[]1.7 : Aku Tidak Pernah Membencimu

2K 230 10
                                        

Waspada typo(s)!
Enjoy~

—•||•||•||•—

Sial, sial, sial!

Setiap saraf di tubuhnya menegang. Manik bulat gelap Graville bergetar bagai karang yang diterjang ombak, sepasang obsidian itu penuh emosi yang berputar menyebabkan kepalanya menjadi sedikit pusing.

"K-kak ... tolong percaya sama Ile, bukan Ile yang m-membunuh ayah dan bunda!" Graville kecil terisak-isak di depan pintu ruang operasi.

Jari-jari kecil menyentuh lengan kakak pertama yang berdiri murka dihadapannya, namun,

Plak!

"Agh ..." Graville ditampar sampai jatuh tersungkur.

"Ya! Kalo bukan karena truk dan penyakit sialan lo itu, mereka gak akan pergi kayak sekarang! Dasar menjijikkan. Gak sudi gue punya adek sial kayak lo!" Setelah mengatakan hal-hal kejam itu, Gino masuk ke ruang operasi tempat kedua orang tuanya terbujur kaku.

Graville yang baru berusia delapan tahun, terduduk mengenaskan dengan wajah merah karena kebanyakan menangis, serta memar samar di pipinya . Tamparan yang diberikan sang kakak tidak main-main. Graville merasakan sakit dimana-mana.

Kepalanya, pipinya, bahkan hatinya.

"Hiks, b-bukan ... salah Ile, k-kakak ..."

Mengapa?

Graville berkata jujur tentang penyebab kematian ayah dan bunda. Tapi mengapa kakaknya justru menyalahkannya?

Apa— apa yang salah?

["Kalo bukan karena truk dan penyakit sialan lo itu, ayah dan bunda gak akan pergi kayak sekarang!"]

Mungkinkah karena ... penyakit ini?

Tangan Graville menyentuh satu matanya.

Apakah jika dia tidak memiliki 'hal' ini, jika dia tidak bisa melihat yang tidak normal, ayah dan bundanya tidak akan meninggalkannya?

Punggung ringkih Graville semakin meringkuk seiring tangis pilu nan lirih bergema.

Itu berarti ... apa yang dikatakan kakaknya, itu benar.

Mungkin, Graville memanglah penyebab ayah dan bunda meninggal.

"Ugh, s-sakit," kepala Graville seperti baru saja ditimpa besi. Bocah kecil itu mendongak, matanya berkaca-kaca serta bibirnya yang terus mengeluhkan ringisan.

Penglihatan Graville kecil terasa kabur, semakin memudar visinya, semakin sakit pula kepalanya.

Pada detik-detik kesadarannya mulai menjauh, ketika Graville jatuh semakin dalam, dia melihat wajah kabur adiknya.

Wajah muda yang selalu ceria dan menggemaskan, kini tampak begitu dingin tanpa emosi.

Menyeramkan. Dan wajah itu tertuju padanya.

"Ile ... s-sadarlah," saat itulah, Graville tersentak hingga spontan menepis tangan yang menyentuh pipinya.

Jantung Graville berdetak gila. Wajah menyeramkan yang pernah menatapnya dulu, tumpang tindih dengan wajah yang saat ini memandangnya penuh kekhawatiran.

"A-aku ..." Seperti ada batu yang menyumbat tenggorokannya, "aku—."

Grep!

Nafas Graville tersendat, sementara tubuhnya benar-benar tegang ketika sepasang lengan melingkari bahunya, membawa setengah wajahnya menubruk dada yang lain.

Take My HandCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang