[]1.9 : Saksi Bisu Kebenaran

1.5K 193 17
                                        

Waspada typo!
Banyak umpatan!
Narasi panjang!

-•||•||•||•-

Marah.

Sudah lama dia tidak merasakan perasaan tidak nyaman itu. Terakhir Graville marah, dalam artian, benar-benar marah dan bukan merajuk, adalah ketika suatu keadaan yang melibatkan adiknya, Amarta.

Mereka masih dalam fase pra sekolah waktu itu. Semuanya berjalan baik sebelum pada suatu pagi di taman, Graville kecil menyaksikan seorang anak asing sepantarannya sedang menendang-nendang anak lain sambil tertawa yang ternyata, objek tendangan itu adalah Amarta.

Saat itulah, Graville kecil merasakannya untuk pertama kali. Panas bergejolak dalam dada, sementara otaknya serasa mendidih. Graville kecil memandang pengganggu yang nampak gembira melukai adiknya, membayangkan secarik kertas yang bisa dengan mudah diremas, dirobek, dihancurkan.

Maka, dibawah bayang-bayang tersebut, kaki kecilnya melangkah.

°•°

Graville memandang kosong ke depan, tepat kekacauan itu terjadi.

Empat orang, tiga pemuda dan satu gadis. Satu di antara tiga pemuda itu tak lain adalah Patra yang menyusut di dinding dengan beberapa memar ungu terlukis di wajahnya. Juga, bibirnya berdarah.

Kemudian, obsidian Graville bergeser. Melihat pelaku-pelaku yang kini juga tengah menatapnya- tidak, maksudnya, kedatangannya dan Sagara.

Obsidian itu, entah disadari atau tidak, merupakan representasi sempurna dari jurang gelap yang dalam.

Sudah lama sejak terakhir kali emosi destruktif ini mencakar hatinya.

"LO APAIN TEMEN GUE, BANGSAT!!" Tidak perlu menoleh untuk mendapati betapa marahnya Sagara.

Pemuda itu beringsut mendekat dengan langkah cepat, sama sekali tidak memberi kesempatan empat pemuda itu untuk waspada, ketika satu bogeman melayang ke pipi si penanya.

"Jawab, sialan!"

Bukan seperti yang diharapkan, pemuda yang kena tonjok itu terkekeh, "heh, jadi lo temennya dia?" Dia lalu menatap rendah sosok Patra yang terkulai, "Lo liat? ITU KARENA DIA MAU PERKOSA CIA! TEMEN LO TUH BRENGSEK MENJIJIKKAN." Orang itu menunjuk ke belakang.

Sagara mengikuti arah tunjuk, dan baru menyadari bahwa target yang menjadi alasan kedatangan mereka, sedang menangis sesenggukan seakan tidak ada hari esok. Keadaan gadis itu, jika dilihat juga terbilang menyedihkan.

Kain seragamnya robek sana-sini, rambutnya acak-acakan serta wajah merah sembab yang dihiasi jejak telapak tangan, kontras dengan kulitnya yang putih. Seperti bekas tamparan.

"Hiks, d-dia ... dia sakitin C-Cia hiks- kak Will, ta-takut ... Cia takut ..." Gadis itu membenamkan wajahnya di dada pemuda yang dipanggil Will, tubuhnya gemetar.

Sangat meyakinkan, sehingga Sagara harus menggertakkan giginya.

"Mana buktinya?" Pertanyaan itu diiringi dengan suara menggeram yang tertahan.

"Bukti?! Kondisinya udah cukup jadi bukti, mau bukti apa lagi, hah?!!" Pemuda pertama menyahut penuh amarah.

"CCTV BODOH!!" Sagara tidak tahan lagi. Dorongan untuk menghancurkan wajah orang-orang ini, harus tetap dia tahan hanya karena satu alasan.

"Alah! Gak usah ngelak kalo temen Lo itu emang pemerkosa!"

Bugh!

Sagara menerima kepalan tangan mentah, membuatnya tertoleh ke samping namun tidak sampai membuat dirinya jatuh.

Take My HandCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang