[]1.6 : Sudah Lama, Adik

2.3K 235 19
                                        

Warning!
Narasi panjang, awas bosan.

Enjoy!

-•||•||•||•-

Langit pada Minggu pagi ini sedang mendung. Meski begitu, inilah saat dimana burung-burung menari di angkasa sembari kicauannya yang bergema melalui hembusan angin menciptakan suasana tenang dan damai.

Waktu yang terus bergulir sama sekali tidak membuat Graville terganggu dalam mengarungi kedamaiannya di sebuah mimpi. Mata itu senantiasa terpejam, dan bibir cherry mungilnya tersenyum.

Graville sangat menikmati tidurnya. Tidak peduli jika jarum jam kini telah menunjuk pada angka sepuluh.

Tidak ada sekolah, tidak ada bekerja. Hanya tidur, makan, dan bersantai.

Betapa nikmatnya semua itu.

Graville tidak akan menukar waktu emasnya yang langka dengan apapun di dunia ini.

Niatnya, sih. Sebelum,

Dor. Dor. Dor!

"EL! ABANG TAMPANMU DATANG, NIH! BUKAIN, DONG!!"

Berisik suara itu menusuk telinga Graville. Sementara matanya masih enggan bergerak, keningnya berkerut. Diambilnya selimut yang tergantung di tepi kasurnya, kemudian menggunakan selimut itu untuk menutupi seluruh tubuhnya.

"BABY EL! KELUAR YOK, KITA JALAN-JALAN! JANGAN JADI KEBO DI MINGGU PAGI YANG CERAH INI~ ABANG TRAKTIR, DEH!"

Sialan, Graville tidak tahan. Dia bangun dengan kekesalan yang memuncak, iris obsidian-nya ikut mendung seperti cuaca hari ini.

Graville berjalan sambil menghentakkan kakinya menuju pintu, bersiap menendang bajingan yang mengganggu waktunya berkencan dengan bantal dan guling.

Cklek

Bugh!

"AWW!!" Seulas senyum lebar di bibir Graville mewakilkan seberapa besar rasa puasnya.

"Yang di tengah juga mau ditendang?" Tanyanya kemudian, masih tersenyum persis malaikat baik hati.

Kakinya sudah ancang-ancang ketika pengganggu itu, Sagara, menahan pergerakan Graville dengan panik.

"T-tunggu! M-maaf El. Maafin abang, ya?" Sagara praktis memohon. Dia tau kalau adiknya ini sungguh akan melakukan itu. Tidak bisa dibiarkan, adiknya yang lain dalam bahaya.

Di sisi lain, gagak kecil mendengus. Kantuknya hilang bersama rasa puasnya, dia berdecih, "mau apa?"

"Ayo ke Mall!"

"Gak." Graville langsung menolak. Berani sekali bajingan ini mengganggu kedamaiannya hanya untuk mengajaknya ke tempat ramai macam itu.

Namun, pada saat inilah negoisasi dibuat.

"Gue traktir kopi. Gimana?"

"..." Bocah itu tidak menjawab, namun kakinya bergerak mundur.

"Kopi sama coklat, deh."

Berhenti.

Hm, menarik. Tapi tidak cukup berhasil merayu minat Graville, jadi dia kembali bergerak mundur hingga mencapai ambang pintu.

Melihatnya, Sagara hanya bisa tersenyum paksa.

"Oke! Kopi jumbo dan dua coklat."

"Deal." Graville menyeringai. Lalu berbalik melangkah ringan ke kamar.

Menyisakan Sagara yang ikut masuk ketika helaan napas pasrah keluar dari bibirnya.

Bukannya dia tidak mampu, atau khawatir uangnya akan habis. Sagara hanya takut perut Graville akan sakit jika menelan semua itu.

Take My HandCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang