GRAAAAHH!!
"WAAA!!"
Crash!
"Apaan itu woy?!" Sekujur tubuh Indra meremang. Matanya terbelalak, pupilnya mengecil, bergetar karena ngeri.
Dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat sekarang. Begitu pintu lift bergeser terbuka, mereka langsung disambut oleh satu entitas yang melompat kearah mereka.
Indra tidak pernah merasa takut setengah mati seperti sekarang. Masalahnya, benda yang melompat itu memiliki wujud seperti seonggok tubuh manusia yang telah dikuliti. Apa yang diyakini Indra sebagai kepala hanyalah tengkorak yang dilapisi daging merah yang mulai membusuk, tanpa ada satupun organ tubuh disana.
Dan benda itu baru saja melompat kearahnya! Hih, pemuda itu seketika merasa jantungnya keluar dari tenggorokan. Hampir, karena untuk sepersekian detik, sebelum daging hidup itu berhasil menyentuhnya, sebuah bilah melengkung menancap di kepala mereka, melemparnya keluar sebelum mengirisnya dengan mudah.
Indra yang pucat, menatap pelaku yang telah memotong seonggok kepala seperti jeli, "..."
Graville mengangkat bahu kemudian tersenyum bak malaikat, "kan dah gue bilang,"
"A-apa itu?" Masih di gendong Alaric, Patra shock. Sama seperti Indra, seumur-umur dia belum pernah melihat makhluk menyeramkan seperti tadi.
Mau dikata manusia jelas bukan. Apakah monster? Zombie?
Sial, apapun benda itu, itu menyeramkan!
"Namanya Titan. Ayo pergi." Mereka melangkah keluar. Berjalan di tengah koridor yang sunyi.
"Hah? Yang bener?" Indra bukan tidak percaya seratus persen, melihat bentuk makhluk tadi memang agak mirip dengan yang disebutkan Graville. Tapi, emang iya namanya Titan?
"Nggak. Gue yang kasih nama." balas Graville santuy. Tidak menyadari ataupun peduli dengan tatapan datar yang dilayangkan oleh Indra.
Sementara itu, netra jingga Alaric berkilat saat dirinya melirik ke segala arah. Satu hal yang disadarinya, tempat ini bukan lagi gedung yang dia kenal. Bukan lagi AHS yang semua orang tau.
Insting yang telah dia latih sejak lama seolah membunyikan sinyal merah, menyuruhnya untuk cepat pergi dari sana.
Mengapa? Jawaban yang Alaric cari ada di depannya. Satu-satunya yang terkecil diantara mereka. Alaric gatal ingin menyudutkan bocah itu untuk menjawab pertanyaannya, tapi di sisi lain dia juga tau kalau sekarang bukan waktu yang tepat. Alaric menyadari betapa pucat kulit itu semakin lama mereka berjalan, dia juga tidak melewatkan keringat dingin yang mengucur deras di lehernya, lalu membasahi punggung sempitnya.
Keadaan sepertinya akan memburuk jika mereka tidak segera bergegas.
"Ayo cepat!" ucap Graville, mendesak yang lain untuk berlari.
Selang beberapa menit penuh derap sepatu yang berpacu, Graville akhirnya bisa lega ketika area parkir sudah muncul di depan mata. Dia bisa melihat motor-motor terparkir disana dan tidak bisa menahan gerutu tentang betapa jauhnya jarak yang harus mereka tempuh.
"Ya! Baru ini gue ngerasa parkiran jauh banget huhuu ..." Jika ketegangan tidak menyelimuti pikiran dan tubuhnya, Indra pasti akan menari saat itu juga.
Akhirnya! Rumahku sur-
"MINGGIR, NDRA!"
Dor!
Duk!
"WAAA!! ANJIR KAGETT!" Indra jatuh telentang akibat tendangan yang diterimanya dari samping. Tangannya bergerak menepuk dadanya sendiri berharap bisa menenangkan jantungnya.
'gini amat nasib gue,' ratapan menyedihkan Indra tersembunyi dibalik ekspresi wajahnya yang kini tertekan.
Dia hanya ingin pulang, tapi mengapa semesta seakan memunggunginya?
"Kalian pikir akan semudah itu untuk keluar dari sini?" Suara asing bergema di sepanjang lorong. Bengis dan jahat.
Indra cepat-cepat bangun kemudian memasang posisi bertarung di depan Alaric dan Patra.
"Siapa disana?!" Indra menyelisik satu sudut gelap tak jauh dari tempat mereka. Tidak salah lagi, orang yang nyaris berhasil menembaknya ada disana, matanya menyipit, sebelum kembali menyalak dengan tajam,
"Keluar goblok!!"
Dor!
"Eits, nggak kenaa.." ejek pemuda itu, ingin membuat orang itu semakin kesal, Indra tidak lupa menggoyangkan pinggulnya dengan memasang ekspresi yang sangat halal untuk di tabok.
Graville saja yang bukan target Indra merasa kesal melihat wajah menyebalkan itu, sumpah, jika itu ditujukan padanya, Graville dengan senang hati akan mewujudkannya menggunakan sepatunya.
Indra memang yang paling pro dalam memancing masalah. Tidak heran jika sejurus kemudian, orang itu marah dan mengumpat.
"Bocah brengsek!"
Tiba-tiba saja, satu presensi manusia menyerbu keluar dari kegelapan sembari membawa sebuah pistol ditangannya.
"MATII!!!" Dengan raut wajah jeleknya yang dibasuh oleh kemarahan, orang itu menodongkan pistol.
Namun, saat jari orang itu sudah sudah setengah jalan menyentuh pelatuk, kaki Graville dengan gaya back flip sudah siap menendang tangan yang memegang pistol itu. Membuatnya terlempar dan jatuh tepat di depan kaki Indra yang masih shock.
"Dia, kan-"
"Woy!" Patra dengan tangannya memukul belakang kepala sang sahabat, "pistolnya, Ndra! Cepet ambil!"
"Akh! Oh-iya iya. Galak banget, pms ya?" sempet-sempetnya Indra ngomong gitu di saat seperti ini. Patra dengan kesal mengacungkan jari tengahnya.
Segera diambil pistol itu, "pistol beneran cuy," Indra terkagum-kagum saat merasakan beban yang dia terima setelah dia mengambil pistol tersebut.
Mendengar itu, Patra hanya bisa menatap kasihan sahabatnya. Mungkin karena banyaknya kejadian di luar nalar hari ini membuat sekrup di otak Indra lepas sehingga keadaannya sekarang sulit dimengerti oleh Patra.
"Al, turunin gue. Emang lo nggak capek? Gue udah gak papa. Tenang aja," pinta Patra kemudian, yang diselingi perasaan heran. Dari mereka masih di ruang OSIS, terhitung sudah hampir satu jam Alaric menggendongnya.
Apakah pemuda yang membawanya ini tidak lelah?
"Gak, bahaya." Adalah jawaban lempeng Alaric dengan ekspresi yang sama lempeng nya, mengundang cemberut dari Patra.
Punggung Alaric dia pukul, "tapi gue dah gak sakit, mau turuuunn ..." Patra tidak menyerah, dia menggoyangkan tubuhnya agar gendongannya terlepas. Namun bahkan setelah melakukan itu, tidak ada reaksi apapun dari Alaric. Pemuda itu justru menunduk dan melayangkan tatapan tajam padanya!
"Diam."
"..."
Patra akhirnya menurut. Dia tidak takut, oke? Dia terpaksa.
Tepat setelah itu, Patra mendengar Indra tertawa, "makanya, nurut apa susahnya, sih, bayi!"
"Indra bangsat!"
• • • •
-T B C-
Bye! ( ╹▽╹ )
KAMU SEDANG MEMBACA
Take My Hand
HorreurGraville bisa melihat apa yang semesta sembunyikan. Itu bukan keinginannya. Graville merupakan anak tengah dari tiga bersaudara. namun semua saudaranya membencinya atas peristiwa di masa lalu. itu juga bukan keinginannya. tapi, hei, siapa bilang Gra...
