[]1.0 : Layaknya Raja dan Ratu-nya

2.3K 256 13
                                        

Kalian bisa baca satu chapter sebelumnya, kalau lupa sama alurnya :')

Enjoy!

-•||•||•||•-

'ugh, darah sialan ini!' kepala Raven masih terbatuk-batuk, cairan merah merembes dari sela jari-jari Graville yang menutupi mulutnya, menetes ke lantai.

Masih dengan posisi setengah membungkuk, Graville mendengar dua suara berbeda berteriak padanya. Bercampur menjadi satu, situasi ini membuat Graville pusing. Dia bukannya tidak tau kalau guru gemuk sampah masyarakat itu sedang berlari kearahnya, namun apa yang bisa dia lakukan jika untuk bernapas saja sungguh sulit?

"MATI KAU!!" Seruan itu tidak membuat Graville takut, justru dia senang karena berhasil menjatuhkan topeng Dani yang memuakkan itu.

Graville, meski benci rasa sakit, tidak keberatan jika hanya satu tusukan dangkal. Sakitnya hanya sementara, dan bagian terburuknya adalah bermalam di rumah sakit.

"Brengsek!"

"El, menghindar!" Jika saja tubuhnya tidak tiba-tiba lemas hingga sulit digerakkan, dia pasti akan menghindar sekarang.

Sialan, dia bukan seorang masokis!

Akhirnya, Graville mampu mengangkat kepalanya meski harus merasakan pusing yang teramat hebat.

Segera setelah itu, mata bambi itu melotot. Bukan karena mata pisau yang sekitar dua meter melaju kearahnya, melainkan pada Alaric yang hendak menurunkan Patra dari gendongannya.

"Jangan diturunin, woy! Bahaya!" Graville membentak secara spontan. Suaranya serak diikuti dengan batuk kecil. Lalu atensinya bergeser lagi ke depan.

Itu terjadi begitu cepat. Obsidian Graville menangkap siluet Dani yang melayangkan pisau menuju perutnya, namun,

Dor!

"AGGHH!!"

Klang!

Sebuah bunyi tembakan, dan pisau terpelanting menghasilkan bunyi nyaring.

Siapa itu? Apakah Indra?

Graville beserta yang lain menengok ke asal suara tembakan.

"Om Andra?" Suara bertanya Patra terdengar.

°•°

Kalandra itu, seorang pria yang realistis. Tentu saja, menjadi polisi mengharuskannya seperti itu. Tidak masalah, dia menikmati kehidupannya menyandang status duda beranak satu.

Hari berjalan seperti biasa, sampai di suatu malam, ketika Kalandra sedang menyelesaikan setumpuk dokumen di meja kerjanya, Sagara, anak semata wayangnya, mendobrak masuk sambil berteriak,

"AYAH! AKU PUNYA ADEK! YUHUYY!" dilihatnya sang anak yang sedang berjingkrak-jingkrak itu dengan datar. Bahkan jika sekarang tubuh dan pikirannya lelah, Kalandra tetap membuka telinga mendengarkan omong kosong anaknya.

"Namanya Graville Lucian. Nih fotonya." Sagara meletakkan ponselnya di dekat sang ayah, layar yang menyala itu menampakkan potret seorang anak laki-laki berambut hitam serta berkulit putih sedang menikmati makanannya. Kalandra juga melihat pipi itu menggembung seperti hamster.

Kalandra tidak bisa menyangkalnya, bocah di foto itu imut sekali. Kalandra tiba-tiba merasakan kebutuhan untuk mengarungi bocah Graville ini, kemudian mengurungnya untuk dirinya sendiri.

Tidak-tidak. Apa-apaan pemikiran tidak masuk akal ini. Kalandra segera menyadarkan dirinya. Kemudian, mendongakkan kepalanya, mendapati terbitnya seringai di bibir Sagara.

Take My HandCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang