TMH 15

182 12 1
                                        

Robert memandang Alex juga dia tau bagaimana perasaan Alex, dan dia menunggu respon Alex sebelum melanjutkan.

Alex menarik nafas nya berusaha untuk menenangkan diri dia tau kemana arah pembicaraan ini, tapi dia masih tetap butuh untuk Robert mengatakan padanya.

"Not temporary, " Ujar Alex memastikan, yg di beri anggukan setuju oleh Robert.

"Ketika aku melakukan pengecekan fisik aku menemukan beberapa lebam karena hantaman benda tumpul, dan itu menyebar dari punggung hingga kebawah tulang ekor, hal ini tidak di sadari lebih cepat karena sebelum Henry memasuki masa koma nya luka serius di kepala nya melemahkan hampir 90% gerak tubuh nya, karena benturan awal sepertinya terjadi di kepala bagian belakang dokter Albert yg membantu dalam pelaksanaan operasi, adalah yg melakukan penanganan pada cedera otak Henry, di mana selama masa koma cedera otaknya mengalami pemulihan yg cukup signifikan," Ujar Robert menjelaskan mengapa cedera tubuh Henry yg teredam baru di sadari sekarang.

"90% itu berarti hampir dari seluruh tubuh nya lumpuh, kenapa kau baru mengatakan ini pada ku sekarang, " Ujar Alex yg terkejut dengan apa yg di katakan Robert karena, pengecekan fisik selalu di lakukan sebelum operasi dan Alex tak tau sama sekali tentang hal ini.

"Alex tenang, kau tau benar bagaimana dokter Albert dia yg menetapkan syarat untuk tidak menginfokan hal ini padamu, karena dia tau betul bahwa kemungkinan besar kau akan memaksa untuk bergabung dalam proses operasi tapi kita semua sama sama tau bahwa itu adalah tidak mungkin, " Ujar Robert berusaha membuat Alex mengerti.

Tangan Alex terkepal nafasnya memburu dia berusaha untuk menahan dan mengatur nafasnya, hingga dia mencapai titik akhir nya di berbalik dan menunju tembok rumah sakit di belakang nya.

Di mana tentu saja tangan Alex langsung terluka dan terlihat bercak darah, menempel di tembok yg berwarna putih itu.

Robert hanya diam memperhatikan dia tau benar bagaimana perasaan Alex saat ini, dan di tak ingin memperkeruh keadaan mengingat mereka masih ada di wilayah rumah sakit sekarang.

Menarik nafas dan membuangnya Alex berusaha menenangkan diri, meredam amarah yg berusaha meledak itu dia adalah dokter dan ini adalah wilayah rumah sakit tempat dia bekerja dia harus bisa profesional dan mengontrol diri.

"Okey lanjut kan, " Ujar Alex ketika dia sudah merasa tenang dan dapat mengontrol dirinya itu, berbalik dan memandang Robert kembali.

"Head CT dan MRI sedang di lakukan untuk lebih memastikan diagnosa hasil lab juga sedang di proses untuk saat ini diagnosa yg di berikan masih belum pasti kita masih harus menunggu hasil nya keluar, " Ujar Robert melanjutkan sesuai yg di minta Alex.

"Benar ini masih belum pasti, kalau begitu bisa aku minta satu hal padamu, " Ujar Alex menatap serius pada Robert.

"Tentu apa itu? " Tanya Robert kemudian sembari memandang Alex yg terlihat masih berusaha untuk bersikap profesional walau dia tau benar bahwa kini pikiran dokter muda itu sedang berkecamuk.

"Penetapan diagnosa aku ingin ada di ruangan itu juga, " Ujar Alex menatap serius Robert, dia tau benar jika direktur mendengar hal ini beliau tidak akan senang.

Tapi Robert tak bisa untuk menolak Alex yg terlihat bertekad memandang dirinya, dimana jika dia berkata tidak Alex akan kemungkinan besar mendobrak masuk selama proses diagnosa.

"Okey aku akan membicarakan nya dengan dokter Albert, " Ujar Robert menyetujui keinginan Alex, yg di balas anggukan kepala kecil oleh dokter muda itu.

"Pergi temui suster jaga dan obati tangan mu, atau Henry akan khawatir melihat kau datang dengan tangan yg terluka itu, " Ujar Robert menepuk bahu Alex dua kali dan pergi dari hadapan pemuda itu.

Alex menarik nafas dan membuangnya dengan kasar dia jatuh terduduk bersandar pada tembok di lorong lantai 3 itu, sejenak menenangkan diri dari pikiran nya yg berkecamuk Alex pun kemudian bangkit untuk menemui suster jaga untuk mengobati tangan nya itu.

Yang kemudian dia langsung pergi keruangan kekasihnya itu di mana Henry, ternyata tengah tertidur itu berjalan mendekat Alex duduk di kursi dekat ranjang.

Meraih tangan kekasih nya dan mencium dengan mata yg terpejam, Henry yg hanya memejamkan mata dan tidak tidur pun membuka matanya lalu beralih menatap Alex.

Mengangkat tangan nya yg lain dia mengelus lembut rambut hitam kekasihnya, dan Alex pun mengangkat kepala nya memandang Henry lembut.

"Hey," Bisik Alex dengan senyuman yg lembut dan meneduhkan, dia menyematkan satu kecupan lagi di punggung tangan Henry.

"Hey," Balas Henry juga sama berbisik dan di barengi dengan senyuman nya, yg selalu dapat membuat Alex merasa kembali jatuh cinta itu.

Henry menatap Alex dengan senyum ketika dia menyadari tangan kanan Alex, kini tengah di balut oleh kain kasa.

Dia pun menarik tangan kekasihnya nya dan mengecek tangan itu, dan mengelus lembut tangan Alex yg di balut kasa.

"Apa yg terjadi? " Tanya Henry menatap mata Alex meminta penjelasan, Alex yg awalnya hanya diam oun kemudaan tersenyum dan menggeleng kecil.

"Itu bukan apa-apa hanya sedikit tergores, aku baik-baik saja, " Ujar Alex memberi tau Henry bahwa itu bukan lah luka yg serius, dan kekasihnya tak perlu untuk khawatir.

Henry awalnya ragu tapi melihat senyum Alex dia berusaha untuk percaya, mungkin benar yg di katakan Alex bahwa ini hanya goresan kecil.

"Okey, " Balas Henry berusaha mengerti dan tak memaksa Alex untuk menjelaskan, dia pun menarik tangan kekasih nya lembut dan membubuhkan dua kali kecupan ketangan yg di balut kasa itu.

Alex tersenyum lembut memandang sang kekasih lembut, berusaha sebaik mungkin untuk menyembunyikan perasaan hatinya yg tengah berkecamuk itu.

Percakapan yg di lakukan nya dengan Robert tadi benar-benar tak dapat untuk dia hilangkan dari ingatan, Henry yg melihat Alex tiba-tiba hanya diam pun mengerutkan alisnya bingung.

"Alex dear are you really alright? " Tanya Henry memastikan memandang wajah sang kekasih ragu, yg langsung di balas senyum oleh Alex dan kecupan di bibir nya.

"Yah baby of course I'm okay, why wouldn't I? " Ujar Alex membalas dengan senyuman yg di buat senatural dan selembut mungkin untuk kekasihnya itu.

"Okey then if you say so, " Balas Henry dengan anggukan kelapa menyetujui, mereka pun menghabiskan waktu dengan saling berbincang berbagai kecupan di tangan atau bibir dan pipi.

Dengan candaan yg di lontarkan masing-masing tertawa bersama, berusaha untuk menciptakan suasana terbaik yg bisa mereka rasakan sekarang bersama.

Berakhir dengan tidur saling memeluk di ranjang pasien Henry, dengan Alex yg memeluk Henry dari belakang dan Henry yg menumpukan sedikit kepala nya pada lengan kekasihnya itu.

Soon...

The Military Heart (End!?) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang