Selamat membaca, 🙏
Koreksi jika ada kesalahan ya guys.........Seminggu setelah kejadian itu, Stevan mulai menjadi pendiam dan murung kembali. Terkadang dia makan dengan melamun dan terkadang pula dia sering bangun telat. Keluarganya yang melihat hal itu sontak khawatir akan keadaan putra bungsunya.
Maria dan Rangga sudah berusaha membujuk Stevan agar menceritakan hal apa yang terjadi pada dirinya. Bahkan abangnya Satria yang notabene nya orang yang irit bicara, sampai harus berbicara panjang lebar di depan adiknya agar Stevan kembali ceria.
"Stevan....cerita dong ada apa? Mamah khawatir sama kamu, kamu nggak kasian liat papah sama Abang kamu nggak konsen gara-gara kamu diem begini" ucap mamah setelah frustasi karena seminggu ini ia telah membujuk Stevan dengan berbagai cara namun jawaban yang ia dapatkan selalu saja....
"Stevan nggak papa mah" yah begitulah jawaban yang diulang-ulang.
Maria yang sudah hampir putus asa meninggalkan anaknya sendiri di kamarnya, mungkin memang waktu yang bisa menjawab semuanya. Tapi Maria tetap berdoa agar anaknya bisa kembali ceria dan tidak memendam masalahnya sendiri.
Sedangkan dikamar Stevan, kini bocah kecil itu melamun menatap kedepan pintu masuk kamarnya, ia menghela nafas lelah mengingat mamahnya yang tak pernah luput untuk membujuknya.
"Lo kenapa sih....ingat...Lo itu Stevan...bukan Devan lagi.... keluarga Lo tu khawatir tahu, jangan munafik deh....Lo mau bersedih dikeluarkan yang nggak pernah sayang sama Lo sendiri....sadar Stevan..." batin Stevan yang kini mulai tersadar.
Ia memang seharusnya sudah sadar dari awal kalau keluarganya terdahulu tidak menyayanginya. Ia terlalu salah berharap pada hal yang sudah pasti kebenarannya. Dan lucunya Stevan tetap berharap begitu.
"Tapi kenapa ya...gue nggak mau aja dilupain sama mereka, gue nggak rela selama hidup gue, gue hanya dibohongi dan dijadikan alat buat jagain anak kandung mantan mamah papah gue. Kakek juga gitu, dia hanya keliatan sayang dan jagain gue, tapi pas gue bener-bener butuh eh dianya ngilang dan nyerahin tugas ke papah mamah yang notabenenya benci sama gue..... hahahaha..... kehidupan emang se plotwis ini ya" batinnya
Stevan sebenarnya sudah merasakan kejanggalan keluarganya sejak ia memasuki bangku SMP, ia merasa tidak pernah banyak berbuat salah tapi orang tuanya selalu menghindar.
Ia curiga bahwa dia bukan anak kandung mereka, namun rasa sayang dan kerinduannya menuntut ia melupakan kecurigaannya. Dan yah berakhir dengan kebenaran ini.
"Tenang stevan, Lo harus bisa bangkit lagi, keluarga yang bener-bener nunggu Lo sekarang lagi khawatir, Lo nggak boleh egois. Lo harus bahagiain mereka, karena Lo udah ngambil alih raga anak ini" ucapnya dengan menyakinkan diri sendiri karena ia tak mau berlarut-larut dengan kesedihan.
Stevan kemudian beranjak dari tempat tidur ke kamar mandinya, ia mencuci muka dan menepuk pipinya pelan-pelan. Ia melihat dirinya dipantulan cenmin, mata hijaunya menyiratkan akan tekad yang akan ia jalani.
"Gue bisa...."
Ia kemudian keluar dan menuju ruang keluarga yang dimana terdapat papah, dan ketiga abangnya. (Mereka lagi libur ya guys, maklum pas sibuk ya sibuk banget pas senggang ya senggang banget).
Stevan menghampiri mereka dan duduk di pangkuan papahnya.
"Pah......abang, maafin Stevan ya, udah buat kalian khawatir..." ucapnya dengan menundukkan kepalanya.
Mereka berempat yang mendengar Stevan meminta maaf akhirnya menghela nafas lega. Kenapa begitu, ya karena Stevan kan jadi udah mau terbuka lagi nggak jadi pendiam.

KAMU SEDANG MEMBACA
Stevan B. [END]
Teen FictionBagaimana rasanya jika seorang Devan Indra Herlambang anak sulung dari keluarga Herlambang dinyatakan koma dan ternyata meninggal saat usianya genap 17 tahun? Hal ini sontak membuat keluarga Devan yang selama ini telah menjaga dan merawat devan sela...