Silakan baca chapter sebelumnya kalau lupa sama alur, hehehe ...
Enjoy!
-•||•||•||•-
Graville menatap wajah bengis gadis di depannya, perih menyengat telapak tangannya yang kini berdarah karena menahan bilah pisau yang berhenti beberapa senti dari dadanya tidak Graville hiraukan. Sebagai gantinya, Graville mengambil ancang-ancang, memusatkan seluruh kekuatan pada kakinya, lalu melesatkan satu tendangan.
"AKH!" Cia terpental mundur hingga menabrak kanvas-kanvas dan rak tempat Amarta menyembunyikan ponselnya tadi.
Amarta datang menyambar telapak tangan Graville yang berdarah karena robek, "Kak, tanganmu berdarah! Ayo ke rumah sakit!" Ucapnya panik, dia sudah ingin menggendong Graville. Namun segera di tahan.
Tangan lain Graville, yang bersih dari darah, menampar tangan Amarta, "selesaikan dulu yang itu," gerutunya sambil menunjuk ke arah sosok Cia yang bersimpuh di lantai dengan kepala tertunduk dalam.
"Fuck! Itu apaan, njir?!" Vier menjerit heboh, matanya melotot lebar seolah telah menemukan keanehan dunia dengan mata kepalanya sendiri.
Atau, memang begitu adanya?
Karena, apa yang dilihat pemuda itu merupakan hal teraneh yang pernah dia lihat sepanjang napasnya berhembus.
Terdapat aura hitam yang melekat seperti selimut di sekitar gadis itu, menenggelamkannya.
Pada saat itu, di detik yang sama, semua orang bisa merasakannya. Seakan pengatur suhu di ruangan itu telah diatur ke angka paling rendah, terkecuali Graville, mereka menggigil begitu dingin merayapi sekujur tubuh.
"Oh, keluar juga." Graville, tidak seperti lainnya, menyeringai. Dia mengira harus menunggu lebih lama lagi, melihat betapa pengecutnya makhluk jelek itu.
Aura hitam itu bergerak-gerak gelisah sebelum perlahan menampakkan wujud aslinya untuk disaksikan semua orang.
Vier tidak mampu menahan ketakutannya, dan melakukan hal yang pastinya akan dilakukan oleh orang normal di luar sana.
Dia menjerit jantan.
"WAAA!!! HANTU!!" Secepat kilat pemuda itu bersembunyi di balik punggung Will, tidak bisa menatap wajah menyeramkan itu lama-lama. Kesehatan jantungnya dipertaruhkan disini.
Sementara Will, jangan kira dia sama sekali tidak terpengaruh hanya karena wajah datarnya yang tak berubah. Karena kenyatannya, Will merasakan jantungnya berdegup kencang seperti akan meledak. Tangannya yang bergetar serta telapak tangannya yang berkeringat dingin luput dari perhatian.
Will bukan orang yang tidak percaya adanya yang tak terlihat, tapi dia juga tidak pernah berharap bisa melihat semua itu secara langsung.
Sekarang, saat menyadari bahwa semua yang terjadi adalah nyata, Will tidak menginginkan apapun selain pulang.
"AAAA!!!"
Will dan Vier membelalakkan mata, di belakang mereka, Sagara dan Patra juga kompak ternganga. Mereka semua menyaksikan dengan tercengang ketika Cia roboh lalu mulai kejang. Bola mata gadis itu berputar menampilkan bagian putihnya saja, dan dadanya membusung. Ratapan melengking gadis itu menjadi pengiring sosok menyeramkan yang eksistensinya semakin solid.
Yang berarti sosok itu semakin menyeramkan.
Vier dibuat menggigil saking takutnya. Bibir pemuda itu bergetar hendak menangis.
'Pengen pulang! Pulang!'
Di sisi lain, Graville mendengus, menatap kejadian itu dengan acuh tak acuh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Take My Hand
HorrorGraville bisa melihat apa yang semesta sembunyikan. Itu bukan keinginannya. Graville merupakan anak tengah dari tiga bersaudara. namun semua saudaranya membencinya atas peristiwa di masa lalu. itu juga bukan keinginannya. tapi, hei, siapa bilang Gra...
