Enjoy~
Graville kecil adalah seorang anak yang bahagia. Siapa yang tidak, dengan orang tua lengkap, Abang serta adik yang selalu menemani masa kecilnya.
Namun di sisi yang berlawanan, dia juga ditakdirkan untuk menjadi berbeda. Itu dimulai ketika umurnya beranjak 8 tahun, Graville masih anak kecil polos yang tidak tau apa yang Tuhan berikan padanya.
"Nda! Kenalin temen baru Ile! Namanya Natasya, kata Nat, rumah Nat ada disana!" Graville kecil menunjuk kearah rumah kosong yang diketahui telah terbengkalai selama lebih dari tiga tahun.
"Ayo Nda, kita kesana! Ile mau main bareng Nat di rumah Nat!"
Kemudian,
"Ayah, Ile main sama kakak baju putih dulu, ya!"
"Arta, Arta mau ikut kakak main sama Nat? Seru loh! Ayo ikut!"
"Abang! Kenapa Abang Ndak bolehin Ile sama Ciel main?"
Sampai ...
"Kirana, kamu ke belakang! Jaga Ile! Mas nggak bisa liat jalan, semuanya hitam!"
Kirana tidak mampu membantah di tengah situasi kacau, dia hanya mampu menangis saat dia pindah ke kursi penumpang, dimana terdapat Graville yang berusia sepuluh tahun tengah menatap penuh takut kearah kaca depan mobil. Wanita itu memeluk anaknya.
Graville menunjuk, "ayah! Ada monster! Bunda, kenapa monster nya duduk disitu? Berhenti, Yah! Monster nya halangin mata ayah!"
Tetapi, sujurus kemudian,
Swoshh ~
Sosok itu menghilang begitu saja, Graville lega karena monster menyeramkan itu sudah pergi. Namun Graville kembali dikejutkan oleh jeritan bundanya.
"MAS! MENGHINDAR!"
Tin..! Tin..!
"GAK SEMPAT!"
Kirana beralih mengeratkan pelukannya di sekitar putranya. Dia tau, tidak ada pilihan lain. Sekarang, lebih baik menenangkan anaknya.
"Ile... Sekarang Ile tidur, ya.."
"T-tapi .. bunda..."
"Sstt... Ile pasti lelah, nurut ya. Bunda Ndak mau Ile sakit, bunda sama ayah sedih kalau nanti Ile sampe sakit..."
Graville pada akhirnya menurut. Hatinya terasa begitu berat. Perasaan takut membebaninya sehingga tanpa sadar dia terlelap sembari berharap semuanya berakhir baik-baik saja.
Sungguh naif.
Ckiiitt–!
BRAK!!
"BUNDA! AYAH!"
Graville bangun dengan keadaan berantakan, baik fisik maupun batin.
Tubuhnya banjir peluh sampai memberi bekas di baju, matanya sembab sementara iris merahnya bergerak liar secara tidak sadar.
Oh.
Kesadaran segera mengambil alih pikiran Graville.
Dia baru saja bermimpi. Mimpi mengerikan yang telah menjadi pengingat akan kebodohan Graville di masa lalu.
Yang berimbas pada ayah dan bundanya, kematian mereka.
"AKH!!" Graville menjambak surai kelamnya. Dia menangis.
Terlampau hanyut dalam pusaran emosi, disaat seperti inilah biasanya perasaan melankolis mengambil kemudi. Membuat pemikiran-pemikiran tidak rasional berkelebatan di benaknya.
Dan di saat seperti inilah Graville juga bertanya-tanya.
Mengapa?
Di sebuah kamar sederhana, seorang anak terisak pilu, seolah mengadu betapa tidak baik-baik saja sosok itu. Begitu patah, begitu rentan dan takut. Bersandar pada sahabatnya yang bernama kesendirian.
•••
"Hehe." Graville tertawa kecil melihat refleksi wajahnya yang bisa dibilang berantakan.
Sakit kepala menyambutnya begitu dia bangun, dan sadar bahwa matahari telah turun ke bumi saat melihat jam wekernya.
Pukul enam malam, Graville seketika teringat shift malamnya. Hah, masih ada satu jam tersisa untuknya mandi dan berangkat.
Graville sudah bekerja sejak umurnya 15 tahun, di sebuah cafe yang cukup populer sebagai waiter dan untuk beberapa kesempatan, menjadi singer. Beruntung gaji yang diterimanya cukup untuk menghidupi dirinya sendiri, Graville bisa sedikit bernapas lega.
•••
"Oy, Pil! Meja sepuluh tolong layanin!" Graville, yang baru selesai berganti pakaian kerja, tersenyum kesal mendengar plesetan namanya.
Bocah itu lantas mengacungkan jari tengahnya pada pelaku yang tertawa sembari mengantar pesanan, sebelum mulai melakukan tugasnya.
Berhubung hari ini malam Sabtu, tak heran suasana cafe sangat ramai. Yah, setiap hari juga ramai sih, tapi malam ini lebih berisik dari biasanya. Dan mayoritas pelanggannya selalu anak-anak muda yang masih sekolah atau sedang kuliah.
Itu dikarenakan, lokasi strategis yang dekat dengan gedung perkantoran, Atharion High School–sekolah Graville sekarang–serta kampus. Selain itu, cafe menyediakan berbagai macam menu dan varian sehingga tidak membuat pelanggan bosan dengan harga terjangkau.
Bahkan, Graville pernah mendapati pelanggan gadis yang hanya memesan segelas air dingin. Ketika ditanya alasannya, si gadis berkata dengan malu-malu bahwa dia hanya ingin cuci mata saja.
Ngadi-ngadi ae.
• • • • •
Te~Be~Ce~
KAMU SEDANG MEMBACA
Take My Hand
HorrorGraville bisa melihat apa yang semesta sembunyikan. Itu bukan keinginannya. Graville merupakan anak tengah dari tiga bersaudara. namun semua saudaranya membencinya atas peristiwa di masa lalu. itu juga bukan keinginannya. tapi, hei, siapa bilang Gra...
