"Mungkin," jawab Afnan cepat. Aiba yang benar-benar terpancing emosinya, langsung menyerang Afnan. Ian yang melihat itu tidak tinggal diam, ia juga langsung menyerang Raga dan Hansyah.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Kelima orang itu, terus saling menyerang. Jangan pikir bahwa Aiba seorang wanita, jadi 'tak pandai bela diri. Itu salah, sejak kecil ia sudah belajar belajar diri bersama Mahen. Sebelumnya, Aiba hanya suka dengan bela diri dan akhirnya menguasainya. Namun, saat tahun perusahaan Ayahnya sering kali di serang oleh perusahaan lain.
Ia membentuk sebuah pasukan dan dirinya lah yang menghancurkan semua penyerang perusahaan Ayahnya, sebelum mereka selesai melakukan penyerangan. Itulah mengapa, sampai saat ini perusahaan Muller masih dalam keadaan yang aman dan jaya.
Lalu, sebelumnya ia sempat beristirahat sejenak. Namun, di saat Ibunya meninggal, ia kembali ke jalan yang yang membuat dirinya menjadi seorang wanita mafia pertama yang ditakuti oleh beberapa perusahaan.
Brak!
Afnan tersungkur di atas aspal saat Aiba memberikannya tendangan yang keras di perutnya.
"Ck! Kelewatan banget lo!" kesal Afnan memengangi perutnya yang terasa nyeri.
"Ck! Panggil mereka keluar!" pinta Raga yang kewalahan menghadapi Ian.
"Ck! Lemah banget! Ternyata lo gak cuman bertiga! Lo nyatain perang sama gue?!" bentak Aiba emosi.
"Lemah! Lo main curang! Siapa orang dalam yang lo hasut?!" tanya Ian sambil menodongkan belatihnya tepat di depan leher Raga. Raga hanya bisa diam dan mencari kesempatan. Namun, Ian bukanlah orang bodoh. Ia lebih teliti dan cerdas dalam penyerangan.
"Itu gak mungkin bisa lo tau!" balas Hansyah yang mengatur nafasnya. Nyatanya, mereka berdua kalah jika berhadapan dengan Ian.
"Jangan lo mikir di Markas Vodafone gak ada yang jaga. Di sana lebih bahaya lagi buat sih pengkhianat!" tekan Ian.
"Siapa lagi yang ada di sana? Gak ada. Irene lemah, mana mungkin bisa menang! Gue yakin sekarang markas lo lagi kacau!" balas Afnan.
"Gimana bisa kacau? Di sana ada Natan Houston dan jangan lupa sama Lara Houston juga!" balas Ian. Raga, Afnan dan Hansyah hanya bisa diam, saat mendengar ucapan Ian. Bagaimana bisa mereka melupakan dua saudara kembar yang sulit ditebak itu.
"Yakin lo pengkhianatnya masih hidup?" tanya Aiba sambil tersenyum miring.
"Yakin! Natan ataupun Lara, gak akan berani membunuh!" jawab Afnan tersenyum miring.
"Lah! Gak tau aja lo, prinsip dua bersaudara itu, Darah dibalas Darah! Nyawa dibalas Nyawa! Kalau sampai Erin tewas, maka pengkhianat itu juga tidak akan selamat!" balas Aiba.
Brum! Brum! Brum!
Terdengar suara knalpot motor yang sangat berisik. Aiba dan Ian berdecak melihat tujuh motor yang baru saja sampai di tempat mereka.
"Kok lama kali?!" tanya Raga yang masih tidak bisa bergerak banyak. Belati yang dipegang oleh Ian, masih saja berada di depan leher Raga.
"Sorry, kita tadi masih makan. Untung aja kita ada di dekat sini!" jawab Garel yang baru saja turun dari motornya.
"Lah, mereka cuman berdua lho, masa masa kalian bertiga kalah!" ucap Aringga yang turun dari motornya juga.
"Heh! Lo liat dulu siapa orangnya, baru ngomong gitu!" balas Hansyah kesal. Aringga dan Garel memperhatikan Aiba dan Ian untuk sesaat.
"Owh, ternyata ketuanya langsung, toh," ucap Aringga.
"Udah sih, jangan buat mereka pulang ke markasnya!" ucap Garel bersemangat.
"Bener banget, tuh," balas salah satu orang yang ikut bersama mereka berdua. Ian yang sudah pegal mengarahkan belatinya kepada Raga, langsung menjauhkan tangannya dan mendekat ke arah Aiba. Akhirnya Raga menghembuskan nafasnya lega, setelah Ian menjauh.
"Mumpung ada ketuanya, kita seret aja dia ke depan ketua!" ajak Garel. Aiba menaikkan sebelah alisnya mendengar ucapan Garel.
"Heh! Lo pikir, lo bisa? Mustahil!" balas Ian. Selagi Ian masih menghembuskan nafasnya, semua yang berharga baginya, tidak akan ia biarkan terluka apalagi sampai menghilang.
"Sebelum itu pun, lo pikir lo bisa kalahin gue?" tanya Aiba pula.
"Mau gimana pun, mau sekuat apapun lo. Lo tetap cewek, tenaga lo gak sebesar tenaga cowok!" balas Aringga. Aiba tersenyum miring mendengar ucapan Aringga.
"Lo gak mungkin bisa menang!" sambung Aringga lagi.
"Masa, sih?!" tanya seseorang yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Aiba sambil memengang kedua pundaknya. Aiba yang mengenali suara itu, hanya memasang wajah dinginnya.
"Jauhin tangan lo!" tekan Aiba kepada Zion. Yah, orang itu adalah Zion. Kebetulan ia ingin pulang bersama Jean. Karena jalan yang saat ini mereka gunakan adalah jalan yang sepi setiap malam, maka Zion lebih suka melewatinya. Zion langsung melepaskan tangannya dari pundak Aiba.
"Jangan marah-marah sama gue," ucap Zion setelah melepaskan tangannya. Sedangkan Jean, ia hanya diam sambil mengamati semuanya. Jean dan Ian hampir sama dalam penyerangan. Dari mengamati, mereka tahu harus apa kedepannya. Namun, beda lagi di saat mereka terdesak.
"Lemah! Bisanya keroyokan!" ucap Jean dingin. Singkat, tetapi menusuk sampai ke dalam hati untuk pihak Aringga dan Raga.
"Ck! Gue butuh penjelasan, An," ucap Zion kepada Ian.
"Nanti gue jelasin, Kha!" balas Ian cepat. Mau bagaimana lagi, mau tidak mau, Ian harus menjelaskan semuanya.
"Oke! Majulah! Kita lihat, siapa yang akan kalah lebih dulu!" ucap Zion dengan nada dan wajah yang perlahan berubah. Wajah yang suka bercanda itu, kini berubah menjadi sangat dingin dengan tatapan yang membunuh.
Aringga meringis untuk sejenak saat melihat tatapan Zion. Namun, mau tidak mau, mereka harus menghadapinya.
"Serang mereka!" teriak Aringga memberi perintah. Sepuluh orang lainnya yang datang bersama Aringga dan Garel langsung maju untuk menyerang mereka berempat. Sedangkan itu, Raga, Afnan, dan Hansyah mundur untuk beristirahat sejenak.
"Akhirnya! Gue bisa lampiasin emosi gue!" ucap Zion menekan kata-katanya dan langsung memukul tulang rahang salah satu orang yang ikut bersama Aringga tadi. Ia butuh pelampiasan, ia butuh pelampiasan untuk melepaskan semua beban pikirannya. Ia butuh, untuk melepaskan semua emosi dan kekesalannya selama beberapa hari terakhir.
"Untuk malam ini, bersenang-senanglah, Kha," ucap Jean dalam. Diantara semua sahabat Zion, Jean lah yang paling mengerti dirinya. Jean yang menjadi tempat Zion kembali saat ini. Walaupun terdengar agak alay, tetapi itulah kenyataannya.
Setiap kali Zion keluar dari rumahnya dengan emosi, hanya Jean yang selalu mencari cara agar membuat Zion tenang. Walaupun itu tidak bertahan lama.
Brak!
"Auwh!" ringis Aiba.
Aiba tersungkur, saat Aringga dan Garel menyerangnya bersamaan. Zion dan Ian yang melihat itu, lantas bertambah emosi.
"Gak gue ampuni lo, bangsat!" umpat Ian penuh emosi dan menyerang Garel tanpa ampun.
***
"Sampai titik darah penghabisan, aku tidak akan pernah membiarkan siapapun untuk menyentuh saudaraku!"
~ Ian Ash ~
KAMU SEDANG MEMBACA
ZION (HIATUS)
Teen Fiction"Aku, Usha Aiba bersumpah dengan menetesnya darah ini, jika Ayah menikah lagi! Aku bukan anak Ayah dan semua aset perusahaan dan harta warisan akan berbalik nama menjadi Usha Aiba! Bukan lagi atas nama Donald Muller ataupun Yolanda Quinn!" ucap Aiba...
