"a-apa yang bapak lakukan?" Seorang gadis nampak ketakutan ketika bertanya pada sosok pria tambun yang berjalan mendekat kearahnya.
Gadis tersebut gemetar, ingin beringsut menjauh namun tidak bisa, karena tubuhnya sudah menempel pada tembok di belakangnya.
"Kenapa kamu takut begitu, Jane. Bukannya ini yang kita inginkan? Ayo bersenang-senang." Sosok pria itu berhenti begitu jaraknya dengan Jane hanya tinggal beberapa centi, dengan bibir menyeringai lebar dan wajah memerah, dia mengangkat tangannya ingin menyentuh paras molek gadis di depannya.
Namun,
Plak!
"M-menjauh bajingan!!" Jane tanpa pria itu duga menepis kasar tangannya. Gadis itu berderai air mata, menatap jijik pria gendut yang kini tersulut amarah.
Bugh!
Pria itu, sekuat tenaga memukul pipi Jane dengan tinjunya, sontak membuat sang gadis menjerit karena rasa sakit akibat pukulan itu, dan kepalanya yang tertoleh ke samping menabrak dinding, menciptakan jejak darah disana.
"Beraninya kau menolak sentuhan saya jalang!!" Keadaan berdarah Jane sama sekali tidak berarti bagi pria itu, malah, dia sekarang ganti mencekik Jane kemudian membenturkan kepala sang gadis berulang kali.
"Hahaha! Selamat makan~ benar, Jane?"
Jane, yang kondisinya sudah sangat mengenaskan, hanya mampu menangis diambang kesadarannya. Bahkan ketika ia merasakan tubuhnya dijamah, Jane larut dalam penyesalan yang teramat dalam.
'Gavin, maaf ...'
•••
Bel istirahat bergema di segala penjuru sekolah. Semua murid berbondong-bondong keluar kelas tak terkecuali Graville, bocah itu saat ini sedang dalam perjalanan menuju kantin untuk mengisi perutnya. Namun, dia tidak sendiri. Teman sekelasnya, Saga, juga ikut bersamanya.
Sesampainya di kawasan kantin, Graville segera mengajukan diri untuk mencari tempat. Sungguh merepotkan jika dia harus mengantri panjang, jauh lebih baik mencari tempat duduk yang pas.
"Lo pesen apa?" Graville harus mendongak agar bisa bertatapan dengan Saga, masalah tinggi badan memang selalu membuat Graville kesal.
"Seblak sama es teh." Graville melihat kerutan yang timbul di dahi Saga. Bocah itu bingung, apa yang salah?
"Gak, gak! Perut Lo nanti sakit, lagian, Lo belum makan nasi, kan? Nasi goreng aja ya?" Saga mencoba memberi pengertian.
Graville seketika membuat wajah julid, "dih! Tau gitu gak usah nawarin kampret." Setelah itu, dia pergi dari hadapan Saga sembari menghentakkan kakinya kesal.
Hei, tau darimana Saga kalau dia belum makan nasi?
Sementara itu, Saga terkekeh gemas melihat punggung Graville sebelum mulai ikut mengantri.
Keduanya benar-benar melewatkan tatapan dari berbagai mata yang berasal dari meja tertentu. Jenis tatapan penasaran, pengertian, dan ... satu yang sulit di jelaskan.
•••
"Nih. Abisin, biar cepet tinggi." Saga meletakkan nampan lalu menyodorkan sepiring penuh nasi goreng komplit pada Graville.
"Gak ngaruh ya!" Ujar Graville seraya menajamkan sorot matanya. Sebuah tindakan sia-sia, karena bukannya takut, Saga justru tertawa ngakak.
Tawa Saga sangat menyebalkan di telinga Graville.
Kampret. Saga nyebelin.
Karena tidak ingin semakin memperburuk mood pemuda yang lebih kecil, Saga berusaha menenangkan dirinya.
"Maafin gue, ya? Gak lagi deh." Graville hanya membuang muka dan memilih untuk menyantap makanannya.
Saga menghela napas, dia tau itu salahnya. Namun, dia takut Graville tersedak jika dia terus membujuk bocah itu. Jadilah dirinya ikut menikmati makanannya sendiri, setelah itu dia bisa membujuk Graville lagi.
Namun, keheningan panjang yang Saga sudah bayangkan, tidak terjadi saat Graville tiba-tiba bertanya.
"Ga, seberapa sering kasus kesurupan disini?"
Deg.
• • • • • •
-Tebecee-
KAMU SEDANG MEMBACA
Take My Hand
HorrorGraville bisa melihat apa yang semesta sembunyikan. Itu bukan keinginannya. Graville merupakan anak tengah dari tiga bersaudara. namun semua saudaranya membencinya atas peristiwa di masa lalu. itu juga bukan keinginannya. tapi, hei, siapa bilang Gra...
