Gareth baru saja selesai menyiapkan makanan untuk Timothy. Ia membuatkan semangkuk cream soup ayam dan jamur juga segelas susu hangat untuk kekasihnya.
Hari itu hari terakhir Gareth menikmati liburannya. Ia ingin menghabiskan waktu dengan Timothy sebelum keduanya kembali sibuk.
"Daad... sarapan yuk.." Gareth naik ke atas tubuh Timothy yang masih berbaring di tempat tidurnya lalu mencium setiap jengkal wajah lelaki tampan itu.
Wait. Panas gini. Batin Gareth.
Gareth meraba dahi dan leher Timothy. Panas.
"Uhuk..." Timothy terbatuk, Ia tiba-tiba bangun dan berlari ke toilet lalu muntah di closet sambil berjongkok.
Gareth berlari ke dapur dan mengambil segelas air hangat. Dengan panik anak itu berlari kembali ke kamar Timothy.
Timothy sudah membersihkan mulutnya lalu berbaring kembali di tempat tidur dan membungkus tubuhnya dengan selimut.
"Minun dulu." Gareth membantu Timothy untuk minum segelas air.
"Ke rumah sakit yuk.. badan kamu panas banget. Aku ganti baju bentar.. kamu bisa bangun ga? Aku siapin baju." Gareth panik. Anak itu malah bolak balik di samping tempat tidur Timothy.
Gareth berhenti ketika Timothy meraih tangannya. Gareth memandan Timothy yang masih memejamkan matanya. Gareth benar-benar khawatir dan takut.
"Di hape.... ada nomer telepon... dokter Jimmy... panggil kesini..." Timothy berusaha memberikan arahan pada Gareth dengan sisa kekuatannya.
Gareth mengangguk mengerti. Ia membuka nakas di sisi tempat tidur lalu mengeluarkan ponsel Timothy. Ia menempelkan jari kekasihnya itu untuk membuka layar ponsel.
Gareth berkutat dengan ponsel Timothy menggunakan satu tangannya. Tangan satunya tetap bertaut dengan tangan Timothy sambil sesekali diusapnya.
"Hallo....sa.. saya asistennya dok.. iya..I ini Pak Timothy muntah-muntah sama panas banget badannya.....dari tadi malam....Iya... Oh di apartemen dok.. i iya saya kirim lokasinya... Makasih dok.." Selesai menelepon dokter Gareth mengirimkan alamat apartemen mereka lalu segera memeluk Timothy.
"Daddy jangan sakit... aku takut.." bisiknya. Timothy hanya mengusap pipi Gareth sebagai jawaban.
***
"Kumat lagi lo?" Dokter bernama Jimmy itu ternyata masih muda, mungkin seumur dengan Timothy.
"Obatin gue anjir, malah diledekin.." Balas Timothy ketus.
Gareth duduk di samping tempat tidur. Wajahnya terlihat sangat khawatir sampai-sampai tak mengindahkan perdebatan Timothy dan Jimmy.
"Infus apa obat?" Tanya Jimmy.
"Yang dokter elu kenapa nanya gueeeee astagaaa... gue udah lemes... mau mati masih aja dikerjain.." Timothy menggerutu kesal.
Jimmy membuka peralatannya dan menyiapkan infus untuk Timothy.
Jimmy sudah sangat hafal kebiasaan buruk temannya yang satu itu kalau sudah sibuk bekerja.
"Harus banget di infus dok?" Suara Gareth terdengar gemetar seperti menahan tangis.
"Iya dong, biar cepet sembuh. Ini kamu asistennya?" Tanya Jimmy. Ia bicara sambil memasangkan jarum infus di tangan Timothy.
"Anjir! Lu masang pake aba-aba ngapa! Sakit kampret!" Seru Timothy.
"Mana yang sakit? Kamu gapapa?!" Gareth lagi-lagi panik.
"Manja lo!! Eh ini asisten beneran?" Jimmy lagi-lagi menanyakan pertanyaan yang sama sembari memasang plester pada tangan Timothy.
"Calon bini gue! Awas lu bocor ya! Dia beneran mahasiswa gue soalnya." Ancam Timothy.
KAMU SEDANG MEMBACA
Second Love Song
RomanceMewGulf AU; Second Love Song Timothy (M ew) kehilangan cinta pertamanya dan betah menyendiri, sampai satu ketika seorang bernama Gareth (G ulf) mengganggu pikirannya. CW : -bxb romance story -100% fiction -Typos -Ignore timestamp -Harsh words -Age...
