujur.

Senyum Bastian yang tadi seketika luntur dari wajahnya karena kejahilan Stevan dan berganti dengan wajah masam.

"Kamu aja deh Van, Abang nggak laper, nanti kalau laper Abang suruh bibi antar ke atas" ucap Bastian sendu.

"Abang masih marah sama ayah? Kita bisa musyawarah bang, supaya abang nggak marah lagi sama ayah, nanti Stevan suruh buatin meja bundar buat diskusi bareng " bujuk dan hibur Stevan karena ia kasian melihat Bastian sedih.

Stevan B. [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang