Fluffy di mana-mana (人*'∀`)。*゚+
Alangkah baiknya sebelum baca, vote doeloe ( '◡‿ゝ◡')
Enjoy!
-•||•||•||•-
"Baiklah, sampai disini pembahasan hari ini. Tugas kalian adalah mengerjakan halaman tiga puluh lima sampai tiga puluh delapan, saya ingin besok buku sudah terkumpul di meja kantor saya." Setelah mengatakan itu, sang guru berjalan keluar. Bertepatan dengan bel istirahat berbunyi.
Banyak gerutuan bersahutan dari ujung depan hingga belakang. Namun, yang menurut mereka kabar buruk itu tidak menyurutkan asa untuk melakukan rutinitas menyenangkan perut mereka. Segera, seluruh kelas membentuk lautan manusia, sebelum berpencar ke tujuan masing-masing.
Terkecuali dua orang ini.
"Ayo, El! Lo belum makan."
"Gak mau, males. Tidur aja." Sagara menghela napas untuk yang ketiga kalinya. Ini sudah lima menit, tapi Sagara sama sekali tidak merasakan niat Graville untuk bangun dari dua kursi yang dijadikannya sebagai tempat tidur.
"Gue bawain deh." Sagara memutuskan sambil beranjak ingin keluar, namun tidak. Graville lebih dulu menahan tangannya.
"Gak mau~ gue gak laper, Saga ..." Rengek Graville, benar-benar merengek seperti anak kecil-yang sangat jarang-dengan bibir mungil itu melengkung ke bawah dan sepasang obsidian sayu berkaca-kaca.
Sring!
Ugh, Sagara lantas meremat dadanya. Ilegal! Tampilan itu ilegal! Sagara tidak bisa, dia bisa dan rela mati jika pemandangan paling menggemaskan di dunia ini adalah hal terakhir yang dia saksikan.
Sagara tidak habis pikir dengan ningen-ningen yang tega membuat adiknya yang imut menggemaskan ini trauma.
Mereka pasti iblis! Sagara berjanji akan melindungi Graville dari dunia beserta para penghuninya yang jahat.
Puas dengan dirinya sendiri, Sagara kembali memfokuskan perhatiannya pada sosok kecil yang masih nyaman berbaring miring, sudah setengah tertidur. Tidak ada pilihan lain, Sagara kemudian mengangkat Graville dan menggendongnya dengan mudah.
Graville yang tidak menduga aksi tiba-tiba Sagara, terkaget dan refleks melingkarkan lengan setipis lidinya pada leher pemuda lain, kakinya juga turut melingkari pinggang Sagara.
Selanjutnya, Graville dengan kesal memukul punggung lebar nan kokoh Sagara, "Saganjing! Kaget asu!" Bocah itu melotot, yang justru menuai sentilan di bibir moengil nan seksinya.
Graville mengaduh seraya mengusap bibirnya.
"Mau mulutnya gue cekokin brokoli, hm?" Ancaman begitu ringan terlontar, membuat Graville semakin kesal, namun dibarengi dengan takut. Dia menggeleng brutal, air mukanya memelas, sementara matanya memanas dan berembun ingin menumpahkan muatannya.
Tidak banyak hal yang dibenci Graville di dunia ini, terlebih soal makanan. Dia bukan pemilih, namun, bahkan pemakan segalanya juga memiliki kebencian terhadap sesuatu yang tidak disukainya.
Graville juga begitu. Dia benci brokoli, ralat itu. Dia sangat membenci sayuran berbentuk pohon seukuran ruas jari kelingking itu. Jika Graville harus memilih antara cabai dan brokoli, dia pasti akan langsung mengambil pilihan pertama tanpa pikir panjang.
Ya, sebenci itu dirinya dengan brokoli. Sensasi ketika tekstur brokoli menyentuh lidahnya membuatnya merinding tembus sampai tulang.
"J-jahat ..." Graville berbisik. Suaranya terdengar serak, desakan tak kasat mata mendorong matanya untuk berkedip.
KAMU SEDANG MEMBACA
Take My Hand
HorrorGraville bisa melihat apa yang semesta sembunyikan. Itu bukan keinginannya. Graville merupakan anak tengah dari tiga bersaudara. namun semua saudaranya membencinya atas peristiwa di masa lalu. itu juga bukan keinginannya. tapi, hei, siapa bilang Gra...
