12. Rasa Yang Terpendam

390 48 9
                                        


Gareth menghampiri mobil mewah milik Timothy di tempat parkir khusus dosen sore itu.

Agenda mereka hari ini adalah memeriksa hasil quiz beberapa kelas yang diajar Timothy.

Mereka sampai di sebuah restoran di tengah kota Bandung. Begitu masuk, Gareth langsung memilih kursi area pojok yang kosong.

"Kenapa di pojok sih? Kayak orang pacaran aja." Timothy protes, namun Ia tetap mengikuti kemauan Gareth.

"Ya udah sih Pak, semalem doang jadi pacar saya ribet amat idupnya." Gareth balik mengomel.

Seorang pelayan datang menghampiri mereka dan menyerahkan menu. Gareth membolak-balik menu di tangannya. Ia merasa tak terlalu lapar malam itu sehingga hanya memesan seporsi fish and chips dan teh hangat.

"Kamu tuh selalu makannya sedikit banget." Lagi-lagi Timothy berkomentar. Pasalnya menu yang dipilih Gareth ada di deretan menu untuk anak-anak.

"Dibilang saya kalo jam segini males ngunyah." Gareth hanya mengerlingkan matanya.

"Karena malem ini kamu pacar saya, jadi kamu harus nurut juga." Gareth tidak menjawab dan memilih bersikap bodo amat.

Makanan pun datang. Timothy memesan beberapa macam makanan untuk mereka berdua. Namun seperti biasa, Gareth makan dengan lamban. Ia sibuk dengan ponselnya.

Timothy pindah duduk ke sebelah Gareth. Anak itu tak sadar sang dosen sudah pindah ke sebelahnya. Beberapa kali Timothy melirik apa yang dilakukan Gareth dengan gawainya.

Anak itu sedang membuka aplikasi untuk membuat desain sederhana dengan mudah. Ia membuat beberapa desain yang lucu kemudian dikirimkan melalui email.

"Kenapa dikirim ke email kamu sendiri?" Tanya Timothy penasaran.

"Nanti di buka di laptop buat print stiker, terus di potong di mesin." Jelas Gareth. Timothy mengangguk mengerti.

"Dari ginian kamu bisa dapet 1-2 jt?" Tanya Timothy lagi. Gareth mengangguk sambil mengangkat dua alisnya.

"Bapak cek toko online saya aja kalau mau, liat harganya. Lagian gak cuma stiker kok banyak stationary yang lain." Jelas Gareth.

Gareth masih sibuk dengan gawainya sampai-sampai Ia pun tak sadar kalau Timothy duduk disana sambil menyuapinya hingga makanan yang dipesan untuknya habis.

"Yahh eskrim adek jatoh Pih, pesenin lagi dong!" Terdengar suara seorang anak merengek tak jauh dari meja mereka. Gareth melirik ke arah suara itu lalu melihat ayah sang anak langsung memanggil pelayan untuk memesan eskrim.

Timothy melirik ke arah Gareth yang kini memperhatikan meja anak kecil yang duduk berdua dengan ayahnya itu. Terlihat jelas kesedihan di mata anak yang lebih muda menepuk bahu Gareth. Ia hanya mengangguk.

"Pak, saya boleh minta sesuatu?" Tanya Gareth, kali ini anak itu serius menatap Timothy.

"Daripada semalem ini bapak jadi pacar saya, boleh gak bapak semalem jadi papah saya?" Tanya Gareth.

Pertanyaan itu sontak membuat Timothy kaget sekaligus penasaran. Ada sesuatu di dalam diri Gareth yang membuatnya bersikap seperti itu pada semua orang.

"Maksudnya jadi papah?" Tanya Timothy.

"Ya jadi papah saya aja. Saya iri sama anak itu." Kali ini Gareth menundukkan kepalanya.

"Iya, saya jadi papah kamu malem ini. Jangan sedih lagi ya." Timothy mengusap lembut kepala Gareth, anak itu hanya mengangguk.

Gareth tak banyak bicara dalam perjalanan menuju rumah Timothy. Ia hanya diam sambil memandang keluar jendela mobil, sesekali Ia menunduk memainkan ponselnya.

Second Love SongCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang