[]1.8 : Selangkah Lebih Dekat

1.8K 188 10
                                        

Waspada typo(s) dan ...
Enjoy :)

—•||•||•||•—

"Gue pulang dulu, lo ati-ati. Kalo tidur pintu jangan lupa dikunci, jangan begadang–"

"Ini masih sore, Saga." Graville mendengus saat rambutnya diacak-acak oleh Sagara yang sedang tertawa.

"Pokoknya jaga diri," ucap Sagara sambil telunjuknya menoel hidung kancing Graville. Mengejutkannya, kali ini tidak ada serangan balasan yang biasanya dia terima. Gagak kecil itu hanya cemberut imut.

"Iya iyaa ..." Meski terdengar malas, Graville diam-diam merasa agak senang.

Itu karena, sudah bertahun-tahun dia tinggal sendiri, baru hari ini ada yang mau mengkhawatirkannya. Graville tidak tau bagaimana cara menangani perasaan ini, maka dari itu, dia hanya tersenyum kecil. Tidak sampai mata, namun tetap tulus.

"Lo juga ..." Graville berhenti sejenak dari gumaman nya, agak menunduk sambil memalingkan mata, "hati-hati."

(Aku kebayang Kenma waktu nulis ini >.<)

Ugh.

Sagara langsung menarik sosok kecil itu masuk ke dalam pelukannya, menggoyang-goyangkannya dengan perasaan gemas luar biasa.

"AWW!! GEMESIN BANGET SIH, ADEK GUE!!" Tangan Sagara pindah untuk mengunyel-unyel gumpalan lemak Graville.

Penampilan Graville yang malu-malu seperti harta Karun bagi Sagara, dan tambahan baru berupa boneka Dino pemberiannya sama sekali tidak membantu kesehatan jantungnya, dengan gesit Sagara mengambil ponsel di sakunya, menyalakan kamera, lalu mulai memotret wajah kesal namun masih memerah adiknya.

"Ish!" Graville jadi kesal sendiri, "dah, pulang sana!" Tangan pendeknya mendorong tubuh bongsor Sagara.

"Hahaha! Iya, iya ... gue pulang sekarang," pemuda lain tertawa.

Sagara memutuskan berhenti menggoda sang adik sebelum pisangnya menjadi korban, dia pulang setelah memberi dua tepukan kepala.

Membiarkan Graville yang cemberut memandang kuda besi yang dikendarai Sagara semakin menjauh, sebelum berjalan masuk ke dalam rumahnya, memeluk teman kecilnya yang baru, Lui. Si Dino kecil lucu berwarna hijau.

°•°

"Lui ... ini menyebalkan," Graville yang sedang berbaring, menghadapkan Lui ke depan wajahnya.

Ketika mandi tadi, Graville tiba-tiba teringat kejadian di Mall. Pertemuannya dengan Amarta sungguh tidak disangka-sangka, Graville merasa emosinya diuji sepanjang hari ini. Entah berapa banyak air mata yang terbuang, gagak kecil tidak ingin mengingatnya.

Ugh, Graville membenamkan wajahnya pada perut Lui.

Memalukan, memalukan, memalukan!

Satu rengekan lirih tanpa sadar keluar.

Bagaimana bisa dia menangis dan tertidur di pangkuan adiknya! Hancur sudah reputasi kakak yang keren yang  Graville sudah bangun sejak kecil, jauh sebelum hal-hal buruk menimpa.

(Yang mana itu tidak pernah terjadi ketika Amarta menemukan bahwa kakak keduanya sangat imut)

Namun, meski begitu, Graville tidak bisa memungkiri perasaan bahagia yang begitu besar hingga membuatnya sesak. Mengetahui bahwa Amarta tidak lagi membencinya, Graville seketika merasa beban berat di dadanya menghilang bagai debu yang tertiup angin. Graville baru menyadarinya, saat napasnya berhembus lega bersamaan dengan tubuhnya yang meluruh lemas.

Take My HandCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang