Waspada typo!
Happy reading :>
–•||•||•||•–
Dulu, bundanya pernah berkata bahwa dia akan menjadi kakak yang hebat untuk adik-adiknya. Gino, yang saat itu menyaksikan kelahiran Graville dengan kekaguman yang bersinar di wajahnya, tersenyum penuh keyakinan dan akan memastikan perkataan sang bunda kelak menjadi kenyataan.
Gino berusaha keras untuk menjadi kakak yang hebat, bukan semata karena pesan dari bundanya, tetapi juga keinginan yang tumbuh dalam dirinya.
Dan dia berhasil.
Gino senang menemani kedua adiknya bermain, dia juga selalu menjaga mereka setiap melakukan kegiatan di luar, sebisa mungkin menuruti keinginan mereka, namun juga bisa bersikap tegas di waktu tertentu.
Gino adalah gambaran kakak yang baik.
Pikirnya begitu, sampai badai besar menghancurkannya dengan sangat mudah dalam bentuk kabar kematian orang tuanya.
Yang Gino rasakan saat itu adalah kehancuran ketika kakinya membawanya ke depan pintu operasi tempat orang tuanya terombang-ambing dalam ambang hidup dan mati.
Sekujur tubuhnya kaku, namun tidak butuh waktu lama sebelum mulai bergetar hebat.
Gino adalah kakak yang baik, sampai tatapan nanar itu kemudian bergeser ke sosok kecil yang tengah meringkuk di tempat duduk, menangis. Memberi Gino ekspresi pilu yang membuat dadanya sakit.
Gino tidak tau, bahwa malam itu akan menjadi hari terakhirnya melihat wajah itu. Dia seharusnya tidak membiarkan emosinya membutakan matanya dalam melihat kesedihan serta kehilangan yang teramat besar di mata anak itu, dia seharusnya tidak membiarkan mulut beracunnya menulikan telinganya sehingga tidak mendengar tangis penuh keputusasaan yang keluar dari bibir kecil itu.
Dunianya semakin hancur kala kehadiran Graville tidak dia temukan ketika Gino kembali ke mansion bersama Amarta.
Kenyataan itu lantas mendorongnya ke dalam jurang penyesalan tanpa dasar. Seolah ada palu besar menghantam hatinya, Gino tidak tahan lagi,
Dia menangis sejadi-jadinya.
Malam itu, Amarta adalah satu-satunya yang menyaksikan bagaimana sang kakak meluruh kalah, disusul dengan jerit tangis penuh kesengsaraan menggema di antara keheningan yang mengerikan.
Bundanya salah, Gino bukanlah kakak yang baik.
°•°
"I-Ile ..." Gino tergagap panik, tubuhnya bergerak gelisah di bawah tatapan Graville. Wajah pria itu memerah, sama sekali bukan karena malu atau marah.
Sementara yang dipanggil hanya mengangkat satu alisnya, sambil berusaha keras menahan emosi agar tidak menjamah wajahnya. Sehingga, dalam sudut pandang Gino, tampak seperti Graville sedang memandang tajam padanya, menunjukkan amarah besar.
Gino mengeluarkan suara tercekik dari tenggorokannya, sebelum bibirnya mulai gemetar bersama dengan satu kesimpulan yang menghantui pikirannya.
Graville pasti membencinya!
Oh ... mengapa pandangannya tiba-tiba kabur?
"Kak ..." Gino rasakan pipinya diusap lembut, membuat tubuhnya tersentak. Namun tanpa sadar mendekatkan wajahnya agar bisa merasakan lebih banyak sentuhan itu.
Rasanya menenangkan, Gino terlena dibuatnya. Segala hal buruk yang ada di dalam benaknya seolah ikut tersapu, hilang tak tersisa.
"Kak Gino–"
"Ile!" Tangan Gino buru-buru menahan jemari Graville yang menjauh, suaranya dipenuhi kepanikan, "k-kakak salah adik ... tolong, maaf ... maafkan kakak, j-jangan membenci kakak ... a-aku–hiks, aku bisa melakukan apapun! Ile ingin memukul kakak? Ile bisa melakukannya sampai puas! Hiks–kakak, kakak akan melakukan apapun!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Take My Hand
TerrorGraville bisa melihat apa yang semesta sembunyikan. Itu bukan keinginannya. Graville merupakan anak tengah dari tiga bersaudara. namun semua saudaranya membencinya atas peristiwa di masa lalu. itu juga bukan keinginannya. tapi, hei, siapa bilang Gra...
