Yeonjun banyak berterima kasih pada Kyungjun, laki-laki bermarga Woo itu telah mengizinkannya untuk melakukan tes DNA dengan Taehun.
Awalnya Kyungjun menolak keras, tapi setelah Yeonjun menjelaskannya dari awal hingga akhir dan tidak ada yang terlewat barang sedikit pun, Kyungjun akhirnya mengizinkannya.
Sungguh, Kyungjun masih kurang percaya dengan apa yang Yeonjun ceritakan. Jelas-jelas Kyungjun sangat ingat dengan cerita sang ibu ketika menemukan Taehun, dan bahkan dia melihat sendiri rekaman saat Taehun benar-benar diletakan begitu saja.
Hyunsoo dan Junhyeok yang berada di sana juga merasa ada keanehan di sini. Foto yang Yeonjun tunjukan memang mirip, tapi untuk ceritanya, mereka masih ragu.
"Jika Taehun dulu sempat diculik, tapi mengapa orang itu menelantarkan Taehun begitu saja, jarak rumah sakit tempat diculik dan ditemukan sangalah jauh. Apa yang diinginkan penculik itu? Menculik seorang bayi yang masih tak mempunyai harta lalu menelantarkannya, selain harta apa yang dia inginkan?"
Kyungjun memijat kepalanya. Ia benar-benar pusing memikirkan hal ini, ditambah saat melihat keadaan Taehun yang masih belum ada perkembangan.
Dengan rasa ragu, Junhyeok mendekati Kyungjun. Ditepuknya bahu yang kini tengah rapuh itu. "Hyung, aku ingin meminta maaf atas nama ibuku. Aku sendiri bahkan tak menyangka, seseorang yang selalu aku kagumi dan aku banggakan bisa berbuat seperti ini. Aku juga ingin meminta maaf atas namaku-"
"Tidak perlu."
Jawaban singkat Kyungjun membuat Junhyeok bungkam.
"Kau tidak perlu meminta maaf atas namamu ataupun ibumu. Yang pertama ini bukan salahmu, kedua harusnya ibumu sendiri yang meminta maaf, itu pun bukan padaku, tapi pada Taehun," lanjut Kyungjun.
••••••
"Argh! Sasaranku bukan dia!"
Juyook mengeram kesal, apa yang ia rencanakan tidak seperti yang diharapkan. Semuanya gagal.
Jiyoung menjadi saksi bisu kemarahan Juyook pada dirinya sendiri. Dalam hati ia tersenyum melihat Juyook se-prustasi ini.
"Tunggu saja waktunya, Woo Juyook."
Dengan nafas yang memburu Juyook melempar vas bunga yang berada di meja kerjanya. Ia kesal, kecewa dan benci pada dirinya sendiri.
"Choi Yeonjun, ini salahmu!"
Prang!
Apapun yang ada di hadapannya ia lempar ke sembarang arah.
Jiyoung yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Untuk apa kau menyalahkan anak itu? Dia sama sekali tidak bersalah, bahkan dia hampir jadi korban. Yang bersalah di sini adalah dirimu, kau sendiri yang menabraknya."
Juyook menggeleng, ia tidak ingin mendengar hal itu.km Ini fakta tapi Juyook membencinya.
"Jika anak itu tidak selamat, maka kau juga harus mati, Woo Juyook," batin Jiyoung.
Jiyoung tidak akan membiarkan ini semya begitu saja, Juyook sudah sangat keterlaluan. Mencoba mencelakai seseorang hanya karena membantah perintahnya.
Flashback*
Saat itu Jiyoung baru saja dari dapur di kediaman Woo. Dengan pintu ruang kerja yang sedikit terbuka Jiyoung dapat mendengar semuanya. Juyook, laki-laki itu tengah berbicara dengan Yeonjun melalui telepon.
"Choi Yeonjun, berani sekali kau mempekerjakan anak-ku!"
"Anakmu? Taehun bercerita kepadaku jika kau tidak pernah menganggapnya sebagai anak. Tuan Woo yang terhormat, aku tahu seluk beluk keluargamu. Bagaimana kau memperlakukan Taehun, bagaimana kau menyiksanya, aku tahu itu."
"Jangan merasa kau tahu segalanya, berhenti mempekerjakan Taehun, Choi Yeonjun! Jika kau terus membantah maka kau akan tahu akibatnya."
Flashback off*
••••••
Kyungjun mengerutkan keningnya heran. Ia baru saja pergi untuk mengurus administrasi, tapi semua biayanya sudah terlunasi. Kyungjun terus terdiam depan di ruang rawat Taehun, ia mencoba menebak siapa yang telah melunasinya. Ada dua nama yang berada di kepalanya saat ini, Yeonjun atau Sungjun.
"Kyungjun Hyung!"
Kyungjun terperanjat, ia mengusap dadanya setelah melihat siapa yang membuatnya terkejut itu.
"Hwi, kau membuatku terkejut," ucap Kyungjun.
Hwi, oknum yang sukses membuat Kyungjun terkejut itu tersenyum tanpa dosa. "Bukan salahku, lagi pula untuk apa kau melamun? Itu menyeramkan, apalagi di rumah sakit seperti ini. Oh iya, bagaimana keadaan Taehun Hyung?"
"Belum ada perubahan. Kau datang sendiri?"
Hwi mengangguk. "Junhyeok dan Hyunsoo Hyung bukankan baru saja pulang? Aku ingin mengajak Sungjun tapi dia sepertinya sedang sibuk. Panggilan dariku tidak aja yang terjawab."
Kyungjun mengangguk mengerti. "Dia pasti lelah, dia sama sekali tidak tidur saat menemaniku menjaga Taehun."
"Benarkah? Wah, pantas saja. Ah Hyung, kau juga pasti lelah. Pulanglah sebentar, kau juga harus istirahat. Selama kau di rumah aku siap menjaga Taehun Hyung." Entahlah, Hwi tidak mengerti mengapa ia mengucapkan hal ini. Dirinya, Taehun dan juga Kyungjun hanya mengenal nama satu sama lain, tapi hatinya terus mendorong untuk mengatakan ini.
"Aku tahu maksud baikmu, Hwi. Kau tidak perlu repot seperti ini, besok kau harus masuk sekolah seperti biasa. Ini bisa membuatmu lelah dan bisa mengganggu konsentrasimu besok pagi."
Hwi menggeleng, sebisa mungkin ia akan membuat Kyungjun pulang dan beristirahat tanpa gangguan meskipun itu hanya sebentar. "Jangan menolak, ini kesempatanmu. Istirahatlah sampai sore, saat Hyung kembali aku akan pulang dan itu tidak akan membuat salah satu dari kita kelelahan, bukan?"
Kyungjun mengangguk mengerti. Laki-laki bermarga Eun itu tengah memaksanya untuk pergi. "Baiklah, aku titipkan Taehun padamu, tolong jaga dia. Aku akan kembali sore nanti, jika terjadi sesuatu langsung hubungi aku."
"Hyung tenang saja, istirahatlah dengan nyaman. Taehun Hyung akan baik-baik saja bersamaku."
Siapa ya kira-kira yang lunasin?
Maaf ya lama, cegil Taehun ini lagi menjelma jadi manusia yang sedikit sibuk hehe...
KAMU SEDANG MEMBACA
Gomawo Hyung | TNX
Fanfiction"Mempunyai hubungan darah atau tidak, aku tidak peduli. Selamanya aku akan menganggapmu sebagai adik-ku." -Kyungjun. Start : 29 juni 2022 Publish : 20 oktober 2023
