[]2.6 : Kesayangan Gino

747 71 5
                                        

Selamat menikmati, pembaca tercinta!
.
.
.

Oh, betapa Gino mencintai kedua adiknya.


•||•||•||• —

"Ata, Ile, lihat, Kakak dapat apa!"

Malam hari itu, suara riang Gino mampu membuat udara di dalam kediaman Lucian bergetar. Begitu selesai makan malam, Gino langsung menarik tangan kedua adiknya, menggeret mereka ke ruang keluarga.

wajah Gino tampak berseri-seri dengan binar di matanya, seperti baru saja tertimpa emas segunung. Di kedua sisinya, ada Graville dan Amarta yang hanya pasrah digeret macam kambing.

Sampai di ruang keluarga, Gino mendudukkan kedua adiknya ke sofa panjang sebelum membuat dirinya sendiri duduk di bawah karpet. Sehingga, kini posisi Gino harus mendongak untuk menatap Graville dan Amarta.

"Dapet apa, sih? Wajahnya kayak abis liat emas jatuh dari langit." Amarta berbisik heran pada Graville yang cuma dibalas dengan gelengan kepala.

Tapi Graville bisa menebak bahwa itu
ada hubungannya dengan Osmond.

"Taraaa~~" Gino mengeluarkan sesuatu dari balik punggungnya, memamerkannya pada kedua adiknya.

Detik berikutnya, mata Amarta sukses melotot. Ekspresi syok di wajahnya tidak bisa ditahan. Itu semua karena benda yang menjadi alasan Gino sumringah tak terhingga, rupanya adalah sebuah undangan.

Undangan mewah. Dan kata 'Osmond' tercetak mewah dengan garis emas mencolok.

"Wah, kebetulan banget." Mendengar celetukan kakaknya yang terkecil, Amarta spontan mengangguk.

Kebetulannya mengerikan sekali!

Gino memandang bolak-balik kedua adiknya dengan mata berkilau penuh kebingungan, Gino dengan spontan memiringkan kepalanya, "kenapa kebetulan?"

Baik Graville maupun Amarta tersenyum kecut melihat kebingungan yang polos di wajah kakak mereka. Graville diam sebentar, sebelum kakinya diam-diam menyenggol kaki Amarta. Si tengah menoleh dan mengangkat alisnya bertanya.

Graville tidak menjawab. Sebaliknya, dia mengangguk.

Dan tidak perlu waktu lama untuk Amarta mengerti maksud Graville. Ditatapnya kembali Gino yang nampak dipenuhi rasa ingin tahu, kemudian mengajak si sulung untuk duduk di sofa.

"Ata?"

"Bang ... ada hal yang ingin kami beritahu, tentang Osmond."

Sementara Amarta berbicara, Graville berusaha keras agar tidak terlihat gugup. Di benaknya, terbayang berbagai skenario yang harus dia hadapi setelah melakukan pembicaraan ini. Namun, dari banyak kemungkinan, masalah yang perlu digaris bawahi adalah reaksi Gino kedepannya.

Graville tidak akan sanggup jika harus menanggung kebencian kakak sulungnya lagi, itu akan sangat menyakitkan.

Tapi Graville juga tidak bisa mundur. Karena sudah melibatkan Gino, maka dia berhak untuk tahu.

Karena itu, Graville menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, mengusap keringat yang membasahi telapak tangannya.

"Ata, Ile, ada apa?" Gino tidak buta sampai tidak bisa melihat kesulitan di wajah kedua adiknya. Pemuda itu yakin bahwa ada sesuatu yang telah terjadi, sesuatu yang tidak dia ketahui. Dan itu berhubungan dengan Osmond.

"Akan kami katakan semuanya, kak. Tapi sebelum itu, Ata, putar rekamannya." Atensi Gino beralih ke Amarta yang fokus pada ponselnya.

"Nah," Amarta tersenyum lebar begitu rekamannya ketemu, setelah Amarta menekan tombol 'play', cepat-cepat dia berikan pada Gino.

Take My HandCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang