[]2.2 : Akhir Bukanlah Akhir

1.3K 143 6
                                        

Baca satu bab sebelumnya kalau lupa alur. Alasan lainnya biar lama bacanya, hwehweheheh.

Waspada typo(s)!
Happy reading ^^

—•||•||•||•—

Amarta mengepalkan tangannya begitu kuat hingga kuku-kukunya menorehkan bekas di telapak tangannya. Mengatakan bahwa dia khawatir adalah lelucon, Amarta sangat khawatir sampai-sampai membenci dirinya sendiri karena merasa tidak berguna. Kakaknya, separuh jiwanya, tengah muntah darah di sana sementara di sini dia hanya bisa berdiri dan melihat.

"ARGGHH!!!" Amarta menggeram frustasi, kepalan tangannya menghantam penghalang di depannya dengan sia-sia. Begitulah pikirnya, ketika suara retakan menusuk gendang telinganya.

Semuanya menyaksikan bagaimana penghalang yang awalnya kokoh seperti besi kini retak, dan retakan itu menyebar dengan cepat ke segala ruang, kemudian-

PYAR!

Pecah lalu hilang tanpa jejak.

Melihat sudah tidak ada lagi yang menghalangi jalannya, Amarta bergegas lari mendekat ke arah Graville.

"Ile!" Amarta sentuh pipi Graville, "ayo ke rumah sakit!" Graville yang memang sudah tidak muntah darah, hanya bisa mengangguk dan membiarkan adiknya menggendongnya di depan.

Mereka baru mulai melangkah menuju pintu, ketika tiba-tiba pintu tersebut didobrak dari luar.

BRAK!

"ASTAGA!!"

"BABI BANGSAT!"

Semua mata tertuju ke depan, tepatnya ke arah pelaku yang dengan tenang berjalan masuk.

Patra langsung mengenali pelaku itu, lalu tidak segan untuk mengumpat,

"Alaric babi! Ngagetin aja, su!"

Tak!

"Awh!" Ringis Patra sebelum melotot ke arah Alaric yang baru saja menyentil bibirnya. Seolah bibirnya yang robek tak cukup membuatnya menderita, kulkas berjalan ini malah menambahkannya. Fak lah!

Mengabaikan tatapan tajam dari Patra, Alaric dengan tenang menggeser atensinya pada Amarta–tidak, lebih tepatnya pemuda kecil yang digendong Amarta. Sepasang iris jingga itu menggelap, bersamaan dengan ekspresinya yang mengeras membuat penampilan Alaric lebih menyeramkan dari biasanya.

Semua orang disana merasakan bulu kuduk mereka berdiri. Vier tidak bisa menahan dirinya untuk tidak gemetar, tangannya refleks mencengkram lengan Will.

'mukanya serem! Will ... mau pulang!' satu rengekan kecil tanpa sadar keluar dari bibir Vier. Yang mana hal itu langsung memecah keheningan Alaric sehingga perhatiannya kini beralih padanya.

Mampus.

Bertatapan dengan mata berwarna senja menawan itu, membuat Vier seketika mundur dan bersembunyi dibalik punggung Will.

Ngomong-ngomong tentang Will, beraninya pemuda itu terkekeh?

Dengan kekesalan dan sedikit ketakutan yang belum sirna, Vier menampar punggung berlapiskan kain seragam di depannya.

"Diem gak, lo!" Vier berbisik lirih sambil cemberut kecil.

Segala perubahan ekspresi di wajah Vier tak luput dari mata elang Vier. Di bawah perhatian semua orang kecuali Vier dan Ile yang memejamkan mata memilih untuk mengabaikan semuanya, Alaric menyeringai.

Itu tipis, namun tetap ada.

Tidak ada yang tau maksud senyuman itu, selain Alaric sendiri. Jadi yang bisa dilakukan Will hanyalah meningkatkan kewaspadaannya. Baginya, Alaric begitu tidak bisa ditebak.

Take My HandCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang