48. Healing

336 33 0
                                        

Gareth menyibukkan dirinya di apartemen semenjak mengajukan pendaftaran beasiswa ke luar negeri. Ia mendaftar ke beberapa kampus, dua diantaranya kampus ternama.

Gareth juga membantu Timothy dengan pekerjaannya membuat bahan mengajar semester berjalan. Sementara Timothy sibuk dengan proyeknya.

Gareth sedang belajar ketika Timothy pulang dan mampir ke unit apartemennya.

"Udah makan sayang?" Tanya Timothy sambil mencium pipi Gareth.

Gareth masih sibuk mengerjakan soal-soal dari buku nya. Ia hanya menggelengkan kepalanya.

"Daddy mandi dulu nanti kita makan di bawah ya." Kata Timothy. Ia berlutut di lantai agar kepalanya sejajar dengan kepala Gareth. Anak itu hanya mengangguk.

"Daddy jangan di cuekin dong Dek...mana ciumnya?" Timothy menangkup pipi Gareth.

Gareth menghela nafas panjang lalu memalingkan wajahnya dari buku sejenak ke arah Timothy lalu mendaratkan kecupan singkat di bibir lelaki yang lebih tua itu.

"Aku juga mau mandi, abis kerjain satu soal ini, tanggung sedikit lagi." Ia mengalungkan lengannya di leher Timothy.

"Or...shall we go on date tonight? Besok aku gak ada kelas. Kamu juga udah seminggu ini gak keluar kamar." Ajaknya. Gareth tersenyum dan mengangguk.

"Dandan yang cakep ya, sayangnya Daddy." Timothy kembali mengecup bibir Gareth. Lalu beranjak ke unit apartemennya untuk bersiap-siap.
***

Motor Timothy melaju di tengah dinginnya malam kota kembang menuju kawasan Dago.

Mereka berhenti di sebuah restoran bakso yang cukup terkenal. Timothy memarkirkan motor besarnya di pelataran parkir, lalu keduanya turun dan memasuki restoran.

"Apa banget ngebakso doang mesti ke Dago atas." Gareth terkekeh menggoda Timothy.

"Hahaha kemarin siapa yang pengen makan Indomi di gunung puntang?" Balas Timothy.

Keduanya duduk di meja yang mengarah ke area terbuka.

"Sayang, kamu jangan terlalu diforsir belajarnya..kalaupun gak dapat, kan masih ada plan B. Aku bisa biayain kamu sampai selesai" Kata Timothy. Ia menggenggam tangan Gareth dan menciumnya.

"Iya, aku masih suka tidur siang kok Dad. Tenang aja." Gareth melihat sekelilingnya sebelum mencium pipi Timothy.

"Aku sekarang cuma mau pacalan aja sampe besok, besoknya lagi, besoknya lagi besok besok terus kayak gitu." Gareth berceloteh tanpa henti. Hal itu membuat Timothy tertawa gemas.

Setelah selesai makan dan berbincang mereka kembali menelusuri jalanan malam.
Mereka berhenti di lampu merah dekat sebuah hotel mewah.

"Ini hotel baru Dad?" Tanya Gareth menunjuk hotel di seberang jalan.

Gareth meletakkan dagunya di bahu Timothy. Lengannya melingkar di pinggang lelaki kekar itu.

"Hotel lama, bintang lima tapi re branding gitu." Jawab Timothy.

"Daddy pernah nginep situ?" Tanya Gareth lagi. Timothy berfikir sejenak.

"Pernah kayaknya udah lama tapi... jadul hotelnya. Kenapa? Dedek mau nginep situ?" Tanya Timothy.

"Ada setannya gak ya?" Gareth mulai meracau. Timothy terkekeh.

"Hus!Ada-ada aja. Ada hotel bagus, tapi di daerah atas kalau mau. Daddy pernah nginep situ." Kata Timothy.

Gareth mengangguk. Timothy segera memutar balik motornya menuju hotel yang Ia maksud. Mereka mampir ke mini market untuk membeli beberapa barang sebelum melanjutkan perjalanan.
***

Second Love SongCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang