[]1.5 : Keinginan Kecil

2.1K 233 13
                                        

Waspada typo(s), enjoy!

-•|•||•||•-

Terhitung sudah empat hari berlalu sejak kejadian di cafe waktu itu, dan hingga kini, siklus hidup Graville berjalan seperti biasa. Kecuali ...

Kehidupan tentramnya yang selalu di usik oleh entitas-entitas menyebalkan di sekelilingnya.

Sebenarnya, gangguan dalam mencapai sebuah impian bukanlah hal baru, masalahnya, gangguannya kali ini berada pada taraf satu tingkat lebih menjengkelkan dari biasanya.

Biasanya, Sagara lah entitas itu. Tapi sekarang malah bertambah banyak. Makhluk-makhluk jelek yang hanya bisa dilihat olehnya tiba-tiba datang di suatu hari yang panas, hendak menerkam dirinya.

Apa-apaan. Sudah jelek, gak diundang, datang-datang mau nyekek pula. Bagaimana Graville tidak kesal? Makanya, Graville yang saat itu berada di kelas yang kondisinya memang panas karena AC ruangan itu mati, ditambah pelajaran matematika yang sedang berlangsung, langsung menciptakan barier transparan mengelilingi dirinya.

Efek yang diinginkan Graville terjadi tidak lama kemudian. Makhluk jelek itu menjerit kala tangan kotornya menyentuh dinding transparan itu, sebelum tiba-tiba hangus dan hancur menyisakan debu yang kemudian menghilang di udara.

Graville, tanpa mengalihkan pandangannya pada coretan angka-angka di papan tulis, mendengus puas, "humph. Dasar lalat pengganggu."

Gumaman itu rupanya didengar oleh teman sebangku Graville, pemuda menyebalkan bernama Sagara.

Sagara menoleh, "lalat? Mana ada lalat di sini." Iris biru pemuda itu bergulir sana-sini.

Graville melirik dari ekor matanya, "ada, lalatnya besar, dan bisa bicara."

"Hah? Besar? Bisa bicara?" Sagara, mungkin karena lelah mendalami perhitungan rumus di depan sana, merenung dalam hati sambil memikirkan jenis lalat apa yang baru saja disebutkan Graville.

Ngomong-ngomong, ekspresi bingung di wajah Sagara agak menghibur. Sudut kanan bibir Graville terangkat sedikit.

"Ya. Gue liat lalatnya masih ada, dan sedang bicara sama gue," Graville merasakan kepuasan kecil meraup hatinya melihat raut terhina pemuda di sebelahnya.

Meskipun perasaan itu tidak lama sebelum berganti kesal saat Sagara mulai menganiaya rambut dan juga pipinya.

Pokoknya, kembali ke masa sekarang.

"Ayo, El. Makan sedikit, baru boleh tidur."

"Ish! Gue gak laper, Saga! Gue ngantuk, pengen tidur!" Tersangka bernama Sagara ini mengapa selalu menyita waktu tidurnya yang singkat? Graville juga sebenarnya lapar, hanya saja kelelahan yang menerjang tubuhnya membuatnya malas untuk sekedar mengunyah makanan.

Kampret nya, di sela kebohongan kecil itu, perut Graville sama sekali tidak bisa diajak kompromi.

"Tuh, kan! Ke kantin sekarang. Gue gendong," tuding Sagara begitu telinganya menangkap gemuruh yang berasal dari perut adik angkatnya. Dia lantas menggeleng heran, susah sekali adiknya ini kalau diajak makan. Tapi kalau sudah makan, semuanya pun dilahap.

Graville menahan tangan yang sudah ancang-ancang menggendong dirinya, dan berkata, "gue mau ke toilet," kali ini dia jujur. Graville merasa burung kecilnya tengah menahan tangis sekarang.

Alis Sagara terangkat sebelah, "gue anter." Yang seketika mengundang decakan dari Graville.

"Gak perlu, lo ke kantin aja. Nanti gue langsung ke sana." Tanpa menunggu jawaban, gagak kecil lari terbirit-birit keluar kelas. Meninggalkan Sagara yang kemudian ikut keluar sambil menghela napas pasrah.

Take My HandCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang