Awas typo!
Enjoy guys~
-•||•||•||•-
Setelah sampai di tempat parkir, barulah Graville benar-benar sadar bahwa waktu memang secepat itu berjalan.
Kegelapan menyelimuti langit, namun tidak tertarik merengkuh bulan.
Dan ketika angin malam membelai pipinya, Graville tanpa sadar menghembuskan napas panjang. Ketegangan yang terasa mengikat seluruh tubuhnya menghilang begitu mereka menjauh dari gedung sekolah.
Berperilaku seperti Marionette yang terputus dari talinya, tubuh gagak kecil itu lantas meluruh, membiarkan dirinya bertumpu sepenuhnya pada Amarta.
"Langsung pulang aja." Gumam Graville ketika dia didudukkan ke jok motor milik Amarta.
Matanya mengerjap lambat, Graville ingin cepat melompat ke kasur dan tidur. Sungguh, setelah melewati banyak kejadian hari ini, dia sangat kelelahan. Dan tidak ada hal yang paling Graville inginkan saat ini selain bersembunyi di bawah selimut hangat.
Beruntung, Amarta cukup pengertian untuk tidak protes. Pemuda itu menyadari keadaan Graville, dan setelah memastikan tidak ada gurat kesakitan di wajah imut kakaknya, Amarta setuju sehingga kini tujuannya adalah rumahnya.
Ya. Bukan mengantar Gaville kembali. Amarta berencana untuk membawa Graville ke kediaman mereka, rumah Gaville sebenarnya sebelum peristiwa pahit itu terjadi.
"Kalian hati-hati pulangnya. Dan Arta, jangan ngebut. El juga, jangan sampe tertidur di jalan. Ngerti, kalian berdua?" Tanya Patra sambil memandang tegas dua bersaudara yang sama-sama lelah itu.
Amarta mengangguk sambil bergumam, sementara Graville yang pipinya tergencet punggung Amarta hanya mengangkat jempol sebelum melambaikan tangannya pelan,
"Dadah Patra, Sagara, Al, Will, Vier .." Patra dan Sagara sontak terkekeh gemas mendengarnya. Kesadaran sudah diujung tanduk, sempat-sempatnya pemuda kecil itu menyebut satu persatu nama mereka.
Tapi tak urung, mereka berdua membalas lambaian tangan Graville, "dadah El." Ucap mereka bersama.
Di samping Patra, Alaric melangkah lebih dekat hanya untuk mengusap surai hitam Graville.
"Hati-hati."
"Dasar bocil." Ejek Vier dari tempat motornya terparkir. Sementara Will hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
Bunyi motor Amarta semakin pelan hingga tak terdengar seiring sosok mereka menghilang.
Para pemuda yang tersisa saling memandang, suara jangkrik terdengar mengisi keheningan aneh diantara mereka.
Sampai akhirnya Sagara memutuskan untuk mengakhiri suasana canggung itu,
"Woy," panggilnya pada Vier dan Will, "bawa nih, cewek lo. Tangan gue pegel anying." Ucap pemuda itu kesal. Entah lupa atau cuma pura-pura, Sagara tetap kesal karena menjadi relawan yang harus membawa gadis itu.
Sial, dia kemudian bertanya-tanya pada diri sendiri, mengapa dia mau membawa beban di kedua tangannya ini sejak awal? Sagara harus melawan keinginannya untuk membuang gadis itu jauh-jauh.
Sabar, sabar Sagara. Kamu baik, pencitraan dikit, oke?
"O-oh," wah, Sagara tersenyum, berani sekali entitas ini bertingkah seperti orang saat sadar dari hipnotis. Hey, kemana jelmaan monyet tadi, yang berlagak seolah dia adalah MC yang tengah melawan dunia demi heroine tercinta?
Vier, monyet yang dimaksud, berdehem canggung sebelum menyenggol bahu Will,
"Lo aja ya, Will?"
°•°
KAMU SEDANG MEMBACA
Take My Hand
HorrorGraville bisa melihat apa yang semesta sembunyikan. Itu bukan keinginannya. Graville merupakan anak tengah dari tiga bersaudara. namun semua saudaranya membencinya atas peristiwa di masa lalu. itu juga bukan keinginannya. tapi, hei, siapa bilang Gra...
