Taehun memandang sendu uang tabungannya. Setelah Kyungjun selesai mengompres bekas tamparan dari ayah mereka, Taehun bukannya beristirahat malah membongkar celengan yang selalu ia isi sejak dua tahun terakhir.
Helaan nafas terdengar. Taehun benar-benar memikirkan bagaimana ia ke depannya. Uang tabungannya hanya bisa menghidupinya beberapa bulan saja, itupun tidak termasuk uang bulanan sekolah.
Sekarang sudah pukul 11 malam, tak terasa Taehun sudah memikirkan hal ini selama dua jam.
"Eomma, aku rasa ini adalah jalan satu-satunya tanpa harus putus sekolah. Aku hanya tak mau membuatmu kecewa."
Taehun mulai membaringkan dirinya di kasur. Ia sangat bersyukur Jooyuk masih mengizinkannya tinggal di tempat senyaman ini, meski suasananya berbanding terbalik.
Perlahan mata itu terpejam, meskipun begitu pikirannya tak bertenti, ia terus memikirkan tempat-tempat yang harus ia kunjungi terlebih dahulu. Ia akan mencari kerja part time mulai besok.
••••••
Prang!
Seketika Taehun terbangun dari tidurnya, suara benda terjatuh membuatnya sangat terkejut.
Taehun melirik jam dinding yang berada di kamarnya, jam baru menunjukan pukul satu pagi.
Karena rasa penasaran, Taehun bangkit dan mencari sumber dari suara itu.
Langkahnya terhenti di ujung tangga, matanya membulat kala melihat apa yang terjadi di bawah sana.
"KYUNGJUN HYUNG!!"
Taehun lari menuruni tangga tanpa memikirkan hal lain selain Kyungjun. Jantungnya berdegup kencang melihat Kyungjun yang duduk tak berdaya seraya menutup telinga menggunakan tangannya.
Jooyuk menatap datar kedatangan Taehun yang langsung memeluk anak semata wayangnya, Kyungjun.
"Pergi, Choi Taehun. Pergi dari rumahku! Karena dirimu, anak-ku satu-satunya jadi pembangkang," ucap Jooyuk penuh penekanan.
"Tidak!" Kyungjun yang semula berada di pelukan Taehun seketika bangkit setelah mendengar kalimat yang diucapkan ayahnya sendiri. "Taehun tidak akan pergi dari sini, jika Appa ingin Taehun pergi, maka aku akan ikut dengannya."
Suara Kyungjun yang bergetar membuat Taehun seketika merasa bersalah. Kyungjun, laki-laki itu tengan melawan rasa trauma demi membela dirinya.
"Lihatlah! Ini semua karena dirimu!"
"Cukup, Appa!"
"Hyung, sudah." Taehun menarik tangan Kyungjun, ia tidak ingin pertengkaran antara seorang ayah dan anak ini semakin besar.
"Taehun, dia baru saja mengusirmu dari rumahmu sendiri! Dia-mengusir saudaraku satu-satunya," ucap Kyungjun melemah di akhir.
Taehun menggeleng kuat. "Jangan seperti ini, Hyung. Jangan melawan Appa hanya karena aku."
"Jika kau tidak ingin dia terus melawanku, kau tahu kan apa yang harus kau lakukan?" tanya Jooyuk.
Taehun mengangguk, ia paham apa yang Jooyuk maksud.
"Tidak! Taehun dengarkan aku, jangan pernah pergi dari sini jika kau masih ingin melihatku-"
"Apa yang kau katakan!"
Plak!
Kyungjun diam terkejut sebelum akhirnya berteriak murka. "Apa yang Appa lakukan?!"
Taehun menahan air matanya agar tidak jatuh. Ia sengaja menarik Kyungjun agar tidak terkena tamparan Jooyuk dan ternyata tamparan keras itu malah mengenai wajahnya. Rasanya sangat panas, tamparan kali ini lebih kuat dari yang kemarin ia dapatkan. Taehun bersyukur ia yang nendapatkan tamparan ini, bukan Kyungjun.
Kyungjun memandang Jooyuk penuh emosi. "Aku sangat malu mempunyai ayah sepertimu, Woo Jooyuk." Setelah mengatakan itu, Kyungjun menarik lengan Taehun agar ikut dengannya.
Sedangkan Jooyuk diam terpaku mendengar pertanyaan anak kandungnya sendiri.
"Kau malu mempunyai ayah seperti diriku, tapi apa kau tidak malu mempunyai ibu seperti dia, Kyungjun."
Jooyuk tertawa hambar. "Jiwoo-ya, sebenarnya apa tujuanmu? Apa yang kau inginkan? Hingga kau berhasil membuat anak-ku berada di pihakmu."
••••••
"Hyung, seharusnya tidak mengatakan itu di hadapan, Appa. Aku takut Hyung terluka."
Kyungjun menatap Taehun dengan air mata yang membendung di pelupuk matanya.
Keduanya kini tengah berada di balkon kamar Kyungjun.
"Dia pantas mendapatkan kata itu, dia manusia tak punya hati."
"Hyung, aku mohon jangan seperti ini. Jangan membuatku berat untuk pergi."
Kyungjun tersenyum miring. "Kau akan menuruti apa yang dia katakan?"
Taehun mengangguk.
"Meninggalkan aku seorang diri di sini? Taehun, kepergianmu dari rumah ini membuatku semakin benci Appa, kau tidak mau hal itu terjadi, kan?"
"Tapi Hyung-"
"Semua keputusan ada di tanganmu. Tapi ingat satu hal, jika kau pergi aku akan membencimu sakaligus Appa." Setelah mengatakan itu Kyungjun masuk ke dalam, meninggalkan Taehun sendirian.
Taehun menghela nafasnya kasar. Sebelumnya tak pernah terpikir ia akan berada di posisi ini.
"Eomma, aku harus bagaimana? Aku takut Kyungjun Hyung membenciku, tapi aku sejak awal memang tak mempunyai hak sedikitpun untuk tinggal di sini."
Taehun memejamkan matanya sejenak seraya menikmati angin malam yang dingin menerpa kulitnya.
"Aku sudah mendapatkan jawabannya, Eomma. Aku harap keputusanku ini adalah yang terbaik, maafkan aku, Eomma."
Kira-kira keputusan apa ya, yang Taehun ambil?
Stan The New Six!
KAMU SEDANG MEMBACA
Gomawo Hyung | TNX
Fanfiction"Mempunyai hubungan darah atau tidak, aku tidak peduli. Selamanya aku akan menganggapmu sebagai adik-ku." -Kyungjun. Start : 29 juni 2022 Publish : 20 oktober 2023
