[]2.5 : Apakah Imut Itu Sebuah Gen?

1.1K 100 6
                                        

Selamat menikmati, pembaca tercinta~

-•||•||•||•-

Sekarang, mereka tengah berkumpul di ruang tamu kediaman Lucian. Graville duduk di sofa tunggal, di bawahnya, ada Amarta yang terlihat terhibur sekali dengan tingkah kakak sulungnya.

Ngomong-ngomong, masa hukuman Gino telah berakhir sejak kedatangan tamu-tamu yang tak terduga ini. Gino bersyukur sekaligus malu setengah mati, menyadari bahwa dia menangis di depan orang asing. Terlebih mereka adalah teman adiknya. Lebih buruk lagi, mereka menertawakannya!

Hal pertama yang terpikir di benak Gino begitu Graville membebaskannya adalah lari menjauh dari mereka, mungkin berdiam diri di ruang kerjanya. Namun, saat Gino hendak menuju tangga, suara Amarta memanggil,

"Kak, ada coklat banyak nih. Mau, nggak?" Sontak, langkah Gino terhenti. Secepat itu pula kepalanya menoleh,

"Mau." Jawabnya tenang. Gino mulai berjalan mendekat dengan wajah yang senantiasa datar. Namun, binar di matanya yang sejelas sinar matahari tidak bisa membohongi siapapun yang ada di sana.

Rupanya, ada satu hal penting yang tidak banyak orang tau tentang sosok Giorgino Lucian. Dibalik image-nya sebagai sosok pemimpin yang terkenal tegas dan berwibawa, tersembunyi sisi yang hanya keluarganya yang tau.

Itu adalah sosok Gino si maniak coklat.

Gino memiliki perut yang mampu menampung semua coklat yang dia makan setiap hari, bahkan ketika perutnya sedang sakit. Dari dulu hingga sekarang Gino seringkali bolak-balik mengunjungi dokter gigi, namun kata 'jera' seolah tidak pernah ada dalam dirinya.

Amarta maupun Graville kompak menyunggingkan seringai mereka.

Pada saat ini, sulung Lucian itu sudah duduk anteng di atas karpet, di samping Amarta. Gino, meski tertutup oleh wajah datarnya, semakin gembira kala sebungkus coklat batang disodorkan oleh Amarta padanya. Lantas, Gino tanpa sungkan menerima coklat itu dan langsung membuka kemasannya.

Benar-benar melupakan perasaan malu yang hadir beberapa menit lalu.

Sampai,

"Oh, jadi ini El, orang yang udah nyakitin kamu, hm?" Secepat pertanyaan itu terlontar, secepat itu pula suhu di sekeliling mereka berubah drastis.

Semua orang memiliki reaksinya sendiri.

Patra memasang postur santai, sambil sudut bibirnya berkedut.

Amarta hanya diam dan menunduk dalam, dengan posisinya sekarang, tak ada yang tau ekspresi apa yang dibuat pemuda itu. Tapi, gemetar pada bahunya seolah mengatakan segalanya.

Reaksi Gino adalah yang paling kentara. Manis coklat yang memanjakan lidahnya tiba-tiba terasa pahit, tidak enak. Membuat mulutnya seketika berhenti mengunyah, dan karena Gino tadi memasukkan coklat ke dalam mulutnya dalam jumlah banyak, pipinya jadi menggembung.

Diingatkan kembali akan penyesalannya, raut cerah di wajah tampan itu bergeser menjadi mendung. Matanya kembali memanas dan bibirnya bergetar, dorongan untuk menangis membuat dadanya sedikit sesak. Akibatnya, Gino tidak mengatakan apapun ketika dirinya cepat-cepat membenamkan wajahnya ke perut Graville yang duduk di belakangnya.

"Saga ..." Suara Graville penuh dengan teguran, sembari memandang tajam pelaku yang tampak sama sekali tidak bersalah.

Malah, Sagara menanggapinya dengan satu tawa menyebalkan. Atensi mata ocean itu tak lepas dari pemandangan menarik di depannya. sagara kemudian terkekeh,

'ah, siapa sangka nih orang bisa gemesin kayak gini.'

Sementara itu, Patra menatap bolak-balik Amarta yang menangis diam-diam dan Gino yang juga menangis di perut Graville. Ingatannya langsung terseret ke masa lalu, di mana Graville menangis di pangkuannya.

Take My HandCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang